
Safira membaringkan dirinya di samping Dev, setelah ia berganti baju dengan baju tidur, yang berwarna senada dengan milik Devano. Dev membuka matanya, pria itu kini membalik tubuhnya menghadap Safira.
"Kau kenapa?" tanya Dev pada Safira yang terlihat begitu lelah. Pria itu meringsut mendekati Safira, lalu memang pundak wanita itu, memijatnya pelan.
"Bagaimana? Apa ini membantu?" tanya Dev. Safira hanya mengangguk pelan.
"Sabarlah, besok aku akan memanggil Bibi Laras atau pelayan yang lain untuk membantumu. Maaf, karena membuatmu selelah ini dalam mengurus rumah." Dev menghentikan pijatannya sejenak, pria itu mencium pundak Safira cukup lama, lalu melanjutkan pijatannya.
"Aku baik-baik saja, Sayang. Kau tidak perlu minta maaf seperti itu," jawab Safira tersenyum.
"Buka bajumu!" ucap Dev tiba-tiba, membuat si pemilik tubuh kebingungan.
"Aku akan memijat punggungmu!" lanjut Dev memperjelas. Safira pun dengan patuh membuka baju tidurnya, lalu kembali berbaring dengan posisi tengkurap.
Awalnya, acara pijat memijat itu berjalan dengan normal, layaknya memijat pada umumnya. Namun, beberapa menit kemudian, si tukang pijat malah membuat kesalahan. Bukannya memijat dengan tangannya, ia malah menciumi seluruh bagian punggung Safira. Mungkin, ini adalah cara memijat baru yang digunakan oleh pemijat jadi-jadian seperti Devano.
"Bagian mana lagi yang harus kupijat?" tanya Dev setelah merasa puas menjahili Safira.
"Tidak ada, Sayang. Tidurlah, aku sudah lebih baik sekarang," jawab Safira. Safira meraba sekitar kasur, mencari baju tidur yang ia buka tadi.
"Kau ingin menggodaku dengan semua itu?!" tanya Dev dengan senyum jahilnya.
"Ti-tidak, aku tidak bermaksud, aku sedang mencari bajuku," jawab Safira. Safira pun menarik selimut sampai selimut itu menutupi bagian tubuhnya yang terbuka.
"Kau mau kemana?" Dev menahan Safira yang hendak turun dari kasur.
"Mengambil baju yang lain......"
Dan pada akhirnya, acara pijat memijat itu harus di tutup dengan acara panas, yang bahkan membuat kedua insan itu langsung tertidur pulas setelah melakukannya.
☆ ☆ ☆
Pukul 05.30
Dev terbangun saat merasakan pergerakan dari wanita yang tidur dalam pelukannya. Ia membuka matanya, menatap Safira yang juga menatap ke arahnya.
"Aku ingin mandi," ucap Safira. Dev tidak menjawab apapun, ia bahkan tidak melepaskan tubuh Safira dari pelukannya.
"Sayang, aku ingin mandi," ucap Safira lagi.
"Nanti saja, ini masih terlalu pagi," jawab Dev. Pria itu mempererat pelukannya. Safira pun mengalah, karena percuma saja ia bicara lagi, Dev pasti tidak akan menjawab atau memperdulikan ucapannya.
"Sa, apakah kau pernah menyesal menikah denganku?" tanya Dev sambil menatap wajah Safira.
"Menyesal? Tidak, aku tidak pernah menyesal sama sekali, aku bahkan bahagia dengan pernikahan ini," jawab Safira tersenyum. 'Walau aku belum tau, apakah kau benar-benar mencintaiku, atau hanya menjadikanku pelampiasan nafsumu saja.' imbuh batin Safira.
Dev mulai melonggarkan pelukannya, namun tangannya masih belum berpindah dari tempat semula. Matanya terus menatap mata Safira, sampai ia bisa melihat, ada sedikit keraguan dimata itu saat meradu tatap dengan dirinya.
"Apa kau ingin mengatakan sesuatu?" tanya Dev. Safira hanya menggeleng. Dev kembali mengulangi pertanyaan. dan Safira kembali menggeleng kepalanya.
"Katakanlah, jangan pendam sendiri seperti itu," ucap Dev. Dev hanya ingin mengetahui apa yang sebenarnya Safira ragukan sekarang.
"Apakah Kak Dev mencintaiku?" tanya Safira sambil tersenyum menguatkan dirinya sendiri.