Dragon Soar To The Sky (Rewrite)

Dragon Soar To The Sky (Rewrite)
Ke Sarang Serigala Mistik



Di malam yang berawan, Vallen berpamitan dengan Illeria.


"Akhirnya besok adalah waktunya... Aku harap kamu baik-baik saja, Illeria."


"Tenang saja, aku akan baik-baik saja. Oh iya, apakah Tiffa ikut denganmu?"


"Tentu saja, dia adalah Maid pribadiku. Setidaknya itulah yang Paman inginkan."


"Ya... Ayah memang bersikeras untuk memberikan tugas seorang Maid untuk merawatmu."


"Hmm, bagaimana ya? Tiffa memang sangat cekatan, sangat terampil memasak, bersih-bersih, rajin, cantik, baik. Tapi, jika sifat merayu-nya bisa dihilangkan, mungkin dia menjadi Maid terbaik saat ini."


"Hufu... Bukankah itu karena dia tertarik denganmu, Tuan populer?"


"Aku, populer? Tidak-tidak, seperti yang kau tahu aku kemarin...."


Vallen mengingat saat dia pergi ke ibukota untuk berbelanja, namun semua wanita disana mendekati Vallen, dan meminta untuk di nikahi.


"Apakah itu yang disebut populer? Aku tidak yakin."


"Hmmm... Vallen, kamu terlalu bodoh."


"Oh ya Illeria, bagaimana dengan kabar Akademi?"


"Ah, aku mendapatkan pengalaman yang lebih banyak daripada disini. Termasuk pengalaman cinta."


(Pengalaman cinta? Aku merasa penasaran.)


"Hmm... pengalaman seperti apa yang kau dapat?"


"Contohnya seperti ini..."


Illeria mendorong Vallen ke tembok, dan mereka saling bertatap.


"Oh, lumayan. Terus apa lagi...."


Sebelum Vallen selesai berbicara, Illeria mencium Vallen dengan tiba-tiba.


"Hah... Vallen, babi kecilku..."


"B-Babi kecil? Sebenarnya pengalaman apa yang kau dapat disana?"


Illeria menghiraukan Vallen. Dia mulai menjilat, dan mencumbu leher Vallen.


"Illeria... Ja-Jangan di sana... Ack....!"


Vallen tidak dapat menahan.


"Aku suka sikapmu yang mendominasi..."


Tiba-tiba Illeria tersadar.


"AHH...! Apa yang terjadi? Maafkan aku, aku tidak dapat mengendalikan tubuhku."


Vallen merasa lega dia tidak ingat apapun yang terjadi tadi.


"Ah, tidak ada yang terjadi kok, tenang saja.."


"A-Apa kau yakin? Lalu, kenapa banyak bekas ciuman di lehermu?"


"Hah... Apa yang kau katakan, aku tidak mengerti. Ahahha."


"Maaf ya, aku terkadang merasa seperti ini. Perasaan yang memacu Adrenalin secara tiba-tiba."


"Hei-hei tenanglah, coba kesini."


Vallen menarik Illeria, dan memeluknya dengan erat.


"Apakah ini juga termasuk memacu Adrenalin?"


Illeria tidak menjawab, dia membenamkan wajahnya di dad Vallen, kuping-nya sangat merah seperti warna tomat.


"Aku juga suka sikap malu-malu mu yang seperti ini. Jangan khawatir, apapun yang terjadi, aku akan tetap berada disampingmu."


Setelah berpamitan, Vallen akhirnya berpamitan dengan Illeria. Dia kemudian kembali ke kediaman-nya.


"Selamat datang Tuan?"


"Tiffa, sudah kubilang berulang kali, panggil saja aku Vallen."


"Tidak, Tiffa tidak bisa memanggil Tuan seperti itu."


"Aku Tuanmu kan?"


"Itu benar Tuan."


"Kalau begitu ini adalah perintah tuanmu. Ketika hanya berdua, panggil aku dengan namaku. Kau paham?"


(Setelah beberapa waktu, aku menyadari asal usul Tiffa. Dia adalah seorang Elf yang terjebak perbudakan, entah bagaimana hal itu terjadi. Namun, aku selalu merasa kalau dia pernah membunuh seseorang.)


"B-Baiklah jika itu yang anda inginkan, Vallen."


(Hmm, kenapa dia merasa sangat malu? Wajahnya memerah semua.)


"Apa ada yang salah Tiffa?"


"T-Tidak ada yang salah. Kalau begitu, saya akan pergi dulu untuk menyiapkan makan malam."


"O-Ouh, baiklah."


(Sangat aneh.)


Esok hari telah tiba.


Hari ini adalah saat dimana Vallen akan pergi ke kediaman Deovare, Sang Arcknight Serigala Mistik.


Di luar, Noir Deovare sudah menunggu Vallen.


"Selamat pagi Noir-sama."


"Oh, selamat pagi juga Vallen, dan Tiffa."


Tiffa menganggukkan kepala.


"Apakah kamu sudah siap?"


"Sudah, Noir-sama."


"Baiklah kita akan berangkat. Sebelum itu, taruh semua barangmu ke kereta itu."


"Hmm, bukankah kita akan menaiki kereta itu? Kenapa ukurannya kecil sekali?"


"Siapa yang bilang kita akan naik kereta?"


"Hmmm?"


Noir bersiul, dan memanggil sesuatu.


Tidak berselang lama, terdengar suatu auman di langit.


"Woahh itu seekor Naga."


"Tentu saja, semua anggota keluarga Deovare mempunyai kontrak dengan binatang suci seperti Naga. Naiklah.."


"Ini sangat luar biasa.."


"Heh, ini bukan apa-apa. Tunggu sampai kau memasuki Palace kami."


"Aku penasaran apa yang akan aku lihat nanti."


"Hahaha tetap nantikan... Pier, kita berangkat."


Naga itu mengaum, dan mulai mengepakkan sayapnya.


Mereka menuju kediaman keluarga Guardian Deovare.