Devano Pranata Yoga

Devano Pranata Yoga
Berbeda Dari Wanita Lainnya



"Jimmy," panggil Safira pada Jimmy yang masih sibuk dengan laptopnya.


Jimmy menoleh lalu mematikan laptopnya saat mengetahui siapa yang telah memanggil namanya.


"Mari, Nona," ucapnya karena sudah tau apa yang Safira inginkan.


"Emm, kita belanja di pasar tradisional saja, lebih dekat dari pada harus ke mall atau tempat lainnya."


"Tapi Nona, apa Nona tidak apa-apa...."


"Tidak apa, Jimm. Aku sudah terbiasa belanja untuk keperluan kafeku," jelas Safira tersenyum.


"Baiklah." Jimmy membuka pintu utama untuk Safira lalu menyiapkan mobil untuk pergi ke pasar tradisional.


15 menit kemudian. Sampailah Safira dan Jimmy di sebuah pasar yang cukup bersih dan sedikit berbau khas.


"Saya akan menemani Nona," ucap Jimmy lalu berjalan di belakang Safira. Safira tidak menjawab apapun, lagi pula, ia memang membutuhkan batuan untuk membawa semua barang belajaannya nanti.


"Nona, sebaiknya Nona tidak membeli daging ayam," saran Jimmy saat keduanya melangkah mendekati seorang penjual daging ayam.


"Kenapa?"


"Tuan Dev tidak suka ayam," jawab Jimmy tersenyum.


"Begitu, ya. Aku tidak tau itu."


'Dan Davin tidak memberi tahuku.' Lanjut Safira di dalam hatinya.


Safira memutar arah menuju penjual daging, lalu membeli satu kilo daging sapi segar.


Usai berbelanja semua kebutuhan, Safira dan Jimmy pun melangkah keluar dari dalam pasar. Jimmy membawa semua keresek belanjaan, sedangkan Safira hanya menentang keresek hitam kecil yang berisi cabe rawit dan juga cabe merah.


"Astaga, aku lupa membeli sesuatu!" ucap Safira saat mobil sudah melaju jauh dari pasar tradisional.


"Apa yang Nona lupa? Biar nanti saya belikan." Jimmy melirik Safira sekilas lalu kembali fokus pada kemudi.


"Baiklah."


Safira turun dari mobil saat mobil itu berhenti tepat di depan sebuah minimarket. Sedangkan Jimmy ia minta untuk menunggu dan tidak perlu ikut menyusulnya masuk.


10 menit kemudian, Safira keluar dengan tangan menentang 2 keresek belanjaan.


"Sudah Nona?" tanya Jimmy memastikan. Safira hanya menjawab dengan anggukan lalu menunjukkan kedua keresek yang ditentengnya.


"Jimmy?"


"Saya, Nona?" Jimmy kembali melirik lalu berusaha menebak apa yang akan Safira katakan selanjutnya.


"Apa Kak Dev mengizinkanku untuk membersihkan kamar dan mencuci bajunya?" tanya Safira tertunduk.


"Emm, maaf, Nona. Tuan Dev tidak mengizinkan itu. Nona tidak perlu membersihkan dan mencuci baju Tuan. Karena sudah ada pelayan yang melakukan itu," jelas Jimmy.


Safira diam, ia semakin tertunduk saat mendengar jawaban yang Jimmy berikan.


☆ ☆ ☆


Siang harinya. Safira sibuk mencuci pakaian-pakaiannya, ia sengaja mencuci setiap hari agar tidak menumpuk dan menjadi beban nantinya.


Usai mencuci, Safira pun melangkah menuju halaman samping dengan tangan memegang sebuah ranjang cucian bersih yang akan ia jemur.


"Anda berbeda dari wanita lainnya Nona," ucap Jimmy yang memang sedang memperhatikan Safira menjemur pakaiannya.


Setelah semua selesai. Safira langsung meletakkan keranjang itu di dekat jemuran lalu kembali masuk ke dalam rumah.


"Nona, saya akan keluar dan pulang nanti malam bersama Tuan Dev. Jika Nona ingin keluar, maka ambil saja kunci rumah di sini," ucap Jimmy menunjuk laci di meja kerjanya.


"Terimakasih, Jimm. Tapi kurasa aku tidak akan keluar, aku masih banyak kerjaan, masih banyak pekerjaan rumah yang belum aku selesaikan," jawab Safira lalu melangkah menuju dapur.


"Ya, Tuhan...Luluhkanlah hati Tuan Muda Dev. Kasian Nona Safira jika harus seperti ini setiap harinya," gumam Jimmy dan langsung ke luar dari rumah untuk menemui Dev di perusahaan.