
Aldy duduk di kursi kerjanya, dan disusul oleh Dev yang duduk di sebelahnya.
"Apa yang ingin Ayah bicarakan?" tanya Dev membuka percakapan.
"Ayah akan mengunjungi Paman Jordan untuk beberapa hari, atau mungkin sampai satu minggu," jawab Aldy. Dev pun hanya mengangguk lalu menunggu Ayahnya itu untuk melanjutkan ucapannya.
"Kau tau, kan? Ayah tidak mungkin meninggalkan Ibumu selama itu? Jadi, Ayah berencana untuk mengajak Ibumu juga," lanjutnya. Dev kembali mengangguk.
"Tinggallah di sini bersama Safira. Sampai Ayah dan Ibu pulang. Kau tau sendiri, kan? Bagaimana kelakuan adikmu jika tidak diawasi oleh siapapun?" lanjut Aldy.
Dev kembali mengangguk lalu berpikir sejenak. "Bagaimana jika Davin yang tinggal bersama kami?" ucap Dev memberi saran.
"Jarak perusahan jauh dari sini, dan akan memakan waktu cukup lama. Begitu pula dengan kampus Davin. Sedangkan dari rumah baru, jarak perusahaan dan juga kampus Davin tidak memakan waktu sampai setengah jam perjalanan," lanjut Dev menjelaskan.
Kini Aldy yang mengangguk dan memikirkan apa yang Dev sarankan tadi. "Baiklah, itu terdengar lebih baik," ucapnya menyetujui.
☆ ☆ ☆
Sore harinya, Dev dan Safira pamit untuk pulang, dengan Davin yang ikut bersama mereka. Sebelumnya, Aldy dan Jessica sudah menjelaskan semuanya pada Davin. Gadis itu pun setuju, asalkan dia tetap bersama sang Kakak. Jadi, tidak apa jika Ayah dan Ibunya pergi untuk beberapa hari saja, asalkan jangan untuk selamanya.
"Jangan merepotkan Kakakmu, ikuti semua kata-katanya," ucap Jessica lalu mengecup kening Davin.
"Ayah dan Ibu kapan berangkat?"
"Besok, kau fokuslah pada kuliahmu, tidak perlu untuk ikut mengantar Ibu dan Ayah ke Bandara," jawab Jessica tersenyum.
"Ibu, Ayah, kami pamit," ucap Safira mewakili Dev. Ia dan Dev pun mencium punggung tangan Jessica dan juga Aldy, lalu disusul oleh Davina. Safira dan Davina memasuki mobil, sedangkan Dev sibuk memasukkan barang-barang adiknya itu ke dalam bagasi mobil.
Belum sempat mobil melaju keluar dari halaman utama, Davin sudah meminta Dev berhenti dan langsung turun dari mobil itu.
"Motorku?"
"Ah, aku sekarang naik motor saja, Bu. Agar tidak merepotkan orang lain nantinya," ucap Davin beralasan, agar ia diizinkan mengendarai motor kesayangannya.
"Hmmm, pintar sekali, ya, anak Ibu yang satu ini," jawab Jessica sambil memberikan kunci motor kesayangan anaknya itu.
"Ikuti peraturan lalu lintas, Nak!" sahut Aldy memperingati.
"Siap, Komandan." Davin segera berlari menuju garansi, lalu mengeluarkan motor kesayangan, dan langsung mengejar mobil Dev yang sudah keluar terlebih dahulu.
Sementara di dalam mobil, Safira terus berpikir, ia ingin mengatakan sesuatu pada Dev. Tapi bingung harus memulainya dari mana.
"Emm, Kak Dev?" panggil Safira ragu.
"Hmmm?"
"Emm, itu, Davin, di mana dia akan tidur? Sedangkan di rumah tidak ada kamar tamu?" ucap Safira mengingatkan.
Mendengar ucapan Safira, Dev pun langsung tersentak kaget, hampir saja dia hilang fokus pada jalan di depannya.
"Benar juga," gumam Dev lalu mengelus tengkuknya sendiri. Pria itu seketika teringat, kalau di rumah barunya memang hanya tersedia satu kamar tamu, itupun kamar yang Safira tempati selama ini.
"Hmmm, bagaimana jika kau tidur di kamarku. Dan Davin tidur di kamarmu, masalah akan selesai," ucap Dev setelah memikirkan semuanya matang-matang.
"Emmm, terus, Kak Dev tidur di mana?"
"Ya tetap di kamarku!" jawab Dev dengan nada yang sedikit ditinggikan.
"Baiklah, jika itu yang terbaik."
Keduanya kembali diam, Safira sibuk dengan pemikiran sendiri, begitu pula dengan Dev yang mencoba kembali fokus untuk mengemudi.