
"Se-sejak kapan Kak Dev, bukan, maksudku, Se-sejak kapan kau berdiri di sana, Sa-sayang?" tanya Safira pada Dev yang tersenyum tanpa dosa.
"Memang kenapa?"
"Ti-tidak ada, aku, aku hanya kaget saja," jawab Safira yang sudah kehabisan kata-kata untuk menghadapi seorang Devano, yang tidak bisa dikalahkan dari segi manapun.
Dev kembali tersenyum penuh kemenangan. Pria itu berjalan mendekati Safira, menatap wajah Safira yang selalu merona karena ulahnya. Dev merangkul Safira, mengajak wanita itu menuju meja untuk sarapan bersama.
Di meja makan sudah ada beberapa potong sandwich, roti bakar, dan juga dua gelas susu coklat dan susu vanilla hangat.
Dev tersenyum sambil menarik kursi untuk Safira, lalu mempersilahkan Safira duduk, dan ikut duduk di samping Safira.
"Kau mau susu coklat atau vanilla?" tanya Dev. Safira berpikir sejenak.
"Kak Dev ingin sarapan dengan apa? Sandwich atau roti bakar?" Safira balik bertanya.
"Aku? Aku ingin sarapan denganmu! Menikmati dirimu? Bagaimana, apa kau juga mau?" jawab Dev dengan senyum jahilnya.
Safira kembali merona, sungguh, setiap apa yang keluar dari mulut Dev, pasti akan langsung membuat Safira merona sekaligus malu mendengarnya.
Dev mengambil sepotong roti, lalu meletakkan roti itu di depan mulut Safira.
"Buka mulutmu!"
"Aku, aku bi...."
"Buka atau kugigit mulutmu sampai terbuka!" potong Dev mengancam. Safira pun membuka mulutnya, dan menguyah roti bakar itu dengan hati yang berdebar tak karuan.
Dev menyodorkan segelas susu coklat pada Safira, Safira pun menerimanya dan langsung menyesapnya dengan perlahan. Dev terus menatap bibir Safira yang bersentuhan dengan gelas susu itu, membuat dirinya tidak tahan lagi dan ingin segera mencicipi susu itu dari bibir Safira.
☆ ☆ ☆
Akhirnya, sarapan yang penuh drama itu pun selesai. Kini Dev dan Safira sudah kembali ke dalam kamar. Dev terlihat sibuk menutupi lukisan berharganya dengan kain putih. Pria itu benar-benar berniat untuk membawa pulang dan memajang lukisan itu di kamarnya dan Safira, di rumah baru.
"Ayo, kita akan kesini lagi besok," ucap Dev sambil menggenggam tangan Safira, mengajak Safira untuk keluar dari Villa. Karena mereka harus kembali ke kota secepatnya.
Safira hanya bisa menurut saja, walau sebenarnya, ia masih ingin lebih lama lagi di Villa ini. Jika bisa, Safira ingin dia dan Dev tinggal di sini saja, tanpa harus kembali lagi ke kota.
Dev terus menatap wajah Safira, membuat si pemilik wajah merasa tidak nyaman karena tatapannya. Safira pun kembali menutup wajahnya dengan telapak tangannya.
"Jangan ditutup!" Dev menurunkan tangan Safira, menggenggam tangan itu dengan erat.
"Berjanjilah!" ucap Dev setelah hening yang cukup lama.
"Berjanji untuk apa, Sayang?" tanya Safira sambil menatap pria yang duduk di sampingnya itu.
"Berjanji untuk tetap mencintaiku, hanya aku, tanpa ada pria lain dihatimu," ucap Dev. Pria itu menyentuh pipi Safira dengan tangan kanannya.
"Jangan pernah lupakan aku, jangan pernah pergi meninggalkanku, jangan pernah berpikir untuk jauh dariku, bisakah kau berjanji untuk itu?" lanjutnya sambil bergeser mendekati Safira.
"Aku berjanji, aku akan selalu mencintaimu, selalu ada untukmu, dan tidak akan pernah menjauh darimu, sekali pun kau sendiri yang memintanya," jawab Safira tersenyum.
Dev tersenyum mendengar ucapan Safira. 'Aku juga berjanji, berjanji untuk selalu melindungimu, berjanji untuk menjadikanmu wanita satu-satunya dalam hidupku.' Batin Dev. Pria itu memegang kedua pipi Safira, lalu mencium kening Safira cukup lama.
'Astaga, jiwa jombloku menangis melihat semua ini...Ya, Tuhan...Tolong sadarkan kedua insan di belakangku ini. Ingatkan mereka, kalau masih ada aku disini, aku yang hanya bisa tersenyum koyol mendengar dan melihat semua tingkah laku mereka.' Batin Jimmy merana.