
Operasi Dimulai.
Beberapa jam setelah pasukan pengintai memulai tugasnya, unit kami kemudian mulai terbagi menjadi beberapa bagian.
Unit pengintai, dipimpin oleh Cylaz Fadim. Bersama regunya, dia bertugas sebagai pasukan pengintai yang bertujuan untuk mengetahui posisi, jumlah, dan medan yang akan dijadikan titik tempur.
Unit penyerang, dipimpin oleh Jendral Creuz Fadim. Dia memimpin pasukan berjumlah kurang lebih 1000 orang, mereka akan mencegat pasukan musuh dan menghadang mereka.
Sedangkan aku berada di barisan belakang, tugasku adalah menjaga Puteri Arleana, dan juga adik perempuannya Puteri Chloe.
"Ayah, aku sudah mengetahui jumlah pasukan mereka."
"Kerja yang bagus Cylaz, mari kita dengarkan hasil pengintaianmu."
"Pasukan mereka berjumlah 3000 orang, dengan beberapa dari mereka membawa senapan api, tombak, pedang, dan aku melihat ada 9 orang pengguna Phalanx."
"9 orang kah? Sedangkan disini yang bisa membangkitkan Phalanx hanya segelintir saja."
"Tetapi kita punya keuntungan pada kondisi geografis, saat ini mereka berada di mulut lembah. Aku yakin mereka akan melewati bagian dalam lembah sebentar lagi. Jika kita memanfaatkan kondisi ini, maka kita bisa mengurangi sebagian pasukan mereka."
"Baiklah, kita akan lakukan hal itu. Saatnya mengusir para penjajah itu."
Di dalam Istana
"Sepertinya mereka sudah siap untuk berangkat."
"Kakak, kamu tidak apa-apa kan?"
"Entah kenapa perasaanku menjadi agak kurang enak."
"Jangan khawatir Kakak. Jika terjadi apa-apa, aku yakin Vallen akan melindungi kita."
"Hmm, kau benar."
"Vallen, mari kita berangkat."
"Baik Puteri."
Aku merasakan setiap langkah dari Arleana menjadi berat, beban yang harus dipikul, tanggung jawab terhadap rakyatnya. Aku yakin saat ini sudah menjadi lebih berat baginya.
"Apakah keputusan yang kuambil ini benar?"
"Ada apa Puteri? Bukankah sudah kewajiban keluarga Kerajaan untuk melindungi rakyatnya. Aku paham perasaan anda, mereka yang berada di garis depan juga mempunyai keluarga masing-masing. Namun, jika kita menyerah sekarang, aku yakin kehidupan mereka juga akan semakin menderita."
"Vallen benar Kakak. Jalan satu-satunya yaitu melawan, kita harus berperang."
"Ehm, aku beruntung bisa dapat dukungan dari kalian."
Balai Kota Ivaria
"Para Prajurit kebanggan Ivaria, sebentar lagi kita akan melakukan suatu misi yang sangat berbahaya. Aku tahu beberapa dari kalian ada yang ragu, cemas, khawatir. Namun, aku akan mengatakan ini kepada kalian. Kita akan menang."
Para Prajurit menyerukan semangat mereka.
Beberapa saat kemudian, mereka mulai berjalan menuju medan peperangan.
Aku berada di barisan paling belakang, bersama dengan kedua Puteri. Tugas kami adalah membuat tenda, dan menjadi pusat komando untuk para Prajurit.
Setelah para Prajurit yang dipimpin oleh Creuz berjalan menuju lembah yang disebutkan, mereka akhirnya melihat para pasukan Black Trigger.
"Lihatlah mereka, membawa senjata yang belum pernah kulihat sebelumnya."
"Ayah, itu adalah senapan. Cara kerjanya mirip dengan sebuah meriam, namun dengan ukuran yang lebih kecil."
"Ya, sesuai dengan yang kau laporkan kemarin. Kita akan menggunakan itu untuk menghalau peluru senapan itu."
Creuz memerintahkan pasukan pemanah untuk berdiri di sekitar lembah, mereka akan menghujani pasukan Black Trigger dengan anak panahnya.
"Apakah mereka sudah berada di posisi yang benar?"
"Baik, mereka sudah berada di posisi yang ditentukan. Kami menunggu perintah anda."
"Semuanya... Serang."
Ratusan anak panah dilesatkan ke arah kamp para pasukan Black Trigger.
"Serangan musuh, Serangan Musuh..."
"Jendral, musuh menyerang kamp."
"Beraninya mereka..."
"Bagaimana ini, Reyna?"
"Bagaimana, hah? Tentu saja kita akan serang balik mereka."
Pasukan Black Trigger dipimpin oleh dua orang Jendral Wanita.
Reyna Ferhez, merupakan Jendral yang berada di peringkat ke sembilan dari jajaran MB Organisasi Black Trigger.
Organa Thio, Jendral yang berada di peringkat ke sepuluh dari jajaran MB Black Trigger.
MB: Meja Bundar.
"Reyna, tentang para pemanah itu, aku serahkan kepadamu."
"Tentu saja, kau pergilah. Bermainlah sampai kau puas Organa."
"Seperti biasa sihirmu luar biasa ya. Baiklah, sekarang giliranku menyambut mereka, kemarilah para binatang."
Organa memimpin pasukan, dan kemudian memulai serangan ke arah Prajurit Ivaria.
Garda depan Ivaria.
"Ayah, aku serahkan wanita itu kepadamu."
"Kau mau kemana?"
"Aku harus mengalahkan Reyna terlebih dahulu."
"Memang sihir Barrier itu sangat merepotkan, aku serahkan kepadamu."
"Baik."
Garda depan Black Trigger.
"Siapkan senapan, tembak sesuai aba-abaku..."
Pasukan Black Trigger mengkokang senapan mereka, bersiap untuk menembak.
"Tembak..."
Suara ledakan mesiu mulai memenuhi medan perang, peluru-peluru itu melesat ke arah pasukan Ivaria.
Menyadari hal ini, Creuz memberikan perintah.
"Gunakan tameng, rapatkan barisan."
"Baik..."
Seketika peluru-peluru itu menghantam tameng para Prajurit Ivaria.
"Berhasil, serangan berhasil di hadang."
"Bagus, kita harus terus maju dengan formasi ini..."
Mengetahui senapan tidak berguna, Organa kemudian menjadi naik pitam.
"Sialan kalian... Woy, kita hancurkan mereka. Pasukan Phalanx, bersiap untuk mendobrak barisan pertahanan musuh."
"Baik..."
Phalanx, merupakan kekuatan buatan yang mempunyai kesamaan dengan Plana, kekuatan buatan ini menjadikan Phalanx sebagai senjata pamungkas dari pasukan Black Trigger.
Organa berencana menggunakan pasukan Phalanx sebanyak sepuluh orang untuk memporak-porandakan formasi tameng pasukan Ivaria, sebagai hasil dari pemecahan formasi, pasukan Ivaria akan melepaskan tameng mereka, dan pasukan Black Trigger bisa menembak mereka dengan senapan.
Mengetahui bahwa Organa mengerahkan pasukan Phalanx, Creuz memerintahkan pasukannya untuk bersiap.
"Bersiaplah, aku akan menghadapi sepuluh orang pengguna Phalanx. Kalian tetap maju, dan jangan lepaskan tameng kalian."
"Baik Jendral."
Oragana tersenyum.
"Oho... Berani sekali dia, jangan remehkan kami. Pasukan Phalanx, ikuti aku. Kita akan menyerang Jendral mereka."
Di dalam kamp Black Trigger.
"Hoohh, aku merasakan ada tikus disini. Keluarlah pengkhianat."
"Aku terkejut anda bisa merasakan kehadiranku ya, Jendral Reyna."
"Kau adalah orang dari regu pengintai, beraninya kau membuat Yang Mulia merasakan malu."
"Maaf tapi, aku tidak pernah menganggap dia sebagai Raja."
"DIAMLAH...!!"
Sebuah gelombang kejut mengarah ke Cylaz, namun dia bisa menghindarinya.
"Berbahaya sekali, kekuatan sihir anda memang bukan isapan jempol belaka."
"Akan kutunjukkan kepadamu, orang yang sudah berani mengkhianati Yang Mulia. Aku akan mencabut nyawamu."
Kamp Komando Ivaria.
"Mereka sudah memulai penyerangan."
"Aku harap mereka bisa mengalahkan para pasukan Black Trigger."
"Yakinlah Puteri, aku yakin Creuz dan Cylaz pasti bisa mengalahkan mereka."
Puteri Chloe terkejut.
"Oh tidak..."
"Hmm... Ada apa Puteri Chloe?"
"Aku melihat, aku melihat, ada sebuah pasukan yang menuju ke tempat ini."
"Hoo, akhirnya mereka datang juga ya. Pasukan pengintai Black Trigger."
Vallen mengambil perintah untuk mengerahkan 50 orang berjaga di sekitar kamp Komando.