
Kediaman Devano & Safira.
Dev menyandarkan kepalanya pada kursi kerja, pria itu mendongak menatap langit kamarnya. Ia membuka laci meja kerjanya, mengeluarkan foto yang ia masukkan beberapa hari yang lalu. Dev kembali memasukkan foto itu, kini hatinya sudah lebih tenang dan tidak seperih dulu, ketika melihat wajah Aurora yang sudah pergi meninggalkan dirinya. Bahkan sudah berbeda alam dengannya.
Dev memutar tubuhnya menghadap dinding kamarnya, seketika, ia tersenyum melihat lukisan berharga yang sudah terpajang di kamarnya. Lukisan itu menggambarkan seorang wanita yang tidur di atas kasur, dengan sebagian tubuh yang tertutupi oleh selimut berwarna putih dan dengan rambut bergelombang yang sedikit berantakan.
"Sa-sayang?" panggil Safira dari ambang pintu kamar. Seketika, Devano langsung tersadar dan menoleh ke arah Safira.
"Ada apa, Sa?"
"Jimmy ingin membicarakan sesuatu, dia menunggu di bawah," jawab Safira lalu berbalik dan hendak menuruni tangga.
"Sa?" panggil Dev. Safira pun menghentikan langkahnya dan menatap ke arah Devano.
"Kemarilah!" ucap Dev sambil tersenyum pada Safira. Safira pun mendekat ke arah pria itu.
"Ada apa, Sa-sayang? Aku masih belum selesai dengan urusan dapurku."
"Aku janji, ini tidak akan lama, duduklah!" ucap Dev lalu meminta Safira untuk duduk di pangkuannya.
"Tapi, Sa-sayang...." Safira langsung menghentikan ucapannya dan mengikuti apa yang Dev perintahkan padanya. Safira mendudukkan dirinya di atas pangkuan Dev.
Dev kembali membuka laci mejanya, mengambil kotak kecil di sana. Dev merapikan rambut Safira, memasangkan kalung berlian yang ia hadiahkan untuk wanita itu
"Ini? Ini untukku?" tanya Safira sambil memegang kalung yang sudah terpasang cantik di lehernya. Dev tidak menjawab apapun, pria itu malah menaruh dagunya pada ceruk leher Safira.
"Beri aku ciuman terimakasih," ucap Dev, masih dengan posisi Safira di atas pangkuannya
Safira menghembuskan nafasnya pelan, lalu bangkit dari duduknya, dipegangnya kedua pipi Dev. Safira menatap mata pria itu penuh makna, lalu menutup mata itu agar tidak menatap ke arahnya. Safira mendaratkan bibirnya pada bibir Dev, lalu menjauhkannya sebelum Dev menyerang balik dirinya.
"Jimmy menunggu di bawah, Sa-sayang," ucap Safira sambil menyembunyikan wajahnya yaang sudah merah merona.
"Hahaha, baiklah, kau lolos kali ini," jawab Dev lalu merangkul Safira untuk keluar dari kamar, keduanya menuruni tangga bersamaan.
"Ada apa, Jimm?" tanya Dev setelah mendudukkan dirinya di samping Jimmy, sementara Safira sudah kembali ke dalam dapurnya.
"Ini tentang Henry, Tuan."
Dev tidak menjawab apapun, ia masih menunggu Jimmy melanjutkan ucapannya.
"Pria itu membuntuti Nona Davina sampai kampus, ia juga menaruh coklat di atas motor Nona Davin, tapi Nona Davin tidak mengambilnya. Tidak sampai di situ saja. Henry juga membuntuti Nona ke minimarket, sepertinya, dia menaruh hati pada Nona Davin," ucap Jimmy, sesuai dengan laporan yang ia dapat dari pengawal, yang selalu berada di sekitar Davin.
"Biarkan saja, aku ingin lihat, apakah dia mencintai adikku, atau harta adikku saja," lanjut Dev. Pria itu meminta data pribadi Henry yang sudah Jimmy rangkum, dalam kertas-kertas yang sama dengan data pribadi rivalnya.
Usai membaca semuanya, Dev kembali meminta Jimmy untuk menyimpannya. Dan ia juga meminta pada Jimmy untuk tetap memantau semuanya, termasuk gerak-gerik yang mencurigakan dari Bastian.
"Tuan, sebaiknya anda meminta Nona Safira untuk memblokir Bastian di akun Instagramnya. Pria itu pasti akan terus mengganggu Nona Safira," ucap Jimmy memberi saran. Dev pun menyetujui saran itu. Dev melangkah mendekati dapur, lalu bertanya pada Safira, dimana wanita itu menaruh Hpnya sekarang.
"Sa, mana Hpmu?"
"Ada di kamar, Sayang," jawab Safira dengan lancar, tanpa terbata-bata lagi.
Dev tersenyum sejenak, lalu melangkah dengan cepat menaiki tangga, menuju kamarnya. Ia menatap ke arah meja rias, dan ternyata, di sana Safira meletakkan Hpnya.
Dev membuka sandi dan langsung menyalakan data seluler. Tanpa basa basi, Dev langsung membuka akun Instagram Safira, yang memang sudah login di sana.
Dev mengepal tangannya saat membaca begitu banyak pesan dari laki-laki yang masuk di akun Safira, walau Safira tidak pernah membuka atau membalas mereka. Namun, Dev tetap saja kesal melihatnya.
Dev memblokir semua pengirim pesan tadi dan juga memblokir akun Instagram milik Bastian. Pria itu juga menghapus semua foto Safira, dan hanya menyisakan satu foto saja. Itupun foto Safira dan teman-temannya.
Setelah menyelesaikan misi rahasianya. Dev kembali meletakkan Hp Safira, lalu berniat untuk menemui Safira, dan mengatakan semuanya sekarang juga. Agar Safira tidak marah padanya.
"Sa?" Dev memeluk tubuh Safira dari belakang, tanpa perduli dimana mereka sekarang, dan sedang apa Safira disana.
Safira kembali menghembuskan nafasnya, mematikan kompor lalu membalikkan tubuhnya menghadap Dev.
"Ada apa, Sayang?" tanya Safira.
"Aku sudah membuka Hpmu tadi." Dev diam sejenak, ia memperhatikan ekspresi biasa-biasa saja dari wajah Safira.
"Aku membuka akun Instagram-mu," lanjutnya. Safira masih biasa-biasa saja.
"Aku memblokir semua pria yang mengirim pesan padamu, semuanya! Tidak ada yang kusisakan satu pun. Aku juga menghapus foto-fotomu." Dev masih mengamati ekspresi Safira. Terlihat Safira tidak keberatan dengan semua yang ia lakukan.
"Lalu?" tanya Safira dengan wajah polosnya.
"Kau tidak marah padaku?"
"Tidak, untuk apa aku marah, aku tidak keberatan dengan semua itu." Safira tersenyum. 'Asalkan kau bahagia, dan tidak marah-marah lagi padaku.' imbuhnya di dalam hati.
"Maaf mengganggu, lanjutkan lagi masakmu," ucap Dev tersenyum. Sementara Safira, ia hanya bisa menggelengkan kepalanya karena semua tingkah berlebihan Dev.