Dragon Soar To The Sky (Rewrite)

Dragon Soar To The Sky (Rewrite)
Phase Four : Fiasco Mata Gerhana



"Tuan Vallen aku hanya bisa sampai disini, sisanya aku akan membantu lewat pedang itu."


"Ahh.. terima kasih Yama, kau sudah sangat membantu."


"Yahh walaupun kau hanya bisa memanggil 2 kepala, hahaha."


"Ah cerewet... Kusanagi tutup portal."


*Ffyyuuussshh Yama memasuki portal yang diciptakan oleh Kusanagi.


Aku harus mengisi Mana, sungguh capek membuka portal.


"Vallen... aku baru tahu ada seorang SpellFencer yang bisa melakukan sihir Summoning."


"Ahh tuan Damian, aku hanya membuka sebuah portal yang terhubung ke dunia lain, bisa dibilang Naga tadi bukanlah makhluk hasil Summon, melainkan dia ada di dimensi berbeda."


"Bisa kulihat pedangmu?"


"Ahh tentu saja kalau anda mampu."


"Hemm apa maksudmu?"


"Master Fafnir pernah mencoba memegang pedang ini namun ada sebuah energi yang menolaknya, bisa dibilang hanya akulah yang bisa memakainya."


"Hemm menarik.. coba aku pegang."


*Cling suara pedang yang dipegang.


Damian seketika melihat suatu gambaran di sebuah tempat yang dingin, gelap, hanya ada sinar bulan dan sungai yang lebar, disana berdiri suatu sosok yang membuat Damian tercengang, naga berkepala delapan melihat tajam kearahnya seakan ingin memakannya, naga itu berbicara dengan nada mengancam.


"Manusia rendahan berani sekali kau memasuki tempat ini.... KELUAR!!!"


Seketika Damian terpental.


"Arrggg, apa2an itu? aku merasakan hawa membunuh dari monster."


"Itu adalah Naga yang tadi ku keluarkan."


"Naga yang tadi.. tapi naga itu hanya berkepala 2, tapi naga yang di dalam itu berkepala 8."


"Dengan levelku yang saat ini, aku hanya bisa membuka portal sesuai kemampuan yang ku miliki, alhasil naga tadi adalah cerminan dari kekuatanku."


"Jadi jika levelmu tinggi maka Naga yang sebenarnya akan keluar?"


"Yup bisa dibilang begitu."


"Tidak dapat dipercaya... anak ini tidak sederhana.. Aku perlu memastikan, kau berada di pihak kami kan?"


"Entahlah..."


Vallen melihat langsung ke mata Damian.


"Valle...."


"Tenanglah Tuan aku hanya bercanda... tentu saja aku berada dipihak kalian, tak perlu khawatir."


"Ohh syukurlah kalau begitu... Apapun yang ada di portal itu bukanlah sebuah entitas yang boleh ada di dunia ini... dia bahkan bisa menghancurkan 1 kerajaan dengan Naga di dalam sana."


"Tuan Damian kenapa melamun?"


"Ahh tidak.. kita akan lanjut ke titik pusat.."


"Baiklah."


Telepati memasuki pikiran Damian.


"Ketua mata gerhana lari.... aku ulangi ketua mata gerhana lari."


Damian yang mendengar itu langsung berteriak.


"APA KAUBILANG? bukankah rencana sudah berjalan seperti seharusnya?"


"Tuan.... Necromancer itu bukanlah ketua dari mata gerhana, kita menargetkan orang yang salah."


"HAAHHH!!! Jadi kemana larinya orang itu.?"


"Itu.... dia mengarah ke lokasi C..."


"Lokasi C? bukankah itu tempat yang seharusnya paling aman, kenapa dia bisa kesana?"


"Saya tidak tahu tuan, tapi pasukan sedang mengejarnya sekarang."


"SIALAN...!!! dia melewati kita."


Vallen menanyakan ke Damian.


"Tuan Damian, di lokasi C ada sebuah desa yang terpencil, aku khawatir jika orang itu akan melakukan sesuatu ke penduduk desa itu."


"Kau benar kita harus segera kesana.."


Dari kejauhan ada suara menggelegar....


"Ini adalah energi sihir dari Master Fafnir.. apa yang terjadi?"


"Ayo cepat kesana."


"Baik."


Vallen dan Damian melesat ke arah lokasi C tempat yang searah dengan Fafnir.


Disana ada 2 sosok yang melawan Vallen, Auhmar dan seseorang yang terlihat sangat kuat.


"Master..." Vallen memanggil.


"Hah? *menoleh, oohh murid bodoh kau datang yah.. Uuhhuk*muntah darah."


Vallen membopong Fafnir..


"Master apa yang terjadi..?


"Berhati hatilah orang itu tidaklah sederhana, aku yakin dialah orang yang kita incar... Ketua Gerhana Merah... Fiasco Rjoer."


"Fia...sco Rjoer? dia sangat kuat."


Fiasco berbicara.


"Are....are... kau sudah selemah ini Fafnir, aku kecewa lho... ya meskipun aku memang membawa panglima monster disini."


"Hoi.. bisakah kau berhenti bicara.. suaramu tak enak di dengar?"


"Hoo aku mendengarmu memanggil Fafnir dengan sebutan Master.. kau pasti muridnya ya?"


"Heh kenapa emangnya, Kepo?"


"Aku merasakan kekuatan yang sangat jahat dari dalam tubuhmu... bocah siapa namamu?"


"Heh kenapa tiba2 ingin berkenalan... cukup aku yang akan menghajarmu dan menaruh namamu di batu nisan."


"Vallen.. dia bukanlah orang yang bisa kau provokasi, dengarkan aku.. mundurlah dan evakuasi warga yang di desa dekat lokasi C, aku akan menahan dia."


"Grandmaster Fafnir apa kau lupa bahwa ada aku disini...?"


"Hoo Tuan Damian.. maafkan aku tidak melihatmu tadi."


"Master... beristirahatlah... biarkan aku dan Tuan Damian yang menghadapi mereka berdua."


"Grand.. yakinlah kita akan menang."


"Hehm baiklah aku akan mengisi Mana ku.. kalian hadapi mereka."


Fafnir bersiap mundur.


"Siapa yang bilang kau boleh pergi.. tidak akan kubiarkan... Radiant."


Fiasco mengeluarkan mantra kegelapan mengarah ke Fafnir.


*Boommmm.


"Master kau tidak apa2?"


Vallen menghalau serangan yang mengarah ke Fafnir.


"Hehh lumayan2... kau akan menjadi lawan yang menggangu daripada Gurumu yang tak berguna disana."


"Berisik.... Lighting Shot..."


"Ccrriiiaazzzzzzzz(petir)


Fiasco dan Auhmar melompat.


"Whoo luar biasa... kau bisa melukaiku tadi, yah kalau kena sih.. ha ha ha kau menari....."


Sebelum Fiasco selesai bacot... dia di hantam pukulan dari belakang oleh Damian.


*Bbuuurrrrhhggggg


"Kau banyak bicara."


"Hahaha Damian Esthera... bagaimana kabar putrimu... aku yakin dia sedang kesakitan sekarang.. ha ha ha... racun yang kumasukan ke tubuhnya cukup bagus lho... ketika aku meracuninya dia terus meraung raung tanpa henti.. ha ha ha."


"AKU AKAN MEMBUNUHMU FIASCO.....!!!!!"


"Sabar dong...hoi kau Vallen.. bagaimana kau bisa bergabung denganku lho... aku akan membuatmu menjadi orang terkuat di dunia ini."


"Heh... maaf aku tak tertarik mendengar ocehanmu."


"Ho ho jadi begitu yah... baiklah aku akan membunuh kalian bertiga disini, SEKARANG!!!!"


Fafnir sementara masih bermeditasi.


"Vallen berhati hatilah..."


"Tuan Damian... aku siap untuk mati hari ini demi Guruku."


"Anak ini.... Grandmaster.. kau mempunyai murid yang baik... AYO KITA HAJAR MEREKA BERDUA VALLEN.!!! "


"BAIK TUAN DAMIAN!!!"


"Ayo datanglah kalian berdua..." Melambai2 tangannya bersiap untuk meladeni.


"Hhhiiiyyaaaaa....."


*Bbbbbooooommmmmmmm........


Ledakan besar terjadi...


Episode lanjut besok ya guyss...