Dragon Soar To The Sky (Rewrite)

Dragon Soar To The Sky (Rewrite)
Persimpangan Jalan (Fashback Story Fafnir)



Keesokan harinya setelah pesta selesai dilakukan, semua orang kembali melakukan kegiatan seperti biasanya.


Mengenai kunjungan dari perwakilan Kekaisaran Avalon, Raja kemudian meminta Patriack dari keempat keluarga Guardian untuk berkumpul, dan merundingkan undangan dari Kekaisaran.


"Kau tahu kan? Ragnarok adalah Festival yang sangat sakral, dan sudah dua kali Kerajaan kita tidak mengikuti acara itu. Kita tidak bisa menyinggung Dewa lebih dari ini." Ucap Alex Deovare.


"Tapi Alex, terakhir kali kita mengirim Champion untuk menghadiri Festival itu..." Jean Esthera berusaha untuk berbicara, namun terpotong.


Champion adalah sebutan bagi orang yang akan melaksanakan pertandingan suci di acara Festival Ragnarok.


"Kali ini berbeda, kita mempunyai banyak sekali generasi yang luar biasa."


"Apakah Vallen juga termasuk? Apa kau lupa dengan apa yang terjadi kepada Master Fafnir?"


"Itu...."


"Aku mohon kalian untuk tenang, Alex dan Jean."


"Maafkan kami Paduka." Keduanya meminta maaf.


Sementara itu...


"Dreig, apakah kamu punya ide?"


"Seperti yang dikatakan oleh Alex, saya setuju jika Kerajaan kita akan mengikuti Festival itu"


"DREIG...!" Jean tampak marah.


"Tenangkan dirimu Jean. Apakah kamu ingin mendapat murka Dewa?"


"Ugh..."


"Jean, tenangkan dirimu. Aku tahu penderitaanmu." Neira mencoba menenangkan Jean.


Neville berdiri.


"Aku tidak bisa membiarkan mereka membunuh anak-anak kita, aku tidak ingin membuat Master Fafnir meninggalkan Kerajaan kita, tetapi aku juga tidak bisa mengecewakan Dewa. Apa yang harus kita lakukan?"


Disaat semua sedang bimbang, seseorang memasuki ruangan dan berkata...


"Jawabanya hanya ada satu bukan? Kita akan mengikuti Festival itu."


"Master Fafnir...?"


Semua orang terkejut.


"Aku tahu ini berat untuk kalian, dan juga ini sangat berat untukku juga. Pada saat itu...."


40 Tahun yang lalu...


"Kakak Jean, apakah kamu sudah ingin pergi lagi?"


"Tentu saja, menjadi Knight itu harus selalu siap jika ada misi darurat. Oh iya, apakah kamu sudah diterima menjadi murid Master Fafnir?"


"Ahhh, belum. Hahaha, aku akan berusaha agar dia menjadikan ku sebagai muridnya."


"Hummm... Kalau begitu, tetap semangat dan jangan pernah menyerah ya, Roland?"


"Tentu saja aku akan berusaha Kak Jean."


Di suatu tempat dekat Akademi Alvarez, terlihat Roland mengejar seseorang.


"Master Fafnir, kumohon jadikan aku sebagai murid anda."


"Aihh kau lagi... Pergilah, jangan ganggu aku."


"Master Fafnir, berhentilah."


"Aku tidak akan berhenti sampai kamu menyerah untuk mengejarku. Ini sudah di hutan, Hoi...!"


Roland kemudian berhenti.


"Hoh, kau akhirnya berhenti juga. Baiklah aku akan pergi...."


Roland bersujud dihadapan Fafnir, memohon agar dirinya bisa diterima sebagai murid.


"Saya memohon kepada Master Fafnir, jadikan aku sebagai murid anda."


"Hentikanlah, aku tidak berminat dengan hal yang rumit seperti itu."


"Saya mohon..."


"Aku akan pergi."


"Saya akan menunggu anda."


(Heh, aku pergi aja lah. Paling-paling 2 jam lagi dia pergi.)


4 jam kemudian.


"Saatnya mencari makan siang, Eh..!" Fafnir terkejut.


Roland masih dalam posisi bersujud.


(Anak ini... mau sampai kapan.. lewati aja ah...)


"SAYA MOHON...!"


"WAAHHH...! Kau mengagetkanku sialan... Dengar ini, aku tidak ingin mencari murid atau apalah itu, jadi menyerahlah."


"Saya tidak akan menyerah."


"Hooh, lakukan sesukamu kalau begitu. Aku pergi."


Malam hari telah tiba.


Fafnir yang baru saja minum, berniat kembali ke gubuk yang ada di hutan.


"Aaarrgg Pusing... Gadis-gadis itu sangat mengerikan, mereka memaksaku untuk minum 5 Barrel Ale. Eh, apa itu?"


Roland masih bersujud di tengah hutan.


"Hah, cuma imajinasiku... Siapa yang bersujud malam-malam di tengah hutan..."


"MASTER FAFNIR....! SAYA MOHON..."


"AAACCKKKK.....! Kau lagi? Sudahlah pulang sana."


"Saya tidak akan bergerak dari tempat, dan posisi ini sampai anda ingin mendengar permohonanku."


Fafnir meletakkan roti, dan air minum di sebelah Roland.


"Eh... Master?"


"Kau pasti lapar kan... Makanlah itu, dan jangan panggil aku Master, kamu bukan muridku."


"Hahaha... Terima kasih Tuan Fafnir."


"Hei... Pulanglah setelah makan."


Fafnir kemudian pergi, meninggalkan Roland yang masih dalam posisi bersujud.


"Tidak.. TIdak.. Aku tidak akan perah menyerah, aku harus membuktikan bahwa aku tulus ingin menjadi muridnya."


Roland memutuskan untuk tidak beranjak dari tempatnya, dan terus bersujud.


Keesokan harinya.


"Hahhh... Kenapa anak ini masih disini?"


Fafnir pergi ke kota, dan membeli perlengkapan kemah.


Dia kembali, dan membuatkan tenda untuk Roland.


"Tuan Fafnir? Apa yang anda lakukan di sana?"


"Diamlah... Jangan bergerak dari posisi itu."


"A...Baiklah."


Fafnir menggotong Roland, dan menempatkannya di dalam tenda.


"Dengan ini setidaknya kau bisa tenang untuk tidur."


"Tuan... HUUAAAA....!"


Roland menangis dengan keras.


"Hoi-hoi... Jangan menangis, kau sangat menganggu."


"Karena... Karena ternyata anda sangat baik. Aku mulai merasa jika aku tidak salah memilih anda sebagai Guru."


"Ehh... Bagian itu agak... Tunggu, jadi menurutmu aku orang yang kejam?"


"Saya tidak pernah menganggap anda sebagai orang yang kejam. Karena itu saya bersujud dihadapan anda sekarang."


"Ahhh... Kalau begitu aku pergi dulu. Jangan lupa untuk sarapan."


Fafnir meninggalkan Roland lagi. Namun, jauh di dalam hati Fafnir dia merasa agak lega. Karena tenda itu dapat sedikit melindunginya, dan itu lebih baik dari kemarin.


"Aku penasaran sampai kapan dia akan terus seperti itu."


Mulai saat itu, setiap hari Fafnir mengecek keadaan Roland. Dia membeli makanan setiap pagi, siang, dan malam untuk Roland. Jika cuaca dingin, dia membakar kayu di dekat tenda Roland agar dia selalu hangat.


Satu Minggu telah berlalu.


"Bangunlah, aku akan mendengarkan perkataanmu kali ini."


"Tuan Fafnir... Tapi, mengapa tiba-tiba?"


"Mengapa tiba-tiba? Ini sudah lebih dari satu minggu kau tahu? Dengan posisi seperti itu, aku mulai menganggapmu mirip seperti batu."


"Hahaha, apakah posisi bersujud ini mirip dengan bongkahan batu?


"Tidak.. yang kumaksud adalah sifatmu yang seperti batu. Bangunlah...."


"Tapi..."


"Tapi kenapa?"


"Tubuhku tidak dapat bergerak."


"Hahh, tentu saja..."


Fafnir merafal sihir Healing, menyembuhkan seketika fisik Roland, mengembalikan stamina.


"Wah... Anda sangat hebat."


"Ikutlah denganku. Aku punya gubuk di tengah hutan ini."


Setelah sampai di gubuk itu.


"Bersihkanlah tubuhmu terlebih dahulu, kamar mandi disebelah kiri."


"Baik Tuan."


Setelah beberapa saat.


"Duduklah, dan minum teh ini."


"Jadi ceritakan, mengapa kamu ingin menjadi muridku?"


"Saya adalah Roland Esthera, anggota keluarga inti dari Guardian Esthera."


(Ah, sial. Louise pernah berkata kepadaku untuk tidak menyinggung keluarga Guardian.)


"Jadi..."


"Ya, saya adalah anak dari Patriack disana."


"Woah, jadi kamu adalah anak dari pemimpin keluarga Esthera."


"Itu benar... Sebagai anak lelaki, saya diharuskan untuk bisa mengemban tugas sebagai seorang anak Patriack pada umumnya. Ayah saya, terus mendorong saya untuk menjadi yang terkuat. Namun, salah satu kerabatku, Damian Esthera. Dia adalah orang yang hebat, bahkan anggota keluarga yang lain membandingkan kemampuan kami."


(Jadi, karena tekanan dari tanggung jawab sebagai anak Patriack. Yah, beberapa hal seperti memang sangat umum terjadi di lingkungan Kerajaan. Sangat merepotkan."


"Tapi, maksud kedatanganku ingin menjadi murid dari Tuan Fafnir bukan karena hal itu."


"Hehmm? Jadi hal apa itu sebenarnya?"


"Itu... Kakak Iparku Julius Alxandria..."


(Julius Alxandria. Itu adalah nama dari Louise sebelumnya.)


"Dia adalah seseorang yang sangat aku kagumi, orang yang kuat, berwibawa. Aku ingin menjadi kuat sepertinya, menjadi cukup kuat sampai aku bisa melindungi Kakak perempuanku."


"Jadi alasanmu adalah karena Kakak perempuanmu?"


"Ya, disaat aku jatuh, terpuruk karena tekanan di dalam keluarga. Hanya Kakak yang bisa menghiburku dan terus memberikan semangat. Sekarang dia adalah seorang Knight. Apapun bisa terjadi selama misi, maka dari itu aku ingin melindunginya."


"Jadi seperti itu... Maaf, aku tidak bisa menjadikanmu sebagai murid...."


Roland terkejut, dan menundukkan kepalanya.


"Namun, aku bisa melatihmu untuk menjadi kuat. Bagaimana, apa kau bersedia?"


Roland seketika berdiri, dan menunduk di depan Fafnir.


"Tuan Fafnir, saya bersedia. Sangat bersedia..."


"Baiklah kalau begitu, besok kita akan memulai latihan. Untuk sekarang kembalilah ke keluargamu."


"Tidak perlu Tuan, aku yakin mereka tidak akan peduli dengan keadaanku."


(Benar juga, dia sudah menghilang seminggu lebih, namun tidak ada pencarian dari anggota keluarganya, anak yang malang.)


"Baiklah, kau bisa tinggal disini."


"Terima kasih Tuan."


"Hentikan itu, panggil aku Fafnir."


"Baiklah... Terima kasih Fafnir."


Roland melewati malam dengan berkemah di luar gubuk.


"Eh... Bukankah ini sama saja dengan tinggal diluar?"


Keesokan harinya...


"Baiklah, bisa kau tunjukkan kekuatanmu?"


"Baik..."


Roland memiliki sihir yang bisa dibilang cukup spesial. Karena Aura yang dimiliki olehnya, dia bisa membuat kontrak dengan beberapa Roh suci.


"Roh Harimau, tunjukkan wujudmu.."


Seekor Harimau putih berzirah muncul di depan Roland.


"Apa yang anda inginkan Tuanku Roland?"


"Fafnir, dia adalah Roh suci yang menjalin kontrak denganku. Dia bernama Sinnor."


(Luar biasa, dia adalah seorang yang dicintai alam. Roh suci, keberadaan yang sangat rentan, mereka hidup diantara alam kehidupan dan alam Roh. Seseorang yang bisa memanggil mereka, dan memanifestasikan wujudnya ke dunia ini, dia adalah seorang Mentalist.)


"Hooh, lumayan. Jadi kau adalah seorang Mentalist."


"Ya benar, ini adalah kekuatan yang kuperoleh setelah melewati berbagai kesulitan."


"Baiklah... Aku mempunyai sebuah buku kuno yang menjelaskan cara melatih kekuatan Mentalist sampai batas ekstrem, apakah kamu siap?"


"Tentu saja, demi Kakakku. Aku akan melakukan apapun."


Roland kemudian berlatih dengan mengikuti instruksi dari Fafnir.


"Meditasi, salah satu cara agar kamu bisa melatih kekuatan jiwa."


Roland mulai melakukan Meditasi di bawah air terjun selama 1 bulan. Disaat itu dia mulai merasakan lonjakan energi yang besar dari dalam tubuhnya.


"Sinnor, keluarlah..."


"Selamat Master, anda sudah bisa mengeluarkanku tanpa rafalan."


"Yah, ini berkat latihan dari Fafnir."


"Baiklah kita akan menuju latihan kedua. Mohon bantuannya Fafnir."


"Kerja yang bagus. Latihan berikutnya adalah...."


Hari demi hari berlalu, dan Roland semakin kuat.


"Sudah saatnya aku pulang, dan menemui Kakak."


"Oh, kau sudah mau pulang?"


"Ya, aku tidak sabar ingin bertemu dengan Kakakku. Terima kasih atas semua yang kau lakukan, Fafnir."


"Hentikan itu, aku tidak melakukan apapun."


"Ini hadiah untukmu.."


Roland memberikan sebuah cangkir kepada Fafnir.


"Hmm, sebuah cangkir?"


"Benar... cangkir ini kubuat khusus. Coba lihat, aku juga punya yang mirip. Hahaha."


"Sungguh berkelas, dan kekanak-kanakan.."


"Hahaha ayolah jangan seperti itu."


"Baiklah, terima kasih."


"Hahahaha... Jika aku kembali nanti, aku akan membawa Wine berusia puluhan tahun. Yakinlah, aku akan menuangkan Wine di cangkir itu, dan kita bisa minum bersama sebagai seorang Guru, dan murid."


"Hoi... Sejak kapan aku menjadikanmu murid"


"Hahaha... Setidaknya itulah yang kurasakan. Sampai jumpa..."


Perpisahan itu terasa sementara, mereka yakin kalau nanti pertemuan mereka akan membawa ikatan baru. Ikatan sebagai seorang Guru dan Murid.


Sementara itu, Roland telah sampai di kediaman Esthera.


"Kakak... Aku pulang... Eh, ada apa?"


Namun suasana disana terasa sangat mencekam.


"Roland, dari mana saja kau."


"Aku dari..."


"Aish lupakan, sekarang kita dalam situasi yang gawat. Sebenarnya..."


Roland langsung berlari keluar dan memanggil Roh Suci.


"Aku mohon bantuanmu, Falcon."


Roh berbentuk elang raksasa muncul.


"Master Roland, saya menunggu perintahmu."


"Kita akan menyusul Kakakku."


Roland mengingat pembicaraan tadi.


"Sebenarnya Jean adalah seorang Champion yang akan mengikuti Festival Ragnarok. Namun, kami mendapat kabar dari pengawal kalau mereka sedang dihadang oleh pasukan Manusia iblis. Kami sudah mengirim bantuan, tetapi.."


"APA...! Kapan kalian mengirim pasukan bantuan?"


"Baru saja.."


"TIDAK AKAN SEMPAT... Aku akan pergi."


"Roland kemana kau..."


"Jangan hentikan aku, Patriack."


"Roland, jangan kurang ajar. Dia itu Ayahmu."


"Ayah macam apa yang membiarkan Putrinya dihabisi oleh Iblis, sedangkan dia hanya duduk di kursi itu."


"ROLAND...!"


"Kau gagal sebagai seorang Ayah."


"ROLAND... Sialan kau..."


"Hentikan... Dia benar, aku sudah gagal sebagai seorang Ayah."


"Patriack..."


Semua Tetua di sana menundukkan kepala.


Sementara itu, Roland dengan kecepatan tinggi, menyusul Kakaknya.


Di suatu tempat di dekat perbatasan Kerajaan.


"Iblis terkutuk, apa kalian tidak malu?"


"Hentikanlah ocehanmu... Jika kami bisa menghabisi kalian. Maka Kaisar Iblis akan memberikan hadiah kepada kami. Hehehehe."


"Jangan banyak bergerak, rombonganmu sudah kami bantai, dan sekarang hanya tinggal kamu seorang. Apa yang bisa kau lakukan Hah? Dengan luka separah itu, sayang sekali tubuhmu itu sangat menggoda. Kami akan menikmatimu sampai kami terpuaskan, dan kemudian kami akan membunuhmu.. Eheheheh."


"H-Hentikan... Jangan mendekat. Tolong, siapapun..."


"Tidak akan ada yang bisa menyelamatkanmu.. Ehehehe."


Para Iblis itu menyobek baju Jean.


"Wuhu... Sangat cantik dan menggoda. Aku akan menikmatimu dulu."


"AARRGGG....! Jangan... Aku mohon..."


Tiba-tiba dari belakang, sebuah tebasan pedang mengarah ke Iblis yang sudah bersiap untuk menodai Jean.


"Apa yang..."


Sebelum selesai berbicara, kepala iblis itu sudah terbelah menjadi dua.


"Eiii... Mundur."


Iblis yang lain mundur dari Jean.


Di saat itu terdengar suara teriakan.


"Kakak Jean..."


"Suara ini...? Roland."


Roland memeluk Kakaknya...


"Kak, maaf aku terlambat."


"Terima kasih... Terima kasih sudah datang."


Roland melihat keadaan Kakaknya. Amarahnya memuncak.


"Kakak... Beristirahatlah, aku akan menyelesaikan ini."


"Roland berhati-hatilah, pasukan itu, kekuatan mereka dua tingkat lebih kuat daripada aku."


"Tenanglah Kak, mereka tidak lebih dari semut dihadapanku."


"Sinnor keluarlah."


Sinnor telah menjadi lebih besar setelah latihan itu, dan juga semakin kuat.


"Hoi... Berhati-hatilah, lawan kita seorang Mentalist."


"Cukup bicaranya... Aku akan membunuh kalian semua."


Pertarungan itu sangat mudah baginya, Roland dengan sangat cepat menebas kepala Iblis. Satu persatu Iblis tumbang dengan kepala yang terpisah dari badanya.


"Beraninya kalian melakukan hal itu kepada Kakakku.. RASAKAN INI..!"


"IECHHH..! Lari... Lari... Selamatkan nyawa kalian."


Para Iblis mencoba kabur. Namun...


"Kalian tidak akan bisa lolos."


"Sinnor, buru mereka. Jangan sampai ada yang lolos atau hidup"


"Baik Tuanku Roland."


Sinnor mengaum dengan sangat keras, membuat para Roh Suci yang ada di hutan terbangun.


Roh ular, Roh macan, Roh singa... Seluruh Roh itu menjawab panggilan Sinnor dan melaksakan perintahnya.


Perintah itu berbunyi "Makan malam telah tiba, perburuan Iblis dimulai.


Sedangkan itu diwaktu yang sama.


"Ehm... Perasaan ini... Roland? Apa yang terjadi. Dia memakai kekuatan terbesarnya. Aku harus segera melacak posisinya, dan menemuinya. Tunggu aku, Roland."


Kembali ke tempat Roland, dan Jean.


Malam itu, hutan penuh dengan jeritan pasukan Iblis.


"Kak... Apa kamu tidak apa-apa?


"Hehm... Kamu datang tepat waktu. Terima kasih."


"Kakak... Maafkan aku."


"Roland..."


Jean dengan erat memeluk Roland, tangis mereka berdua tidak terbendung.


"Aku harus memulihkan Energiku. Aku sudah mengeluarkan sihir yang besar. Aku penasaran apakah Fafnir bisa merasakan hal ini."


"Eh, Fafnir? Apakah kamu jadi muridnya?"


"Bukan Kak, dia hanya bersedia melatihku selama beberapa bulan."


"Pantas saja, ternyata seperti itu. Ketika aku baru pulang dari misi, aku bertanya kepada semua orang di mana dirimu berada. Namun, jawaban mereka semua..."


"Sudahlah Kak... Aku tahu apa jawaban mereka. Kakak tidak perlu khawatir, sekarang sudah baik-baik saja."


"Ehm... Kamu sudah semakin kuat ya, Roland. Jika Ibu masih hidup, dia pasti bangga denganmu."


"Ibu... Aku merindukan Ibu, Kak."


Ketika mereka sedang beristirahat, sesuatu yang tidak terduga muncul.


"Master, ada kehadiran yang sangat kuat menuju ke tempat Master dengan kecepatan tinggi."


"Heh, jika itu Iblis, biarkan mereka datang. Aku akan membunuh mereka semua."


"itu bukanlah Iblis. Namun, seekor Naga."


"Apakah itu Fafnir? Eh, ternyata dia merasakan sihirku. Tenanglah Kak Jean, kita sudah aman sekarang."


"Master, maaf mengecewakan harapanmu. Tetapi, Naga itu berwarna... Perak."


"Naga Perak? Itu bukanlah Fafnir."


"Kak, kita harus pergi."


Naga itu melesat kencang, menyebabkan pepohonan ambruk, dan tanah terangkat.


"Sinnor kembali..."


"Baik Master."


Seketika Sinnor kembali.


"Master, naiklah ke punggungku. Aku akan membawa kalian."


"Hehm, Sinnor. ACKKK....!"


Naga Perak itu datang, dan memukul tanah. Menghempaskan Jean, dan Roland.


"Naga Perak ini... Sangat berbahaya, baru kali ini aku merasakan ketakutan dengan musuh sekuat ini."


Naga itu mengumpulkan kekuatan, dan mengarahkan Blast ke Jean.


"Sial... Kakak..."


"Ayo bergeraklah Kakiku..."


Blast dimulut Naga itu berkumpul, dan melepaskannya ke arah Jean.


"KAKAK....!"


Dengan kekuatan terakhirnya, Roland melompat di depan Jean, dan merafal sihir Shield. Namun....


Karena kekuatan itu terlalu dahsyat.


"Ro-Roland..."


Jean memanggil dengan tatapan kosong.


Tubuh Roland ambruk di depan mata Jean.


"ROLAND....! Bangunlah."


Naga Perak itu melepaskan Blast untuk kedua kalinya...


BOOOMMM...!!!


Fafnir datang dan membuat Shield, melindungi Jean, dan Roland.


Fafnir menoleh dan melihat keadaan Roland.


"Menyedihkan sekali, apakah hanya ini yang bisa kaulakukan, ROLAND..!"


Dengan nada yang lemah, Roland menjawab...


"Akhirnya kau datang juga ya. Syukurlah, selamatkan Kakakku."


"Apa yang kau katakan? Dengan luka seperti itu, bukankah kamu yang butuh pertolongan."


"Jangan khawatirkan aku."


"Aku akan menyembuhkan mu terlebih dahulu..."


Fafnir mencoba menyembuhkan Roland, akan tetapi...


"Master Agung? Apakah Roland bisa disembuhkan?"


"Ini adalah kutukan Naga. SIAL, HELMINE...! APA YANG KAULAKUKAN?"


Silver Dragon. Bernama Helmine, dia hanya bisa terdiam dalam wujud Naganya.


"Aku lupa kalau kau telah dikendalikan oleh Iblis sialan itu. Pergilah Helmine, aku tidak ingin melukaimu."


Helmine terbang menjauh, kembali ke arah di mana Kekaisaran Iblis berada. Sedangkan itu.


"Master Fafnir, tolong sembuhkan Adikku."


Fafnir hanya bisa melihat mata Roland dengan kasihan.


"Maaf... Aku tidak bisa melakukan apapun. Kutukan ini, diluar hukum yang berlaku."


"Tidak... TIDAK...! ROLAND... jangan tinggalkan Kakakmu."


Jean meronta, dan menangis dengan keras sambil memanggil nama Roland.


"Kakak, tidak perlu khawatir. Aku bisa bertemu dengan Ibu disana."


"Apa yang kau katakan, Roland? I-Ibu... Ibu pasti sedih jika melihatmu seperti ini."


Roland menyentuh pipi Jean, dan mengelus secara lemah.


"Sudah baik-baik saja."


Jean menahan tangis, dan memeluk Roland.


"Fafnir... Apa kau ingat janjiku? Aku akan menuangkan sebotol Wine di gelasmu. Aku membawanya sekarang."


Roland mengeluarkan sebuah cangkir dan sebotol Wine dari dalam cincin parsial.


Fafnir mengambil cangkir itu, dan menyerahkan botol Wine ke tangan Roland.


"Aku sangat ingin tidur di dalam gubukmu..."


"Ah... Setelah semua ini selesai, kau bisa tidur di sana kapan pun kamu mau."


"Izinkan aku untuk memanggilmu satu kali. Terima kasih, Master..."


"Hehm, baiklah Murid ku, Gurumu sudah mulai haus. Tuang Wine itu, Nak."


"Terima kasih atas semua yang kaulakukan, Master."


Roland mulai menuangkan Wine di cangkir yang dia buat. Namun, ketika cangkir itu sudah setengah terisi, botol itu terjatuh dari tangan Roland.


Di saat itu, Roland telah menghembuskan nafas terakhirnya ketika menuangkan Wine di cangkir Gurunya.


"Murid bodoh, Gurumu ini tidak akan puas hanya dengan setengah cangkir."


Fafnir menenggak Wine itu, kemudian air mata keluar, mengalir dengan sangat pelan, menetes ke tangan Roland.


Di malam itu, Fafnir yang berwujud Naga membawa Jean, dan Roland dipundaknya. Sepanjang perjalanan dihiasi oleh percikan air mata berwarna emas yang terbang terbawa angin.


Roland dikubur di dalam Gubuk tempat Fafnir tinggal.


Beberapa bulan sekali, Fafnir mengunjungi makam Roland sambil membawa Wine. Fafnir menuangkan Wine itu di cangkir muridnya, dan menaruhnya di depan batu nisan, setelah itu Fafnir akan menghabiskan malam dengan minum bersama dengan Roland.


"Seperti itulah kejadian yang menimpa Adik dari Jean Esthera."


Alex kemudian berdiri, dan meminta maaf kepada Jean.


"Maafkan aku Jean. Aku turut berduka cita atas Adikmu."


"Terima kasih Alex."


Kemudian Fafnir melanjutkan perkataannya.


"Kerajaan harus mengikuti Festival kali ini. Masalah penjagaan, aku sendiri yang akan menjaga Champion kita nanti."


Usulan ini dapat diterima oleh semua yang hadir di ruangan itu.


Sementara itu, Vallen sedang berlatih di tengah hutan.


"Shadow Step..."


Vallen melatih gerakan bayangan untuk bergerak lebih cepat, dan mengelabui musuhnya.


Hingga secara tiba-tiba, dia melihat sesosok Harimau Putih yang besar.


"Harimau? Ini adalah rute orang-orang desa untuk mencari kayu bakar, sangat berbahaya apabila dibiarkan. Aku harus membereskan ini."


Vallen mengejar Harimau itu, dan sampai di gubuk tua.


"Ehm... Gubuk tua ini? Aku tidak ingat ada gubuk di sekitar sini."


Di gubuk itu ada seseorang pria yang sedang menyapu halaman.


"Hai Tuan... Maaf mengganggu anda."


"Oh iya, ada apa teman?


"Apakah anda melihat seekor Harimau lewat sini?"


"Harimau? Oh, itu peliharaanku."


"Peliharaanmu?"


"Ya, lihatlah dia kesini."


Harimau itu mendekati pria itu, dan kemudian mengusapkan wajahnya ke kepala pria itu.


"Lihatlah, dia sangat jinak kan."


"Ah, baiklah. Hanya saja, lain kali hati-hati. Soalnya banyak sekali orang desa yang mencari kayu bakar di sekitar."


"Oh tentu saja teman, jangan khawatir. Eih, marilah sini duduk. Aku akan membuatkan Teh untukmu."


"Woh, benarkah? Anda sangat baik Tuan."


"Hahaha, hentikan-hentikan. Aku sangat senang karena kedatangan tamu hari ini."


Ketika Pria itu memasuki gubuk, dia sepintas melihat di dalam ada sebuah kuburan yang terawat.


Setelah Pria itu selesai membuat teh.


"Ah, sangat menyegarkan. Teh yang anda buat sangat luar biasa."


"Hahaha, tentu saja teman. Ini adalah teh yang berkualitas."


Vallen mencoba bertanya.


"Ehem, aku melihat makam di dalam gubuk milikmu tadi. Kalau boleh tahu, siapa yang dikubur disana?"


"Oh, jangan khawatir. Makam itu milik seseorang."


"Oh, milik seseorang."


Suasana semakin canggung.


"Oh iya, bukankah anda seorang Knight?"


"Heehh, anda tahu banyak tentang Knight. Itu benar, aku adalah Knight. Namaku Vallen, salam kenal Tuan."


"Itu hebat teman, dulu Kakakku adalah seorang Knight juga."


"Hehh... itu hebat Tuan."


"Apa yang kau katakan, yang hebat itu Kakakku kau tahu."


"Hahaha maaf-maaf."


"Jadi siapa Mastermu?"


"Ah, kau akan terkejut lho. Masterku bernama Fafnir, dia seorang Naga Kuno lho."


"Hmmm, apakah Fafnir sehebat itu?"


"Tentu saja dia hebat..."


Selama beberapa menit, Vallen menceritakan kehebatan Masternya. Mereka saling berbincang satu sama lain.


"Baiklah Tuan, karena hari sudah semakin sore, aku akan pulang dulu.. Terima kasih atas teh hangatnya, itu sangat enak."


"Hoo... terima kasih juga sudah berkunjung."


"Tentu saja, aku akan kembali lagi kapan-kapan... Etto, Tuan..."


"Roland... Namaku Roland. Sampai jumpa teman."


(Hmm, Sampai Jumpa? Aneh sekali. Ah biarlah.)


Ketika Vallen melangkah dia bertemu dengan Fafnir.


"Loh Master mau kemana?"


"Hmm? Kau sendiri kenapa bisa kesini, Murid Bodoh?"


"Ahh, aku tadi habis berkunjung di gubuk seorang pria. Dia memelihara seekor Harimau."


"Apa..?"


Fafnir seketika berlari menuju gubuk itu.


"Master? Ada apa.. Woi, tunggu aku."


Mereka menuju gubuk itu.


"Sudah kubilang tungg...u."


Ketika Vallen kembali untuk melihat gubuk itu, dia terkejut karena kondisi gubuk itu berbeda jauh dari sebelumnya. Gubuk itu terlihat tua, dan tidak terawat.


"Apa yang terjadi? Aku yakin ada seorang Pria, dan seekor Harimau tinggal di gubuk ini."


Ketika Vallen berjalan menuju gubuk tua itu, angin yang sangat lembut berhembus melewati Fafnir.


Angin itu membawa suara, berbunyi "Master, anda sudah menemukan Murid yang sangat baik."


Fafnir menjawab "Ya, Roland. Terima kasih. Hari ini aku akan minum Wine ini dengan Muridku itu menggunakan cangkir yang kau buat. Malam ini kami akan bercerita, dan minum di depan makam mu."


"Master... Ayo kesinilah, aku penasaran dengan gubuk ini."


"Hoi, jangan sembarangan. Di gubuk ini ada makamnya."


"Ada makam..?"


"Ya, dan hari ini kita akan menghabiskan malam untuk bercerita, dan bergurau di depan makam itu."


"Kau sangat aneh Master... Apakah akhirnya otak mu sudah rusak?"


"Apa yang kau katakan murid bodoh..!"


BOONG...!! Fafnir menjitak kepala Vallen.


"Auch... Sakit. Ehm, Master. Apakah kamu mengenal orang yang dimakamkan disini?"


"Ya, dia adalah orang yang sangat berharga, dan dia adalah seniormu."


"Woahh... Kamu harus menceritakan hal ini sekarang, Master."


"Apa kau yakin..? Ini cerita yang panjang lho."


"Tidak masalah, aku akan menemanimu malam ini. Sini biar kutuangkan Wine itu di cangkirmu."


Dalam benak Fafnir berkata.


(Walaupun waktu telah berubah, tetapi kenangan ini tetaplah sama. Sungguh sebuah Persimpangan yang saling terhubung.)