
Cukup menarik melihat pertarungan di sini, sihir yang mereka keluarkan terbilang cukup kuat.
Yah walaupun masih belum apa2 jika dibandingkan denganku.
Jika ada kesempatan murid bangsawan melawan rakyat, aku mungkin akan memilih orang tadi sebagai lawan dan tentu saja aku akan menghajarnya.
Setelah melewati banyak pertarungan akhirnya nomerku di panggil, giliranku telah tiba.
"Bersedia.... mulai."
Lawanku masih merafal mantra, aku akan mengirim gelombang kejut ke tubuhnya agar mengganggu proses rafalan.
"Zip(listrik keluar)."
"Arrrggg sialan dia bisa mengeluarkan gelombang listrik kah aduh rafalanku terhenti, heehh(bruakk)."
"Pemenangnya nomer 75."
Para penonton bersorak.
"Wooahh paduan sihir dan serangan fisik aku tak menyangka sebagai bakat Magus dia mempunyai fisik yang kuat, sangat tak dipercaya 1 pukulan bisa membuat lawan tumbang."
"Atribut petir level E tingkat 5, tetapi tak memakai rafalan dia bisa mengeluarkan sihir yang cepat."
"Luar biasa...."
Heh tentu saja aku luar biasa kalau aku mengeluarkan seluruh kekuatanku mungkin kalian akan jantungan hanya karna melihatnya.
Setidaknya aku harus mengepalkan tangan dan mengangkat ke atas.
"Hooaapp"
Mereka bersorak.
Setelah melewati banyak2 pertarungan aku menjatuhkan semua lawanku dan masuk ke babak akhir, disana kita akan melawan para bangsawan itu.
"Hoi sihirmu menarik juga untuk dilihat, meskipun atributmu terbilang langka tapi dengan level E bakat seperti itu cuma sampah."
"Mulutmu cukup tajam ya, yah bagaimanapun namanya juga kamu adalah anak dari seorang Duck(bebek) pasti banyak ngocehnya."
Para peserta menahan tawa mendengar omonganku.
"Diam kalian.... nama mu Vallen kan, akan ku hajar kau di Arena."
"Oowww silahkan saja tuan Bebek."
"Tsk..."
Aku akan membuatmu membayar semua yang sudah kau katakan bangsawan tolol, op aku belum tau namanya.
"Sepertinya kau mempunyai masalah serius kawan?" Dia orang yang menarikku pada saat menghalangi jalur para kawanan bangsawan itu.
"Masalah serius darimana... dia hanya kecebong aku akan menghajarnya di Arena nanti."
"Kamu cukup percaya diri... nama bangsawan itu adalah Wel Floyu dia anak dari bangsawan Duke Royaq Floyu yang berkerja di bawah kerajaan di bidang Sekretariat."
"Hoo tenyata dia anak dari seorang yang cukup penting yah, pantas saja dia seenaknya bacot."
"Hahaha kamu menarik sekali... aku menantikan pertunjukanmu melawannya."
"Hoo serahkan padaku, oh iya namaku Vallen"
"Ohh Vallen salam kenal namaku Quin."
Babak 10 besar akan dimulai sebentar lagi aku dan Quin termasuk yang di dalam, 7 bangsawan dan 3 rakyat biasa akan saling bertarung menentukan siapa yang terbaik.
"Baiklah babak pertama top 10 segera dimulai, nomer peserta 7 dan nomer peserta 43 silahkan menuju Arena."
Ohh ini giliran Quin kah, dan lawannya adalah seorang wanita yang mempunyai aura yang sama dengan kak Fiona... aku penasaran siapa dia.
"Bersedia..... mulai."
"Roh air berikan keagunganmu.... Freezing Talon." Oh wanita itu memanipulasi Air menjadi serangan Es, bahkan Aura dinginya bisa kurasakan sampai sejauh ini, dia kuat.
"Roh angin hempaskan lawanmu.... Wind Break." Jadi Quin beratribut angin dan kekuatannya cukup besar untuk seorang rakyat biasa... tapi dengan kerusakan seperti itu...
Serangan mereka saling bertabrakan.
Namun wanita itu tidak sampai di situ , dia sudah merafal mantra pengikat dan es menutupi kaki Quin.
"Heee nona cukup licik ya.."
"..... Ice Wall dengan ini berakhir sudah."
Dia mendorong Quin keluar dari Arena.
Penonton bersorak.
"Wooo dewi es luar biasa."
"Dewi es."
Wahh sorakannya luar biasa apakah dia sepopuler itu.... yah dari wajahnya cukup manis sih tapi dia pendiam banget.
Oh Quin kesini.
"Yahh aku kalah telak.. tapi bisa masuk 10 besar sudah pencapaian yang bagus menurutku."
"Ya begitulah bagi rakyat biasa seperti kita masuk 10 besar sudah pasti anugerah."
"Tapi untukku hanya masuk 10 besar masih belum cukup.. aku mengincar peringkat ke 1."
"Sudah kuduga kau luar biasa... tunjukkan pada para bangsawan itu apa yang dapat kita lakukan sebagai rakyat jelata."
"Hohh lihat saja... aku akan mengguncang Academy."
Pertarungan antar bangsawan cukup intens mereka merusak Arena dengan kekuatan sihir yang cukup besar, namun dengan adanya sihir penata ruang.... bangunan dengan kerusakan yang besar dapat kembali ke bentuk semula.
"Selanjutnya nomer peserta 75 melawan nomer peserta 5."
Giliranku kah, jika aku menang aku akan mengamankan babak semifinal.
Tanpa banyak bacot aku menyambar lawanku dengan sihir petir, aku sudah gak sabar melawan Wel Floyu.
"Pemenangnya nomer 75."
Mudah sekali, mungkin sudah waktunya mereka tahu bahwa aku tak membutuhkan rafalan apapun untuk mengeluarkan sihir tingkat rendah.
"Woo luar biasa... kau bahkan langsung menumbangkan bangsawan itu dalam 1 serangan."
"Ayolah Quin itu masih belum apa2.."
"Kau sangat kuat."
"Heh kuat kah... aku dulu adalah orang yang lemah."
"Semua orang pasti pernah mengalami tingkat terendah dalam hidup, namun seiring perkembangan bukankah kita semakin jadi lebih baik?"
"Yahh kau benar."
Ronde selanjutnya aku akhirnya melawan Wel.
"Nomer 75 melawan nomer 2."
"Yoo orang miskin bisa sampai di titik ini cukup mengensankan.... tapi maaf saja kau tak akan bisa lanjut ke final."
"Kalau aku yang menang... kau bisa lihat penampilanku dengan duduk di tempat penonton."
"Seperti biasa perkataan orang miskin yang gak tahu diri, aku akan merobek mulutmu."
"Ohh dari awal memang mulutku sudah robek, kalau masih menyatu bagaiamana kalau mau berbicara."
"Diam kau ****."
Pertempuran ini akan menjadi akhir bagimu.
"Bersedia..... mulai."
"Sihir kegelapan Black Radiant ."
Sihir kegelapan ya... pantas saja sifatnya buruk...
"Javelin Thunder." Aku akan mengejutkan elemenmu.
Sihir yang kami keluarkan bersentuhan dan menyebabkan ledakan di Arena.
"Lumayan... tapi masih lemah, sihir kegelapan Shadow Zone."
Dia membuat ruang kegelapan... cukup merepotkan.
"Ha ha ha kabut asap ini beracun lho, dan tubuhku sudah menyatu dengan asap ini.. kau tak akan bisa menyerangku."
Jadi dia bisa menjadi kumpulan asap dan berpindah pindah kah...
"Hei hei mau sampai kapan kau diam saja... kau akan teracuni lho, menggunakan sihir di dalam zona akan sulit karna aku bisa mengacaukan mana di udara dan memanipulasinya.... percuma saja kau melawan ku."
Untuk mengatasi hal ini... cukup mudah.
Zona gelap ini cukup merepotkan jarak pandang ku... tapi seekor naga tidak akan kalah hanya karna asap.
Gunakan indra mu... deteksi sumber panasnya... gerakannya dan posisinya....
"Aku melihatmu lho...." Aku mengeluarkan pedang Kusanagi dari cincin parsial dan menyerang Wel dengan sihir angin, kau tak akan bisa mengacaukan mana dari benda Artifak.
"Haah kemana dia kenapa dia tiba2 menghilang...(Slash), Arrrgggg."
Tebasan itu pasti cukup untuk merubahnya ke wujud manusia, pedang yang dapat memecah dimensi.... sungguh mengerikan pedang ini, aku akan langsung memasukan kembali pedangnya kalau ketahuan bisa gawat.
Akhirnya kabutnya menghilang...
"Kau punya kata2 terakhir tuan bangsawan?"
"Eih apa yang kau lakukan tadi...."
"Bukan urusanmu... dan rasakan ini Thunder Arrow."
"Arrrgghhh....(Bruk)."
Dengan tegangan sebesar itu wajar kalau dia langsung pingsan.
"Pemenangnya nomer 75."
Sorak2 an ini nggak buruk juga.
"Woohhh dia mengalahkan bangsawan lo.. hebat."
"Whahh kerenn..."
Aku turun dari Arena dan menghampiri Quin.
"Tenyata tak salah aku menilaimu... kau tak terlalu buruk."
"Ayolah Quin aku hampir mati dengan asap itu lo."
Oww pertandingan selanjutnya adalah antar bangsawan kah.
Si dewi es melawan bangsawan Elcott.
Dan tentu saja Dewi es memenangkan pertandingan.
"Quin kau tau siapa nama dewi es?"
"Hem... kau tak tahu? dia itu populer lho di kalangan laki2, dia bangsawan dari keluarga Linley."
"Bangsawan Linley?" Ternyata sama dengan kak Fiona, pantas Aura mereka terlihat sama.
5 menit berlalu....
Selanjutnya aku memperebutkan posisi ke 1 melawan si Dewi es kah...
Kondisi ku kurang baik karna menghirup asap beracun tadi.
Tapi itu bukanlah masalah.
"Bersedia.... mulai."
"Ice Wall..."
"Hehh mau langsung mendorongku kah...? Thunder Devine." Tembok es langsung hancur berkeping keping.
Ah sial dia sudah merafal mantra pengikat.
"Dash." Aku memperkuat langkah petir agar tak dapat terkunci sihirnya.
Medannya menjadi licin karna es... merepotkan sekali.
"Sudah berakhir.. Shining Crystal."
Panah berbentuk es kah.. lumayan banyak juga tapi...
"Raining Arrow.... kau yang akan berakhir Dewi es."
"Akkhhh." Dia menangkis seranganku dengan tangan kosong? ceroboh sekali.
Dengan posisi yang sudah ku kunci dengan menahan lehernya dia tak akan bisa bergerak... tapi dia wangi sekali.
"Pertandingan berakhir... nomer 75 menduduki posisi ke 1."
Hahh mendengar sorakan ini luar biasa....
"Hoi enak sekali kau memeluk dewi kami... kurang ajar."
"Oi bunuh lelaki itu."
"Bunuh bunuh 10x."
Arrggg aku masih memeluknya kah aku tak sadar.
"Ettoo kamu tidak apa2 kan?"
"Beraninya... beraninya kamu.... menyentuh tubuhku yang masih suci... kurang ajar(Slapp)."
"Blluuekkhh(tertampar)."
Kayaknya aku pernah merasakan situasi seperti ini...