
Pukul 04.15 sore.
Jimmy kini meluncurkan mobil menuju kafe Safira, bermaksud untuk menjemput Safira, sesuai apa yang dikatakan oleh Tuannya, pria yang kini duduk di belakangnya.
Dev masih sibuk menghubungi beberapa orang, memastikan semua hal yang ia perintahkan sudah siap dan juga sempurna hasilnya.
10 menit kemudian.
Mobil kini terparkir di depan kafe Safira. Terlihat kafe itu sudah mulai ramai, dan dipenuhi oleh beberapa anak muda yang sedang nongkrong di sana.
Jimmy turun terlebih dahulu, ia hendak membukakan pintu mobil untuk Dev. Namun, Dev sudah di luar sebelum Jimmy membukakan pintu mobil untuknya.
Dev langsung melangkah memasuki kafe. Ia mengedarkan pandangannya, mencari di mana keberadaan istri tercintanya.
Dev tersenyum saat melihat Safira melangkah mendekati dirinya. Safira menarik lengan Dev, mengajak Dev melangkah menuju ruang pribadinya.
"Kak Dev ingin minum apa?" tanya Safira, Safira menarik-narik dasi yang masih dikenakan oleh suaminya itu.
"Aku ingin ini!" jawab Dev sambil menyentuh bibir Safira, dan juga mengedipkan mata jahilnya pada Safira.
"Ish, jangan yang aneh-aneh, Kak!" Safira menepis tangan Dev, mengganti permintaan Dev dengan menciumi pipi bagian kiri Dev.
"Mau minum apa, Kak?" tanya Safira lagi.
"Air putih saja."
"Tunggu sebentar, ya."
Safira melangkah keluar, ia mendekati kulkas dapur, lalu mengambilkan sebotol air mineral untuk suaminya.
Safira membukakan tutup botol, lalu memberikan botol itu pada Dev. "Ini, Kak."
Dev tersenyum. "Makasih, Sayang," ucapnya lalu meneguk setengah isi botol mineral itu.
"Aku akan menemui Alisha dan beberapa orang dulu, Kak. Aku ingin pamit pulang pada mereka."
"Aku ikut!" tekan Dev.
"Ayo!"
Dev berjalan di samping Safira, mengikuti langkah Safira menuju dapur kafe.
"Al, aku pamit pulang, ya? Kapan-kapan aku akan kesini lagi. Maaf, aku tidak bisa datang setiap hari," ucap Safira.
"Tidak apa, Sa. Kami mengerti, jaga kesehatanmu, ya. Ingat! Sekarang ada kehidupan baru di dalam tubuhmu," jawab Alisha sambil menatap Safira dan Dev bergantian, lalu tersenyum saat kedua orang itu tersenyum pada dirinya.
Safira menatap Alisha, lalu berjabat tangan untuk berpamitan pada Alisha dan beberapa orang lainnya.
"Hati-hati di jalan, Sa!"
Safira kembali menoleh dan menganggukkan kepalanya pada Alisha. Dev meraih tangan Safira, menggenggam tangan itu selama berjalan keluar dari kafe Safira.
Dev melepas tangan Safira, saat membukakan pintu mobil untuk Safira. Dan kembali menggenggam tangan Safira selama perjalanan pulang menuju rumah mereka.
'Sabar, Jimm! Semua ada waktu dan tempatnya! Nikmati saja tontonan ini, besok kau juga akan merasakannya.' Batin Jimmy.
* * *
Safira menyisir rambutnya, menatap pantulan wajahnya pada cermin di hadapannya. Ia kembali tersenyum saat melihat seorang pria tampan berjalan mendekati dirinya, dan kini berdiri dibelakangnya, dan juga mengelus kepalanya dengan lembut.
"Kau sudah siap, Sayang?" tanya Dev. Safira menanggapinya dengan anggukkan kepala dan juga senyum manis dibibirnya.
"Ayo!" Dev melingkarkan tangannya pada pinggang Safira, menyamakan langkah kakinya dengan langkah kaki Safira.
Keduanya keluar dari kamar, menuruni tangga dan berjalan menuju halaman depan rumah mereka. Di halaman depan sudah terparkir sebuah mobil mewah berwarna merah menyela, dan mobil itu tidak pernah terlihat sebelumnya.
Dev berjalan terlebih dahulu, ia berdiri di depan pintu mobil, membukakan pintu itu khusus untuk istri tercintanya.
Senyum kembali menghiasi wajah Safira. Membuat siapapun yang melihatnya akan tersenyum bahagia dan juga tenang oleh senyumnya.
Safira melangkah mendekati Dev, menatap Dev dengan penuh cinta dan kasih sayang, lalu ia memasukkan dirinya ke dalam mobil mewah yang Dev siapkan khusus untuknya.
Dev berjalan mengitari mobil, mendudukkan dirinya di kursi pengemudi.
"Pakai sabuknya, Sayang," ucap Dev mengingatkan Safira. Dev benar-benar memperhatikan setiap apa yang akan menyelamatkan, dan membahayakan istri dan juga calon anaknya itu.
Safira memakai sabuk pengamannya, lalu menatap ke arah Dev yang masih memperhatikannya.
"Istri yang pintar!"
Kini mobil mulai melaju dengan kecepatan sedang, bergabung dengan mobil lainnya di jalan raya. Dev meluncurkan mobil ke arah timur, entah ini menuju rumah Safira atau menuju rumah keduanya orangtuanya.
* * *
Setengah jam kemudian.
Safira melirik ke arah Dev. Ia terlihat bingung sekaligus haru dengan apa yang sudah pria itu lakukan untuknya.
Safira meraih tangan Dev, menciumi tangan itu dengan lembut dan penuh kehangatan.
Dev hanya tersenyum, ia membuka sambuk pengamannya, keluar dari mobil dan langsung membukakan pintu mobil untuk Safira.
Safira kembali tertegun saat melihat Ibu, Ayahya, Ibu mertua dan juga Ayah mertuanya yang berdiri menyambut kedatangannya. Safira melangkah mendekati Jessica, ia menciumi punggung tangan Jessica dan juga Aldy, dan melakukan hal yang sama pada Ayah dan juga Ibunya.
Nyonya Aiman, dan Jessica menggandeng Safira, mengajak Safira untuk memasuki rumah yang sudah didekorasi dengan sedemikian rupa.
Sementara Dev, Aldy, dan Tuan Aiman hanya bisa mengekori ketiga wanita itu saja. Ketiga pria itu ikut mendudukkan dirinya disebuah meja makan yang berbentuk persegi panjang.
Disana sudah terhidang semua menu kesukaan Safira, mulai dari menu sederhana sampai menu yang terbilang sangat istimewa.
Safira menatap Dev, ia tidak menyangka, kalau Dev akan melakukan semua ini untuknya. Ia hanya meminta yang sederhana, hanya dengan Ibu dan Ayahnya saja, tapi Dev. Suaminya itu malah memberikan yang luar biasa untuknya. Bahkan Dev juga mengajak Ibu dan Ayahnya untuk ikut makan malam bersama di rumah keluarga Safira.
Nyonya Aiman dan Jessica tersenyum melihat putra dan putri mereka. Setidaknya, apa yang mereka usahakan selama ini tidak sia-sia ada.
"Safira? Dev? Bisakah kita mulai makan malamnya?" tanya Jessica pada dua insan yang masih larut dan tatapan mata mereka.
Safira dan Dev mengalihkan pandangan mereka secara bersamaan, lalu menundukkan kepala untuk menyembunyikan wajah malu mereka.
'Hahahaha, lucu sekali mereka.' Batin Aldy dan Jessica.
Dev membalikkan piring untuk Safira, mengambilkan apapun yang Safira inginkan. Ia bahkan tidak rela untuk menyendok nasinya, sebelum ia memastikan kalau Safira sudah puas dan mendapatkan semua yang ia inginkan.
Semua mata terus tertuju pada Dev dan juga Safira. Bagaimanakah tidak? Tingkah keduanya sangat menarik perhatian Ayah dan Ibu mereka sekarang. Dimana Safira malah merengek kepedesan pada Dev, dan meminta Dev untuk mengambilkan air minum untuknya.
Sementara itu, Dev dengan cepat memberikan segelas air pada Safira. Ia menjadikan tangannya sebagai kipas, mengipasi wajah istrinya yang kepedesan.
"Maaf, Sayang.....Maafkan aku....Seharusnya aku mencicipinya terlebih dahulu," ucap Dev meminta maaf pada Safira. Bahkan keduanya mulai sibuk dengan acara maaf-maafan, tanpa memperdulikan lagi delapan pasangan mata yang menatap geli ke arah mereka.
'Ya, Tuhan....Itu Dev anakku? Kenapa sifat bucinnya melebihi diriku yang dulu?' Batin Aldy. Aldy kembali menyendok makanannya, dan kembali tersenyum melihat tingkah keduanya pasangan muda di hadapannya.
* * *
"Ibu, Ayah, ada kabar gembira yang ingin Safira dan Kak Dev katakan sekarang," ucap Safira pada Nyonya Aiman dan Tuan Aiman.
"Katakanlah, Nak. Kami pasti akan bahagia mendengarnya."
"Kami akan menjadi seorang Ayah dan Ibu," ucap Dev dan Safira bersamaan, membuat Nyonya Aiman dan Tuan Aiman langsung menatap bahagia pada keduanya.
"Selamat, Sayang....." Nyonya Aiman menarik tubuh Safira. Memeluk putrinya itu sambil meneteskan air mata bahagia.
Tuan Aiman pun memeluk tubuh Dev, menepuk-nepuk punggung Dev, sambil mengucapkan selamat dan terimakasih karena sudah mencintai putri mereka.
Aldy dan Jessica kembali meneteskan air mata bahagia mereka. Walau pada dasarnya, mereka sudah mengetahui hal itu terlebih dahulu, jauh sebelum Dev dan Safira mengabarkan mereka hari itu.
"Semuanya....Hadap sini dan....."
"Tersenyum......" teriak Davin sambil mengarahkan kameranya pada Dev, Safira, dan juga yang lainnya.
"Satu....dua...katakan, cisss!"
"Cisss......" teriak mereka bersamaan dengan tubuh yang berfose dengan kaya yang berbeda-beda.
Dev mulai melingkarkan tangan kekarnya pada pinggang Safira, lalu mengambil beberapa foto untuk mengenang moment berharga dalam hidup mereka.
"I love you, My Strong Wife," bisik Dev.
"I Love You Too, My Handsome Husband."
"I Love You My Beautiful Sister And My Handsome Brother." Davina menciumi pipi Devano dan juga Safira secara bergantian, lalu menghamburkan pelukan hangat pada keduanya.
~Tamat~