
"Hoi Vallen, dia adalah kakakmu?"
"Ya dia kakakku, meskipun kami bukanlah saudara kandung."
"Eh, bukan saudara kandung?"
"Ya, banyak hal yang sudah terjadi."
Setelah sambutan dari Fiona telah selesai, para calon siswa segera menuju area Incerenation. Mendengar bahwa adik dari salah satu Ketua Knight tengah mengikuti ujian, membuat beberapa orang cukup bersemangat dan juga iri hati.
Tony menepuk pundak Vallen dan berbisik kepadanya.
"Val, kau harus lebih berhati-hati lagi, aku merasakan beberapa pandangan tak sedap dari mereka."
"Ya, aku tau itu Tony. Beberapa orang pasti tak terima kalau aku yang rakyat biasa ini menjadi adik dari salah satu Knight yang terpandang."
"Yang lebih buruk lagi Val, kakakmu itu diangkat menjadi seorang Noble, dan para Noble disini pasti tidak terima dengan fakta bahwa Lady Fiona memiliki seorang adik yang hanya seorang Civiliant.
"Hah, Merepotkan sekali."
Sesaat setelah semua para calon berkumpul, kini saatnya cakan segera dimulai.
"Perhatian para calon siswa Akademi Alvarez, mungkin sebagian sudah tahu bahwa Akademi hanya akan merekrut seseorang yang memang layak untuk menjadi murid di sini. Oleh karena itu, kami akan memilih seseorang yang mempunyai tingkat kekuatan tertentu, intinya kami akan memilih siswa yang memiliki kekuatan tingkat menengah keatas di antara kalian."
Vallen, dan Tony tidak sabar untuk segera mengetahui bakat mereka masing-masing.
"Untuk peserta yang tidak memiliki kekuatan atau yang biasa kita sebut sebagai Nonless, maka akan langsung dianggap gagal tanpa bisa diganggu gugat. Ini berlaku untuk seluruh peserta, baik dia Civiliant ataupun seorang Noble."
Setelah beberapa hal telah selesai dilakukan akhirnya seleksi dimulai.
Bertempat di Aula mereka menyiapkan sejumlah bola kristal bernama Awakening yang tujuannya untuk menilai dan melihat bakat apa yang dimiliki oleh setiap para calon siswa.
"Peserta pertama silahkan maju kedepan, dan taruh kedua tanganmu pada bola kristal ini."
"Siap, Pak."
Dalam bola kristal itu akan muncul suatu Rune yang akan tergambar untuk menunjukan bakatmu.
Rune bergambar pedang, atau Sword, maka itu menandakan bakat yang dimiliki adalah seorang yang memiliki fisik yang kuat, namun lemah terhadap bidang sihir. Bakat ini disebut sebagai, Sword.
Rune bergambar tongkat sihir, atau Wand. Mendandakan bahwa mereka mempunyai sejumlah bidang sihir yang banyak didalam tubuh mereka, namun mempunyai kemampuan fisik yang rendah. Bakat ini disebut sebagai, Mage.
Rune bergambar sarung tangan, atau Glove. Menandakan bahwa mereka mempunyai keahlian dalam menciptakan suatu benda, mereka juga biasa disebut sebagai Creator. Seseorang yang memiliki fisik yang kuat, namun orang dengan bakat ini sangat tidak cocok untuk pertempuran. Bakat ini disebut sebagai, Alkemis.
Rune bergambar busur, atau Bow. Menandakan bahwa mereka mempunyai keahlian untuk bersahabat dengan alam, mereka bisa berkomunikasi dengan hewan, roh, pohon, dan lain sebagainya. Orang dengan bakat ini juga mempunyai kemampuan sihir tipe penguatan. Bakat ini disebut sebagai, Tamer.
Rune bergambar ganda. Menandakan bahwa orang ini mempunyai bakat yang ganda. Seseorang dengan bakat ini akan diberlakukan secara istimewa, dan ditempatkan di dalam kelas khusus.
Apabila tidak muncul Rune apapun di dalam bola kristal, itu artinya menandakan bahwa orang yang menyentuhnya adalah seorang Nonless atau tidak mempunyai bakat.
Setelah peserta pertama meletakkan kedua tangannya kemudian muncul suatu gambar di dalam bola itu.
"Selamat, kamu mempunyai bakat Sword dan dengan ini kamu dinyatakan lolos, dan menjadi murid Akademi."
"Woah... Aku berhasil."
Melihat hal ini pun, Vallen semakin berharap akan mendapat bakat Sword seperti yang diharapkannya.
"Wah... Beruntung sekali dia mendapat bakat Sword."
"Vallen, jadi kamu tertarik dengan bakat Sword. Ya, semoga saja kamu mendapatkan apa yang kamu harapkan." Ucap Tony dengan tersenyum.
"Terima kasih Tony. Aku penasaran, bakat apa yang kamu harapkan nanti, Tony?"
"Yah... Aku hanya berharap akan mempunyai bakat. Mengenai jenis yang aku inginkan, sepertinya aku tidak terlalu ambil pusing, karena menjadi siswa di Akademi Alvarez merupakan sebuah prestasi yang sangat luar biasa."
"Hahaha... Aku juga setuju denganmu."
Beberapa jam terlewati, mereka melihat banyak peserta yang berhasil lulus, dan tidak sedikit pula ada peserta yang gugur.
"Vallen, kelihatanya lebih banyak yang gugur daripada yang lolos. Bagaimana menurutmu, apakah aku lolos atau tidak?"
"Tenang saja, Tony. Aku yakin kamu pasti akan lulus."
Tak lama Kemudian.
"Peserta selanjutnya silahkan maju ke depan."
"Siap, Pak."
Setelah itu Tony menyentuh kristal Awakening.
"Selamat, kamu telah lolos dan diterima menjadi siswa Akademi, dan bakatmu adalah seorang Tamer."
(Tony mempunyai bakat Tamer. Dia sangat beruntung bisa lolos.)
"Vallen, aku akan maju ke tahap selanjutnya. Sampai berjumpa lagi."
"Oke... Selamat karena sudah lulus."
"Baiklah Vallen, aku harap kamu juga akan lulus."
"Yosh... Aku pasti akan lulus."
Kini giliran Vallen yang akan maju.
"Peserta selanjutnya silahkan maju."
"Siap, Pak."
Sebelum Vallen meletakkan kedua tangannya, para peserta yang lain mulai penasaran.
"Hei, dia itu kan adik dari Lady Fiona?"
"Ahh... Iya itu betul, dia adiknya."
"Kira-kira dia akan dapat bakat apa ya?"
"Hem... kalau dilihat dari tubuhnya mungkin dia mempunyai bakat Sword."
"Belum tentu, dia bahkan bisa menjadi penyihir."
Para peserta berbisik dibelakang Vallen.
"Yosh, apapun bakat yang akan aku dapat, itulah yang terbaik."
Vallen mulai meletakkan kedua tangannya di kristal, dan menutup mata.
Terdengar suara tertawa pada peserta di belakang, Vallen membuka perlahan membuka mata dan dia terkejut.
"Sayang sekali, kamu adalah seorang Nonless dan kamu gagal menjadi siswa Akademi. Aku ucapkah terima kasih atas partisipasimu demi Kerajaan."
(Tidak, pasti ada kesalahan.)
"Pak, ijinkan saya untuk mengulangi tes dengan kristal yang baru."
"Maaf, tapi tidak bisa. Saya berani menjamin bahwa kristal ini bekerja dengan baik tanpa ada kesalahan. Nak, memang terdengar menyakitkan, tapi kamu adalah seorang Nonless. Terimalah dan hargai dirimu."
"Baik, Pak."
Vallen menatap dengan kosong.
"Baiklah selanjutnya silahkan maju ke depan."
Vallen turun dan berjalan keluar. di setiap langkah, dia menjadi bahan tertawaan, cemohan, dan dipanggil pecundang. Akan tetapi, dia tidak menghiraukan semua itu, dia hanya bisa menunduk dan terus berjalan dengan tatapan mata yang kosong seakan tidak percaya dengan hasilnya.
(Aku seorang pecundang.)
Ketika Vallen sudah berada di gerbang Akademi, seseorang berlari ke arahnya, dan memeluknya dengan lembut.
"Vallen, kamu sudah berusaha keras jadi tolong angkat kepalamu dan tersenyumlah. Aku akan selalu ada untukmu."
Dia adalah Fiona.
"Oh, Kakak. Maaf aku tak bisa membuat Ayah dan Ibu bahagia. Aku hanyalah seorang Pecundang."
Seketika air mata Vallen pecah dan tak dapat menahan tangis ketika mengingat kedua Orangtuanya.
"Itu tidak benar Vallen, kamu akan tetap menjadi kebanggan Ayah, Ibu, dan bahkan Kakakmu. Karena kamu sudah berusaha dan berjuang."
Setelah mereka agak lama berbincang.
"Kak, aku akan pulang. Terima kasih banyak sudah menghiburku"
"Hem, bagaimanapun keadaanmu jangan lupa kalau kamu akan tetap menjadi adik kecilku. Sampaikan salam ke Ayah dan Ibu ketika kamu sudah sampai di rumah. Aku akan berkunjung nanti." Fiona tersenyum kepada Vallen.
"Baiklah, Kak. Kalau begitu, aku akan pulang dulu."
"Apa kau yakin akan berjalan kaki? Kakak bisa membayar Dragon Raider untuk mengantarmu."
"Tidak apa-apa Kak, aku akan berjalan kaki saja."
Fiona beberapa kali menanyakan hingga akhirnya dia menyerah, dan merelakan Vallen pulang dengan berjalan kaki.