
Davin dan teman-temannya berjalan memasuki mall terbesar di kota itu. Gadis-gadis itu sudah berencana untuk jalan-jalan bersama dan juga nongkrong di salah satu restoran favorit mereka, yang berada di lantai dua.
Dari keempat teman-teman Davin, hanya Pretty lah yang berpenampilan layaknya seorang wanita normal. Selebihnya, berpenampilan seperti pria jadi-jadian.
Davin berjalan paling depan, gadis itu mengeluarkan Hpnya, karena ia lupa meminta izin keluar pada Dev, dan berniat untuk mengirim pesan pada Kakaknya itu sekarang.
Brukk....
Karena terlalu fokus pada Hpnya, Davin pun tidak sengaja menabrak seseorang. Membuat barang yang dibawa orang itu terjatuh, dan bersererakan di lantai mall.
"Maaf, saya tidak sengaja," ucap Davin sambil memunguti barang-barang yang berjatuhan di dekat kakinya.
Henry, dialah orang yang Davin tabrak tadi. Pria itu pun ikut berjongkok untuk mengambil Hpnya yang ikut terjatuh.
"Astaga, Hpku!" gumam Henry yang melihat layar Hpnya retak, dan layarnya sudah tidak bisa disentuh lagi.
"Maaf, Om. Aku akan menggantinya," ucap Davin sambil menyerahkan headset dan juga dompet yang ia pungut pada Henry.
Seketika wajah kesal Henry berubah saat melihat siapa wanita yang sudah menabraknya tadi. Henry langsung memutar otaknya, mencari cara memanfaatkan kesempatan ini untuk dekat dengan Davin.
"Aku akan ganti rugi, Om," ucap Davin lalu menarik lengan Pretty. Gadis itu berpikir sejenak.
"Maaf, Om! Boleh aku lihat Hp Om sebentar?" tanya Pretty. Henry pun menyerahkan Hpnya pada Pretty.
"Davin! Jangan-jangan dia hanya berpura-pura! Dia hanya ingin memanfaatkanmu!" Bisik Agnes pada Davin. Agnes memang memiliki sifat yang mudah curiga pada seseorang, atau suka berburuk sangka.
"Tidak mungkin, kulihat, dia tidak seperti itu," jawab Davin sambil membolak-balik Hp Henry. Sementara Henry, pria itu sibuk mengingat nama Davin dan semakin mempertajam pendengarannya.
"Baiklah, Om! Ambil ini, aku punya segitu, sisanya akan ku transfer nanti," ucap Davin lalu menyerah uang sebanyak tujuh ratus ribu sebagai uang mukanya.
"Tidak, kau tidak perlu ganti rugi," ucap Henry tersenyum manis.
"Tidak boleh seperti itu, ambillah ini, dan katakan, berapa nomer rekening Om!" jawab Davin karena merasa tidak enak pada Henry.
"Davin!" Agnes menarik lengan Davin. "Pinjam uangku saja, jangan sampai kau transfer uang pada orang itu," bisiknya pada Davin.
Davin pun berpikir sejenak. "Emm, berikan uangmu!" ucapnya.
Agnes mengeluarkan dompet tebalnya. Lalu menyerahkan beberapa lembar uang ratusan pada Davin.
"Masalah selesai Om, maafkan teman saya, kami duluan, ya?" ucap Agnes lalu memberi isyarat pada teman-temannya untuk segera pergi, meninggal Henry seperti orang bodoh di sana.
"Hah? Apa ini? Kenapa aku jadi seperti orang bodoh dan tidak punya harga diri di hadapan mereka?" gumam Henry. Ia menatap bingung Hpnya dan juga uang yang ada di tangannya.
Sementara itu, Davin terus menoleh ke belakang. Entah mengapa, ia masih belum tenang dan masih berasa bersalah pada Henry.
"Kenapa? Apa kau menyukai Om tadi?" goda Pretty pada Davin.
"Tidak! Aku hanya kasihan padanya," jawab Davin sambil membenarkan antingnya.
"Kau kasihan? Seorang Davina kasihan? Yang benar saja!" sahut Agnes dan diikuti oleh tatapan tidak percaya yang lainnya.
"Memang kenapa? Aku kan tadi salah! Apa salah jika aku merasa kasihan padanya?!" ucap Davin sambil menatap tajam satu persatu teman-temannya.
"Bukan begitu, Davin. Kami hanya kaget mendengarnya," jawab Pretty lembut, yang lain hanya menggangguk membenarkan ucapan Pretty.
Davin hanya menganggapinya dengan senyum tipis. Ia kembali menoleh ke belakang, dan ternyata, Henry sudah tidak ada di sana.