
Fiasco bergetar, dia tak dapat bergerak ketika berhadapan dengan suatu entitas yang sangat mendominasi...
Zirah yang berwarna hitam legam, Mata yang bersinar merah Ruby, Sisik yang sangat keras bagaikan Batu Adamantite, dan Sayap Hitam yang menutupi langit.
"Ini adalah Kaisar Naga Kuroryu? sungguh kekuatan yang hebat."
"Kau Berisik Manusia, sebentar lagi kau akan mati."
Vallen yang diambil alih oleh Emperor, mencengkam kepala Fiasco dan mengangkatnya.
Fiasco kemudian melihat lebih dalam ke arah mata Ruby itu.
Dia dapat melihat suatu Kehancuran, Kekuasaan, Kemurkaan dan yang paling mencengkam adalah dia melihat Berakhirnya Dunia.
"Ha ha ha Sungguh indah sangat indah... aku melihat kehancuran dan kekuatan tanpa batas di matamu wahai Kaisar."
"Diamlah kau tidak berhak mengetahui kejadian dibalik Mata ku ini."
Emperor kemudian meremas kepala Fiasco dan yang selanjutnya terjadi ialah suatu Keheningan.
Vallen yang berada di suatu tempat.
"Arrrg Badanku serasa melayang.. namun aku tak dapat melihat apapun, tempat ini sangat gelap... namun terasa hangat.."
Ada Suatu Cahaya..
"Cahaya apa ini.. rasanya nyaman sekali..."
Cahaya ini seakan menarik Vallen.
"Val.. Vallen.. kau sudah bangun?"
"Errhhmm Master Fafnir, dimana aku dan apa yang terjadi?
"Saat ini kamu ada di salah satu rumah di Sektor C, untuk apa yang terjadi selanjutnya aku akan jelaskan nanti, untuk saat ini kau harus istirahat dan jangan banyak gerak.. tubuhmu masih belum normal akibat beberapa tekanan Mana dalam dirimu."
"Baiklah Master Fafnir.. saya akan... ti...du..r"
Vallen Terlelap.
Fafnir kemudian keluar dan berjalan kaki menuju suatu lubang yang sangat besar seperti kawah yang baru terbentuk di dekat sebelah desa itu.
"Vallen... apakah ini semua ulahmu?"
"Tuan Fafnir?"
"Ohh Damian bagaimana kelanjutanya?"
"Tentang mayat yang ditemukan di Kawah itu... tim identifikasi kami sudah mengkonfirmasi bahwa mayat itu adalah Fiasco."
"Apa kamu yakin?"
"Sangat Yakin Tuan."
"Baiklah kalau begitu... dan bagaimana tentang perihal kawah yang terbentuk di sebelah sini.?"
"Itu... kami ada saksi mata dari salah satu penduduk di desa ini Tuan.."
"Hoohh jadi dimana dia?"
Fafnir dan Vallen menuju kediaman Saksi mata itu.
"Jadi ceritakan apa yang kau lihat."
"Pada saat itu saya sedang memetik buah dari kebun dan tiba2 ada 2 orang yang sedang berkelahi, salah satu dari mereka ada yang berubah wujud menjadi naga."
"Wujud naga?"
"Benar Tuan... dan setelah naga ini mengalahkan manusia itu dia kemudian seperti mengumpulkan suatu kekuaatan yang besar, sangking besarnya saya sampai kesulitan untuk berlari, setelah naga itu selesai mengumpulkan kekuatan, dia kemudian menoleh dan berbicara kepadaku.. Larilah dan cepat pergi."
"Sontak saya berlari disaat itu juga dan berlari sejauh mungkin.. pada saat itulah ledakan besar terjadi."
Pemuda itu masih merasa ketakutan hingga saat ini, dan Fafnir dan Damian memutuskan untuk keluar dan membahas beberapa hal.
"Tuan Fafnir ini hanyalah spekulasiku saja tetapi.. aku merasa yakin bahwa Vallen yang menyebabkan semua ini."
"Spekulasimu itu benar.. di dalam tubuh Vallen, adalah Reinkarnasi dari seekor Kaisar Naga Rivia, Kaisar diantara semua para Naga."
"Kaisar naga?"
"Hehm Kaisar Naga itu adalah seekor naga yang pernah membawa Petaka dan Bencana di dunia ini, dan saat ini Naga itu Bersemayam dalam diri Vallen, yah bisa dikatakan bahwa itu hanyalah sisa Fragment dari keseluruhan Fragment, namun sudah bisa membuat seorang manusia mempunyai ledakan energi seperti ini...."
"Tapi apakah anda yakin Tuan Fafnir?
"Tidak salah lagi... ketika dia masih bayi kedua orang tuanya memohon kepadaku untuk mensegel sebagian kekuatan dari bayi itu, dikarenakan jumlah mana yang besar dapat meledakkan bayi itu, dan ketika aku mensegel kekuatan itu aku merasakan perasaan yang sudah lama tak kurasakan."
"Dan apakah perasaan itu Tuan?"
"Itu adalah Perasaan yang sama seperti ketika aku sedang menghadap di depan Kaisar Naga itu."
"Sungguh tak dapat dipercaya... aku pernah melihat dalam catatan Kuno yang menuliskan bahwa pada saat itu Kaisar naga adalah sosok yang sangat dihormati dan disegani, hingga dia dibutakan oleh kekuasaan dan ingin menguasai dunia."
"Yahh catatan itu adalah hal yang nyata dan pernah terjadi di dunia ini."
"Sebenarnya apa yang sudah terjadi... singkatnya catatan itu hanya menuliskan rentetan peristiwa, tetapi tidak dalam format yang detail.?"
"Kau mau tahu kelanjutan dari catatan itu?"
"Heh.. apakah tuan mengetahuinya?"
"Yah tentu saja karna aku pernah hidup dalam era yang sama denganya di dunia ini."
###*FLASHBACK STORY*###
Pada saat itu kami para naga adalah sosok yang sangat diagungkan oleh manusia, mereka melayani kami bagaikan seorang dewa.
Kami hidup tentram dan damai, kehidupan naga dan manusia berjalan dengan tenang tanpa adanya perselisihan.
Namun...
"Immelda bagaimana dengan jadwal hari ini?"
"Baik tuan Fafnir, hari ini Sang Kaisar Naga yang baru memerintahkan kepada semua Naga yang menjadi pemimpin manusia untuk hadir dalam rapat yang diadakan di kekaisaran."
"Baiklah Immelda... oh aku dengar kamu akan segera menikah.. aku ucapkan selamat dan setelah aku pulang dari kekaisaran, kamu sudah tak perlu menjadi pelayan lagi di mansion ini.
"Huh... tetapi tuan?"
"Tidak apa2, anggap saja ini adalah hadiah dariku."
"Hehm Baiklah Tuan Fafnir... saya sangat berterima kasih, tapi bolehkah saya menunggu dan menyambut kepulangan tuan untuk yang terakhir kalinya sebelum saya pergi dari mansion ini."
"Immelda...? baiklah lakukan apa yang kauinginkan."
"Baik terima kasih tuanku."
Fafnir yang dalam wujud naga terbang dan menuju kekaisaran langit.
"Yooo Fafnir.. seperti biasa kau sangat mengagumkan ya, Naga dengan kulit emas itu cukup langka."
"Heh... yahh tentu saja, sisik ku ini sangat mengkilap dibandingkan punyamu Kakek Ygdrassil.. Ha ha ha."
"Yahh menjadi Naga Alam itu sangat merepotkan.. tubuhku dipenuhi oleh tanaman, dan bahkan ketika daun ini semakin lebat aku harus rutin mencukurnya.. haihhh sungguh merepotkan."
"Ha ha ha.. oh iya ini pertama kalinya aku menghadap Kaisar.. aku sungguh menantikan seperti apa orangnya."
"Heh Naga muda sepertimu aku sarankan jangan terlalu senang dulu, ketika kamu berhadapan langsung denganya.. kau akan merasakan sesuatu."
"Yahh kalau itu bagaimana yah..?"
Jumlah keseluruhan Naga di dalam ruangan itu adalah 53 termasuk Fafnir, mereka semua mewujudkan diri seperti manusia
Mereka berkumpul dan siap untuk menyambut Kaisar mereka.
Hingga tiba waktunya Sang Kaisar keluar dan para naga itu menundukkan kepala dan tubuhnya.
Langkah kakinya membuat para naga panik, semakin dekat langkah itu, membuat jantung dari para naga itu berdetak kencang.
Ketika Sang Kaisar menduduki singgah sana nya, tekanan yang begitu kuat menghempas para naga muda, mereka seakan terdorong dan sebagian terpental.
"Angkat wajah kalian." ucap Kaisar Naga.
Fafnir yang saat itu terdiam.
"Aku tidak bisa mengangkat wajahku.. ada apa ini.. aura yang sangat mendominasi, ayolah... bergerak tubuhku.."
SFX: Plakk.. Ygdrassil menepuk pundak Vallen.
"Tenanglah Fafnir..."
"Ouch... terima kasih Kakek."
Sungguh tak dapat dipercaya.. aku bahkan tak bisa berdiri dengan benar.. tubuhku masih bergetar.
"Pertama tama aku ucapkan selamat datang untuk para Naga dari berbagai generasi, aku melihat banyak diantara kalian yang masih muda, dan aku melihat semangat diantara kalian... itu bagus...
Seperti yang kalian ketahui bahwa aku adalah Kaisar Naga yang baru, namaku Rivia, seperti yang kalian ketahui bahwa Ayahku mati dikarenakan sebuah penyakit, dan secara langsung aku meneruskan tahtanya dan menjadi kaisar kalian, apakah ada diantara kalian yang menentangku?"
"TIDAK ADA KAISAR" Para naga menjawab dengan serentak.
"Baiklah kalau begitu dalam hal ini aku akan mengumumkan beberapa peraturan baru, seperti yang kalian ketahui bahwa Kaisar yang lama memutuskan untuk memelihara manusia..."
"Mohon maaf Kaisar, perintah itu bukanlah memelihara melainkan hidup berdampingan dengan mereka."
"Ya Ya aku tahu, dan siapa yang memberi hak kepadamu untuk memotong pembicaraanku?"
"Mohon maaf Kaisar maksud saya adalah..."
"Aku perintahkan kepadamu untuk membunuh dirimu sendiri..."
Mendengar hal ini semua naga panik dan berkata.
"DIAM".
Seketika para naga itu terdiam dan spontan menundukan tubuh mereka ketik mendengar Auman Kaisar.
Diantara mereka Fafnir masih tetap berdiri.
"Hoo. ternyata ada Seekor naga muda yang menentangku ya.."
Arg.. tubuhku tak dapat bergerak lagi, ayolah menunduk aku mohon menunduklah tubuhku...
"Sepertinya aku harus menjadikanmu contoh bagi siapa saja yang menentang kehendakku."
Kaisar mengeluarkan tombak petir mengarah ke Fafnir..
Ygdrassil yang berada disamping Fafnir berdiri dan menghadangnya.
"Hoo... apa maksud mu Naga TUA BANGKA?"
"Kaisar... Naga muda ini mempunyai sebuah kelainan dimana tubuhnya tak dapat menuruti keinginan pikiranya, saya yakin dia saat ini sedang gugup dan tak dapat bergerak."
"Hooh pikiran yang aneh... Seekor naga muda yang cacat.. dan seekor naga tua yang harusnya pensiun... aku penasaran ketika mereka bertarung siapa yang akan menang ya?"
Para naga kaget mendengar pernyataan Kaisar.
"Naga yang lain silahkan mundur.. kecuali kau Tua bangka dan Naga muda yang cacat, kalian harus saling membunuh dan pemenangnya akan kuampuni.."
"Heh.. Kaisar... maafkanlah pemuda itu.. dia hanyalah..."
"DIAM TUA BANGKA, Bertarunglah sekarang, aku tak akan mengulanginya lagi."
Mendengar perintah kaisar naga... Fafnir dan Ygdrassil terkejut.
"Kakek..." Fafnir melihat Ygdrassil dengan tatapan yang berkaca kaca...
"Fafnir... angkat pedangmu.. kau masih muda dan masa depanmu masih panjang.. sedangkan aku sudah tua.. ini sudah waktuku.."
"Tapi Kakek... aku.. aku tak bisa membunuhmu.. TIDAK Kakek.."
"Baiklah kalau begitu Nak Fafnir."
Ygdrassil melihat ke Kaisar
"Kakek.. jangan bilang apapun.."
"Kaisar... jika salah satu dari kami mati.. maka yang hidup akan diampuni.. Benar kan?"
"Yah tentu saja.. aku selalu menepati janjiku."
"Baiklah.. maka aku bisa mati dengan tenang.."
Ygdrassil mengarahkan senjatanya kearah jantungnya dan menancapkan seluruh pedang itu hingga tembus melewati punggungnya.
Fafnir yang melihat hal itu...
"Arrgg..."
Fafnir ingin menjerit namun suara itu tak keluar, dia ingin berlari namun tak dapat bergerak, kemudian dia merangkak menuju Kakeknya.
Dia memangku setengah badan Ygdrassil.
"Kakek kenapa?.... Kenapa..?"
"Sudahlah kenapa kau menangis... ingat apa perkataanku dulu.. Lelaki dari kaum naga tidak boleh menangis.."
"Tapi... kenapa kau yang harus mati dengan cara ini..? Kek..."
"Aku ingat pada saat itu kau masih kecil... aku menemukanmu di belakang parit sekitar rumahku, tapi lihatlah kau sekarang.. kau sudah besar... Kakek bangga kepadamu Nak.."
"Jangan bilang apapun Kek.. kita harus mengobati lukamu.. Heii kalian para naga.. Dimanakah naga yang bisa menyembuhkan cepatlah kesini.. CEPATLAH..."
Para Naga itu semakin menjauh..
"Ada apa dengan kalian?"
Ygdrassil semakin memuntahkan darah.
"Kakek?" Air mata Fafnir tak terbendung
dia menyentuh pipi Fafnir dan mengusap air matanya
"Sudahlah... kau harus hidup demi Kakek mu ini..."
"Kek.. Terima kasih Sudah menemukanku... Terima Kasih Sudah merawatku... Terima kasih Sudah memberikan arti kehidupan kepadaku.... aku tak akan mengecewakanmu... tidak akan... hanya kamu.. hanya kamu naga yang sangat menyayangi Manusia, aku akan meneruskan perjuanganmu."
"Fafnir.... Ugukkh(muntah darah).. Tanpamu mungkin hidup ini akan terasa sepi.. namun aku rela pergi sekarang karna kamu telah memberi aku kesempatan untuk bisa merawat dan mempunyai seorang cucu... Terima Kasih Nak... Cucu ku..."
Setelah mengucapkan kata2 terakhirnya Ygdrassil pun mengembuskan nafas terakhirnya..
"Kek..Kek... KAKEKK......."
"Sungguh cerita yang menarik..."
"Kaisar.. aku akan pergi dari sini... aku akan menguburkan jasad Kakek ku.."
"Yahh baiklah karna aku sudah berjanji akan mengampunimu... kuburkanlah si Tua Bangka itu."
Fafnir mengeluarkan gerangan.. dan menahan emosinya.
Dia kemudian keluar dari Kekaisaran dan menguburkan jasad Kakeknya di sebuah Taman di atas langit.
Taman itu dikelilingi oleh bintang dan bulan yang bersinar cerah, angin dan tumbuhan bertiup sayu, alam seakan sedih atas meninggalnya sahabat mereka.
Fafnir duduk di taman itu dan mengingat masa2 kecilnya bersama Kakek tercintanya itu.
Setelah sekian lama akhirnya Fafnir berdiri dan beranjak pulang.
"Selamat Jalan Kakek.. dan Selamat Tinggal, selamat menempuh perjalanan barumu..."
Fafnir mengucapkan selamat tinggal untuk yang terakhir kali.
Fafnir pun terbang dan turun menuju wilayahnya... namun ketika dilangit dia melihat warna merah terang dan asap hitam, seketika Fafnir melaju dengan kencang dan melihat...
Desanya dan para penduduknya dihancurkan, kematian, kebakaran menjalar ke seluruh wilayahnya...
"Siapa yang menyebabkan semua ini.."
Dada Fafnir sesak seakan tak dapat menerima semua kenyataan ini.
Dan dia mengingat seseorang yang sangat penting bagi dirinya.
"Immelda... Aku harus segera menuju mansionku."
Mansion itu terbakar.
"Tidak... IMMELDA... IMMELDA..." Fafnir memanggil
"Tu...an.. Fa...fnir..."
"Immelda.. Immelda apa yang terjadi..?"
"Na...ga me..ngamuk.. men..han.cur.kan... de...sa"
"Naga? KAISAR SIALAN...." Fafnir Berteriak Dan Mengaum.
"Tua...n se..lamat.. da...tang"
"Immelda... Yah.. aku pulang.. maaf aku terlambat.."
"Akh... Ba..ru perta.ma kal.i aku meli..hat tua.an me.na..ngis... Yoo..sh Yoos..h cu..p cup.." Immelda meletakan tangannya di wajah Fafnir dan kemudian tangan kecilnya itu terjatuh dan Immelda menghembuskan nafas terakhirnya.
Fafnir berdiri..
"Ha... ha... ha HA HA HA.... Bagus2 Kaisar Naga Rivia... Setelah membunuh Kakek ku kau menghancurkan Desa yang dipercayakan oleh Kaisar Sebelumnya kepadaku..., Kau merenggut orang2 tercintaku.. Maka aku akan merenggut hidupmu."
Setelah itu banyak dari para naga dari seluruh Benua bersatu dan menciptakan sebuah Organisasi yang bertujuan untuk melawan Kaisar naga... Nama Organisasi itu adalah Ouroboros yang dipimpin oleh para saudara muda dari Kaisar Naga yang memberontak dan tidak terima atas kehendak Kaisar yang semena mena.
Mereka berkerja sama dengan manusia, mereka bersatu dengan para naga demi menjatuhkan tahta Kaisar Naga Rivia.
Pertarungan itu menggoncang langit, meruntuhkan gunung.. dari sekian jumlah naga banyak yang mati melawan Rivia.. hingga akhirnya Rivia dapat dikalahkan.. namun jumlah naga yang dapat bertahan hanya ada 10.
Mereka kemudian memecah belah kekuatan Rivia dan Membaginya dalam 6 Fragment dan melenyapkannya, tetapi salah satu fragment itu hilang dan tak diketahui keberadaanya.
Meskipun begitu akibat peperangan yang panjang.. para naga memutuskan untuk beristirahat selama beberapa ribu tahun lamanya.. membiarkan para manusia membangun keberadabanya.. hingga saat itu para monster menyerang dan Guardian turun sebagai penyelamat, Naga yang tertidur terbangun untuk sekali lagi menyelamatkan manusia, dan setelah itu manusia mendeklarasikan bahwa ini adalah era mereka, pada saat itulah kami para naga akan bersembunyi dari peradaban mereka, dan hanya beberapa orang saja yang tahu dan masih menjaga keberadaan para naga2 itu.
Singkat cerita manusia bertahan dan diajarkan fungsi sistem kerajaan, dan lama kelamaan berdirilah kerajaan Esthora ini.
###*FLASHBACK END*###
"Dan aku adalah salah satu dari 10 naga yang selamat pada saat itu...."
"Jadi bisa dikatakan bahwa 1 Fragment yang menghilang itu sekarang masuk ke dalam tubuh Vallen? benarkah seperti itu Tuan Fafnir?"
"Bisa dikatakan seperti itu, hanya pecahan dari 1 Fragment bisa membuat manusia berubah menjadi monster dan membuat kekacauan seperti ini... Sungguh tak dapat dipercaya namun seperti itulah nyatanya."
"Satu Hal yang mungkin menggangu.. Apakah Vallen nantinya akan menjadi ancaman bagi kerajaan?"
Tiba2 dari belakang mereka, seseorang berkata.
"Aku yakin Vallen tidak akan menjadi ancaman bagi kerajaan dan tentunya bagi.... peradaban manusia, bukankah begitu Fafnir?."
"Hehmm Tuan Fafnir siapa dia?"
"Owhh tuan Damian masih belum bertemu dia yah? Dia adalah ayah dari Vallen... salah satu keturunan dari Raja Alxandria ke 74 yang dipastikan akan menjadi seorang Raja ke 75 namun dia memutuskan rantai kerajaan di darahnya dan menjadi orang biasa demi menikahi seorang wanita dari desa."
"Hah jadi anda adalah orang itu? jadi selama ini anda menjadi orang biasa, aku hanya mendengar itu adalah isu belaka namun ternyata..."
"Yap.. itu adalah kenyataan."