Devano Pranata Yoga

Devano Pranata Yoga
- Bucin -



Dev menyentuh pipi Safira, memainkan rambut bergelombang wanita itu. Safina tersenyum samar, lalu kembali larut dalam tidurnya. Wanita itu kini tertidur dalam pelukan Dev, setelah ia puas mengeluarkan semua air mata bahagianya.


Dev terus mengelus kepala Safira, ia bahkan tidak ingin jauh dari wanita itu, walau hanya sebentar saja.


Dev melirik Hpnya, ia pun terpikir untuk menjahili Safira. Dev membuka kamera, mengambil foto selfie-nya dengan Safira yang masih tertidur di dalam pelukannya.


"Kak Dev?" gumam Safira. Entah ia sedang bermimpi apa sekarang.


"Sayang? Kau kenapa?" tanya Dev sambil mengelus pipi Safira, Safira kini menangis dalam tidurnya.


"Sayang! Bangunlah!" ucap Dev mulai khawatir. Dev terpaksa mencubit Safira, membuat Safira terbangun dan langsung menatap ke arahnya.


"Minumlah." Dev menyodorkan segelas air putih pada Safira. Safira menerimanya, dan meminumnya sampai setengah.


"Mimpi apa?" tanya Dev dengan tangan kanan mengelus pipi Safira, sedangkan tangan lainnya menggenggam tangan Safira.


"Tidak ada, aku hanya terbawa suasana tadi," jawab Safira jujur. Safira kini menyeka air matanya lalu tersenyum manis pada Dev.


"Jangan berbohong padaku!" ucap Dev lalu mencium punggung tangan Safira.


"Aku tidak berbohong, Sayang."


"Aku tau," jawab Dev lalu menghujani wajah Safira dengan kecupan hangat.


"Lalu?" Safira menahan Dev, pria itu pun menghentikan aksi konyolnya.


"Aku hanya ingin mendengarmu berbicara, suaramu membuatku jatuh cinta." Dev memegang kedua pipi Safira lalu mencubitnya dengan gemas.


"Sakit, Kak!" ucap Safira dengan nada yang sedikit tinggi.


"Tidak, Sayang! Kau melakukan kesalahan," jawab Dev dengan senyum menyebalkan menghiasi bibir jahilnya itu.


"Maaf," lirih Safira.


"Tidak boleh seperti itu! Cepat, tebus kesalahanmu!" Dev melipat kedua tangannya di dada, memejamkan matanya, menunggu ciuman dari Safira.


'Ish, Kak Dev pintar sekali! Dia tidak pernah terkalahkan! Dan sialnya lagi! Aku tidak pernah bisa menolak keinginannya!' Batin Safira.


"Cepat, Sayang! Atau akan kuganti hukumannya deng...." Ucapan Dev langsung terhenti saat bibir Safira menempel pada bibir jahilnya itu.


"Bersiap-siaplah, kita akan ke rumah utama untuk pesta nanti malam," ucap Dev. Pria itu berdiri lalu melangkah mendekati dinding yang mencuri perhatiannya sejak tadi.


Di setiap dinding kamar Safina ada namanya, entah itu ditulis dengan spidol hitam ataupun spidol merah. Intinya, dinding kamar ini dipenuhi oleh nama seseorang Devano Pranata Yoga.


"Apakah kau tidak suka mencoret di buku? Kenapa harus mengotori dinding seperti ini?" tanya Dev dengan hati-hati.


"Aku suka saja," jawab Safira. Safira mendekati Dev, lalu menarik tangan Dev menuju pojok kamarnya.


"Ini coretan terakhirku, tepatnya pada malam sebelum acara pernikahan kita," ucap Safira sambil menyentuh dinding kamarnya.


"I love you." Dev kembali memeluk tubuh Safira dari belakang.


"Terimakasih untuk cinta yang kau berikan padaku," lanjutnya. Safira hanya tersenyum samar.


"Kau tau?" tanya Dev sambil mempererat pelukannya.


"Tidak, aku tidak tau," jawab Safira, Safira mulai serius sekarang.


"Ya, karena kau tidak tau, maka aku akan memberi tahumu, agar kau tau," ucap Dev lalu melonggarkan pelukannya.


"Aku sebenarnya...." Dev menggantung ucapannya. Ia kini memperhatikan raut wajah penasaran dan juga kesal Safira.


"Aku sebenarnya...." Dev kembali diam, hal itu membuat Safira ingin memukulnya sekarang juga.


"Aku sebenarnya lupa mau bilang apa, yang ada di ingatanku hanya satu." Dev diam sejenak. "Hanya ada dirimu, dan dirimu," lanjutnya mengombal.


"Aku mencintaimu." Dev tersenyum samar saat tangannya tidak sengaja menyentuh sesuatu di depan sana.


"Sayang! Tanganmu!" Safira menghentikan tangan Dev, membuat pria itu mendengkus kesal.


"Dasar pelit!" gumam Dev. Safira langsung tertawa kecil mendengar gumamannya.


"Lucunya....." ucap Safira gemas. Safira terus memperhatikan ekspresi wajah menggemaskan Dev. Tangannya pun tidak bisa ditahan lagi, terpaksa ia harus mencubit dan menarik pipi Dev. Sampai Dev teriak kesakitan.


"Hehehe, Maaf," ucap Safira lalu berlari saat Dev terlihat hendak membalasnya. Dan pada akhirnya, mereka terus saling mengejar layaknya Tom and Jerry. Keduanya mulai berhenti saat merasakan keringat mulai bercucuran membasahi baju mereka.