
Undangan dari kerajaan adalah suatu hal yang sangat diinginkan oleh rakyat biasa seperti kami, pasalnya di acara itu dihadiri oleh para bangsawan dan juga Guardian.
Alasan kenapa kita mendapat undangan dari kerajaan adalah ayahku yang dulu merupakan seorang anggota kerajaan Alxandria yang seharusnya dipastikan akan mewarisi tahta raja selanjutnya. Namun ayahku menolak dan kemudian memutuskan rantai darah kerajaan dalam dirinya.
Aku penasaran seperti apakah sosok raja dari kerajaan Estora ini.
"Vallen ... apa kamu sudah bersiap-siap. Sebentar lagi kita akan menuju istana." Kata ibuku.
"Iya bu. Aku sudah siap."
"Baiklah mari kita berangkat." Ucap ayahku.
Keluargaku memakai setelan seperti para bangsawan, Ibu memakai gaun panjang, Ayah memakai baju khas kerajaan, dan tentu saja Emma. Dia sangat lucu memakai baju itu.
Kami menuju kerajaan mengendarai kereta kuda. Pemandangan sore hari membuat perasaanku terasa damai. Tak lama kita tiba di kerajaan.
Setelah turun dari kereta kita diberhentikan sejenak untuk pemeriksaan. Dan akhirnya kita diperbolehkan memasuki kerajaan.
Aku tidak menyangka istana akan sebesar ini jika dilihat dari dekat. Setibanya aku memasuki pintu istana dan sampai di aula istana.
"Woah ... Ini sangat megah sekali."
"Ah Vallen. Ini pertama kali kamu memasuki istana kan. Aula disini masih belum seberapa dibandingkan dengan aula inti dimana para bangsawan dan Guardian berkumpul."
"Apakah itu benar ayah?"
"Tentu saja. Ayahmu sudah berkali-kali ke tempat ini."
Aula yang kami tempati merupakan kelas kebawah, dimana di tempat inilah undangan untuk rakyat biasa seperti kami berada.
Aula menengah diisi oleh kalangan terkenal seperti para pedagang terkenal, anggota parlemen politik, para Baron yang memimpin suatu sektor dan sebagainya.
Aula inti di tempati oleh kalangan atas seperti anggota kerajaan, Guardian, bangsawan, dan juga para guru dari Akademi Alvarez.
Aku dan keluargaku berkeliling mencicipi makanan yang beranekaragam. Beberapa prajurit mengampiri kami.
"Tuan Louise ... anda secara pribadi diundang oleh raja jadi silahkan menuju aula inti. Kami akan memandu anda."
"Raja sialan ... Padahal aku sudah bilang untuk mengundangku secara sederhana."
"Silahkan lewat sini tuan Lou."
Kami berjalan diiringi oleh prajurit kerajaan, semua mata tertuju kepada kami. Namun bisa memasuki aula inti, aku tidak sabar bertemu dengan mereka.
"Keluarga tuan Louise sudah tiba. Silahkan masuk tuan."
Pintu aula inti terbuka.
Disaat itu aku melihat hal yang sangat luar biasa, pakaian kelas atas, makanan kelas atas, orang-orang kelas atas, dan singgahsana raja yang sangat megah.
Aku melihat beberapa orang yang tidak asing, diantara mereka juga ada guru Fafnir.
Setelah itu kami menghadap dan menyapa Raja.
"Panjang umur yang mulia Raja."
"Selamat datang kakak, aku sudah menunggumu." Ucap raja.
Oh jadi seperti itu, ayah sebenarnya merupakan kakak dari raja ini.
"Kakak ipar ... Seperti biasa anda sangat menawan, Vallen dan juga Emma. Aku ucapkan selamat datang."
"Sungguh suatu kebanggaan jika yang mulia memanggil saya saudara ipar." Kata ibu.
Setelah kami bertukar sapa.
"Oh ... Inikah pahlawan kita yang telah mengalahkan kelompok Mata Gerhana?"
Raja berbicara kepadaku.
"Tidak raja, saya hanyalah membantu guru Fafnir dan tuan Damian."
"Anggap saja aku sebagai pamanmu Vallen."
"Suatu kehormatan bagi saya. Paman."
Raja menganggguk. Kemudian raja mengajak kami memasuki ruangan untuk berbincang secara kekeluargaan.
"Ah ... Maaf aku belum memperkenalkan namaku dan juga keluargaku. Namaku adalah Nevile Alxandria generasi raja ke-75. Adik dari Julius Alxandria yang sekarang berhanti nama menjadi Louise."
"Saya adalah isteri dari raja Nevile Alxandria, namaku Shaharl Alxandria."
Aura kerajaan mereka sangat kuat.
"Ah ... Sebentar lagi mereka akan kesini kak. Dan Vallen, anakku juga seumuran denganmu lho."
"Saya menantikan untuk bertemu dengan mereka."
"Vallen jangan terlalu formal, ini adalah pertemuan keluarga." Ucap Nevile dengan tersenyum.
"Ah ... Baik paman."
Kemudian ada 2 orang yang memasuki ruangan. Mereka menyapa kami dan mulai berkenalan.
"Nama saya Illeria Alxandria, Putri tertua, umur 18 tahun."
"Nama saya Elysa Alxandria, Putri kedua, saya juga umur 18 tahun."
Wah mereka berdua sangat cantik, kecantikannya mirip dengan ibu mereka. Sungguh Gen itu mengerikan.
"Illeria, Elysa, dia adalah Vallen dan juga Emma."
"Ah ... Nama saya Vallen umur 18 tahun, dan ini adikku Emma umur 1 tahun."
Seketika kedua putri ini berlari menuju Emma dan memeluknya.
"Aw ... Emma lucu sekali, Cantik, Imut."
Emma yang sangat pemalu ternyata tidak terganggu dengan kakak beradik itu dan merasa nyaman dengan kehadiran mereka.
"Wah ... Sangat jarang Emma bersedia untuk bermain dengan orang asing." Ucap ayah.
"Hush ... Mereka bukan orang asing, Emma pasti tau kalau mereka berdua itu sudah seperti kakak perempuannya sendiri." Jawab ibu.
"Yah ... Ikatan batin itu suatu misteri."
Kami berbincang-bincang mengenai keseharian. ayah dan paman Nevile tampak bergurau sembari meminum Wine, sedangkan Emma bermain dengan kedua putri, dan ibu sepertinya sedang menggosip bersama bibi Shaharl.
"Nak kamu sudah berumur 18 tahun, apa kamu mau mencoba Wine ?"
"Tidak ayah. Aku tidak suka minum."
"Hm ... Putramu belum pernah merasakan Wine?"
"Yah ... Dia terlalu sibuk memikirkan wanita."
"Hahaha ... Tipikal lelaki."
Yah aku cukup tersenyum mendengar mereka bergurau, aku akan mencari udara segar. Menuju balkon dan memandang bulan. Aku mendengar langkah kaki dan menoleh.
Disana ada....
"Putri Illeria?"
"Hai ... etto namamu Vallen bukan, panggil saja aku Illeria?"
"Oh ... Hai. Iya Illeria, namaku adalah Vallen."
"Aku ingin bertanya kepadamu."
"Hmm ... Baiklah, apa yang ingin anda tanyakan."
"Kehidupan di luar seperti apa, bagaimana rumah disana, oh aku penasaran dengan ladang seperti apa bentuknya?"
Aku sedikit terkejut mendengar pertanyaan puteri Illeria, ketika itu aku sadar dia seperti burung di dalam sangkar. Bukanlah hal yang wajar jika putri kerajaan itu tidak pernah tampak di khalayak ramai, keberadaan mereka sangat dijaga seperti halnya harta suatu kerajaan. Dari cerita Illeria aku mengerti suatu hal bahwa mereka diajarkan beberapa hal pengetahuan umum di kerjaan, seperti ladang dan lain sebagainya, namun mereka tidak pernah tahu seperti apa bentuknya.
Aku menghabiskan beberapa menit menjelaskan kepada Illeria.
"Wah ... Vallen kau tau banyak hal, aku merasa sedikit tenang sekarang."
"Kau tahu Illeria, dunia di luar sana itu luas, sangking luasnya hingga tidak dapat dijelaskan dalam kata-kata.
"Hem ... Apa benar seluas itu?"
Mataku teralihkan dengan bukit itu.
"Uhum ... Ya. Hemmm. Sangat luas dan bundar."
"Bundar?"
"Ah ... Tidak kau tau kan meskipun pandangan kita tentang hamparan tanah itu kelihatan datar, faktanya kita itu berpijak disuatu tempat disebut Planet yang berbentuk bulat."
"Ohh ... Kalau hal itu aku sudah mengerti."
Hoah ... Hampir saja, tapi ayolah dia itu masih berumur 18 tahun. Tetapi apa apaan bukit itu besar sekali, aku rasa punya Sistine dan Ren tidak sebesar itu. Bibit unggulan kerajaan memang MANTAP.