
Kau mendengarku...?
Aku tidak tahu siapa yang berbicara, namun suara itu terus terngiang dalam kepalaku...
Bunuh semuanya...
Sesuatu menyuruhku untuk terus membunuh, perasaan ini mirip dengan....
Sudah waktunya bagiku untuk keluar.
Tidak... Aku tidak akan membiarkanmu keluar...
"Val..."
Seseorang memanggilku, suaranya agak kecil.
"Vallen...!"
"Oh, Puteri Chloe...?"
"Apa kamu baik-baik saja? Aku melihatmu melamun dari tadi."
"Ah, T-Tidak apa-apa..."
Vallen kemudian beranjak pergi dari tempat latihan.
"Ada yang aneh dengannya. Jiwanya sedang menjerit..."
Vallen pergi menuju ke tempat pancuran, di dekat kamp latihan.
Membasuh muka, dan menyiram kepala.
"Kenapa akhir-akhir ini aku sering mendengar suara ini? Apakah ini ada hubungannya dengan Fragment itu? Ini gawat..."
Sedangkan itu.
"Ohh jadi inikah pelabuhan Ivaria?"
Arthur melihat banyak sekali ikan yang mati di tepian.
"Sungguh ironis..."
Setelah sampai di tepian, Arthur memutuskan untuk berjalan memutari area pelabuhan, menjauh dari kerumunan, dan menyelinap melewati area hutan.
"Apakah sihir Telepati berfungsi?"
Kerajaan Estora
"Sudah saatnya dia tiba di Ivaria, bukan?"
"Ya, saya kira sebentar lagi dia akan menghubungi."
Sebuah bola Kristal Telepati bercahaya.
"Oh akhirnya..."
"Disini Arthur, saya sudah tiba di Ivaria."
"Oh kerja yang bagus, bagaimana keadaan disana?"
"Seperti yang dilaporkan olehnya, keadaan disini sangat buruk."
"Hmm... Apakah kita bisa mengirim bantuan ke pelabuhan?"
"Kalau begitu maka pasti akan lebih baik, namun Armada Kerajaan tetangga sering berpatrol di perairan ini. Aku kira akan sedikit sulit."
"Kerajaan Tuore ya? Ratu mereka mempunyai kendali atas lautan, bahkan dia mempunyai hewan peliharaan raksasa yang mengarungi lautan. Ini akan sedikit merepotkan."
"Sudah kuduga... Roxaline Pulgra juga mendapat berkah dari Dewa, tidak tanggung-tanggung, dia mendapat Gift dari Poseidon."
"Bukankah dia akan sedikit sulit untuk diajak berunding? Lagipula kita hanya akan memberikan suplai ke Kerajaan Ivaria."
Di dalam kastil.
"Aacchuww...."
"Kenapa, masuk angin?"
"Entahlah, tiba-tiba aku merasa dingin."
"Jaga kesehatanmu Vallen, sebentar lagi kita akan melaksanakan rencana penyergapan, dan kau berjanji akan menjaga Puteri. Lakukan tugasmu dengan baik."
"Aku tahu Jendral Creuz..."
Di dalam hutan yang lebat.
"Nyonya... Sebentar lagi kita akan tiba di perbatasan Ivaria."
"Baiklah, sebaiknya kita beristirahat hari ini."
"Dimengerti..."
Seorang wanita anggun dengan gaun yang cantik berada di dalam tandu.
"Bagaimana keadaan pasukan?"
"Baik, keadaan pasukan dalam keadaaan prima."
"Cepat dirikan tenda, apakah kalian akan membiarkanku kedinginan?"
Para pria itu terpesona.
"B-Baik segera akan saya siapkan Nyonya..."
"Seperti biasa kamu menggunakan teknik itu ya?"
"Hmmm... Tentu saja. Demi Yang Mulia, aku akan melakukan apapun."
"Itu benar, jika itu demi Yang Mulia. Aku juga akan bersungguh-sungguh."
"Kira-kira hadiah seperti apa ya, yang akan diberikan ke kita nanti?"
"Makanan manis..."
"Sungguh... Bocah tetaplah bocah ya..."
"Ha...! Apa yang kau bilang Nenek tua?"
"Siapa yang kau bilang Nenek tua? Umurku masih 32."
"Gak peduli... Nenek tua ya tetap Nenek tua."
"Kamu...."
Seseorang dari luar membawa kabar.
"Nyonya sekalian, tenda sudah selesai dibuat. Silahkan..."
"Terima kasih..."
Kedua wanita berjalan keluar.
"Silahkan menikmati waktu anda, para Jendral Black Trigger."
"Silahkan menikmati waktu anda." Para Prajurit berkata secara serempak.
"Siapkan dirimu. Karena besok, kita akan membawakan hadiah sebuah kastil kepada Yang Mulia."
"BAIK...!!!"