Devano Pranata Yoga

Devano Pranata Yoga
#Henry & Bastian



Henry terus memperhatikan gadis yang sedang termenung dipinggir jalan. Sepertinya gadis itu sedang butuh bantuan sekarang. Henry pun memberanikan diri untuk mendekati gadis itu.


"Hai? Apakah kau butuh bantuan?" tanya Henry tersenyum.


Davina yang tengah melamun langsung tersadar dan menatap ke arah Henry.


"Om? Apa yang Om lakukan di sini?" Davina balik bertanya.


"Aku?" Henry menunjuk dirinya. Davin pun mengangguk membenarkan ucapnya.


"Aku melihatmu melamun, apakah kau ada masalah?" tanya Henry.


"Emmm, begini, Om. Di depan ada razia helm," jawab Davin sambil menatap Henry. "Aku lupa bawa helm," lanjutnya dengan raut wajah yang begitu menggemaskan.


"Oh, hanya itu?" Henry membuka helm yang ia kenakan, lalu memberikan pada Davin.


"Bagaimana dengan Om?" tanya Davin. Ia masih menatap wajah Henry.


"Gampang, jangan pikirkan aku, pakailah!" jawab Henry sambil tersenyum manis pada Davin.


Davin meraih helm itu dari Henry, lalu memakainya. Gadis itu menghidupkan motornya, namun belum berniat untuk melajukannya.


"Terimakasih, Om. Namaku Davina, Om bisa memanggilku Davin," ucap Davin sambil menurunkan kaca helm nya.


"Aku Henry," jawab Henry. Davin hanya menanggapi dengan anggukkan saja.


"Sekali lagi, terimakasih, Om! Aku akan mengingat kebaikanmu," ucap Davin lalu menancap gasnya, meninggalkan Henry yang masih menatap kepergiannya.


Henry bersiul sambil membuka pintu rumahnya. Pria itu terkejut saat mendepati Bastian yang sedang terduduk di dekat sofa, sambil memegang sebuah botol minuman keras.


"Apa yang kau lakukan, bodoh!" teriak Henry pada adiknya itu. Bastian tidak menjawab apapun. Ia malah menyuruh Henry untuk diam dan tidak banyak bicara di hadapannya.


"Safiraku....Lihat aku.....Aku masih mencintaimu...." gumam Bastian sambil menunjuk dirinya sendiri.


"Bastian!" Henry berjongkok di depan Bastian. Memegang pundak pria itu. Bastian menepis tangan Henry, lalu kembali meneguk air dari botol yang ada ditangannya.


"Sadarlah! Safira sudah menjadi istri orang sekarang! Kau harus melupakannya!" tekan Henry. Bastian hanya menggeleng sambil meletakkan jari telunjuknya di depan bibir Henry.


"Jangan banyak bicara, Kak! Safira itu akan menjadi milikku! Aku mencintainya...."


"Dia tidak mencintaimu!" potong Henry. Henry menyeret Bastian menuju kamar mandi, menguyur adiknya itu sampai basah kuyup.


"Aku mencintai Safira....Aku tidak bisa melupakannya," gumam Bastian.


Henry hanya bisa menggelengkan kepalanya saja. Pria itu pun kembali memapah Bastian untuk keluar dari kamar mandi. Menghantarkannya sampai kamarnya.


"Jangan pikirkan Safira lagi! Pikirkanlah kesehatanmu! Aku akan mengambil obatmu dulu," ucap Henry penuh kesabaran.


Hubungan Henry dan Bastian bisa dibilang cukup hangat. Kedua kakak beradik itu selalu melindungi satu sama lain. Bahkan keduanya selalu menyelesaikan semua masalah hidup yang mereka hadapi bersama. Namun, semuanya mulai berubah saat Bastian mengalami gangguan kejiwaan, itu semua bermula setelah kepergian Ibu mereka. Wanita yang selama ini membesarkan mereka tanpa seorang ayah. Dan semua itu berlangsung dalam jangka waktu yang cukup lama.


Kepergian sang Ibu menjadi tekanan yang sangat berat dalam hidup Bastian. Selama ini, Bastian selalu memberikan yang terbaik untuk Ibunya. Ia bahkan belajar dengan giat, agar Ibunya tidak kecewa dengan semua nilai-nilai belajarnya.


Bastian bisa dibilang anak yang cukup baik dan rajin belajar. Sampai hal itulah yang menjadi alasannya untuk tidak mengejar cintanya diwaktu SMA. Namun siapa sangka, gadis yang ia cintai ternyata sudah menikah sekarang. Bahkan menikah dengan seseorang yang tidak bisa dibandingkan dengan dirinya. Bastian jauh dibawahnya.