
27 November -
"Tunggu sebentar, Kakak sedang dalam perjalanan menuju kampusmu!"
"Emmm, baiklah. Aku tunggu di parkiran, ya? Hati-hati di jalan, Kak."
"Kakak tutup dulu teleponnya."
Davin tersenyum memandangi layar Hpnya, setelah Henry memutuskan sambungan teleponnya.
"Cie....Ada yang mau dijemput pacar, nih," ucap Pretty sambil menyenggol tubuh Davina pelan.
"Ssstt, sebaiknya kau diam dan jangan banyak bicara! Kau tidak tau, apa! Kalau jantungku sudah berdebar sejak sekarang!" jawab Davin lalu mengatur ulang napasnya.
"Hahahaha, ya, sudah, aku pulang duluan, ya? Kau tidak apa-apa, kan menunggu sendirian di sini?"
"Hmmm, pukanglah, lagi pula, Kak Henry sudah di jalan tadi. Sebentar lagi pasti sampai."
"Jaga dirimu, Nona." Pretty naik ke atas motor lalu memasang helm-nya.
"Kau juga hati-hati di jalan! Jangan main ngebut-ngebutan!" teriak Davin pada Pretty yang sudah melajukan motornya, dan keluar dari area parkiran.
Davin mendudukkan dirinya di sebuah kursi panjang. Ia mengeluarkan bukunya, sementara menunggu kedatangan Henry.
"Davin? Kau tidak pulang?" tanya Nathan. Nathan mengangkat tas Davin, lalu duduk di samping gadis itu.
"Aku masih menunggu Kak Henry, kau sendiri? Kenapa belum pulang?" jawab Davin sambil mengambil tasnya dari tangan Nathan.
"Aku masih ada urusan."
"Emmm." Davin hanya mengangguk tak jelas.
"Davin?" panggil Nathan sambil menatap sekitarnya.
"Hmmm." Davin mengangkat kepalanya, menatap Nathan yang juga menatap ke arahnya.
"Ada apa? Apa ada hal yang ingin kau bicarakan denganku? Maksudku, ini hal yang bersifat pribadi?" selidik Davin dan ditanggapi anggukan kepala oleh Nathan.
"Bicaranya nanti saja. Kau bisa datang ke rumah, kita akan membicarakannya di rumah, bagaimana?"
"Baiklah, aku akan datang nanti malam," jawab Nathan sambil bangkit dari duduknya.
"Aku ke kelas dulu, ada barang yang harus ku ambil," lanjut Nathan lalu melangkahkan kakinya menjauhi Davin.
Henry kembali menyalakan motornya, menghampiri Davin yang masih setia menunggu dirinya.
"Hai, Manis? Kau sedang menunggu siapa?" goda Henry sambil mendudukkan dirinya di samping kanan Davina.
Davina langsung menoleh pada pria yang duduk di sampingnya. "Kak Henry! Kukira siapa tadi!"
"Ayo, kita pulang? Sampai kapan kau mau duduk di sini?" Henry memasukkan semua buku Davin. Lalu mengambil tas Davin dan membawanya.
"Kak! Kembalikan tasku!" Davin menarik ujung jaket yang Henry kenakan, dan berusaha mengambil kembali tasnya dari tangan Henry.
"Davin, malu diliat orang!"
"Makanya! Berikan tas itu padaku!"
"Oke-oke, tapi lepaskan dulu jaketku, Sa...." Henry menghentikan ucapannya dan langsung mengembalikan tas itu pada pemiliknya.
Davin menatap sekitar, lalu ia melangkahkan kakinya mendekati motor Henry.
"Aku akan mengajakmu keluar nanti malam, apa kau mau?" tanya Henry sambil memberikan helm pada Davin.
"Nanti malam?"
"Hmmm. Apa kau ada acara nanti malam?" Henry memasang helm-nya, dan masih menunggu jawaban dari Davina.
"Aku, aku ada janji dengan Nathan. Dia ingin membicarakan sesuatu denganku," jujur Davin.
"Baiklah, masih banyak waktu untuk kita."
"Kak Henry tidak marah?" tanya Davin sambil menatap wajah Henry.
Henry menggelengkan kepalanya. Dan mulai melajukan motornya keluar dari parkiran kampus Davina.
* * *
(Awal Cerita Jonathan Putra Candra)
Malam harinya. Nathan sudah datang sebelum makan malam dimulai di rumah utama.
Ia kini sedang duduk di ruang keluarga, menunggu Davin yang masih berada di kamarnya.
"Minumnya, Tuan," ucap seorang pelayan. Pelayan itu meletakkan nampan yang ia bawa di atas meja, lalu tersenyum dan keluar dari ruangan itu.
"Kau sudah datang rupanya."
Davin melangkah memasuki ruang keluarga. Dan mendudukkan dirinya di hadapan Nathan.
"Ada apa, Than?"
"Emmm, aku punya masalah. Emm, bagaimana, ya caraku menjelaskannya?" Nathan mulai menggaruk kepalanya, karena bingung harus memulai berbicara dari mana.
"Baiklah, kau tenang dulu. Dan ikut denganku, kita tidak akan membahas masalahmu di sini."
Davin dan Nathan melangkah keluar dari ruang keluarga. Keduanya berjalan melewati lorong menuju taman samping rumah utama.
Nathan menghembuskan napasnya, lalu menatap wajah penasaran Davin.
"Jadi, aku, aku sudah membuat kesalahan. Dan aku, aku bingung harus berbicara dan meminta pendapat pada siapa. Hanya kau teman perempuanku, dan hanya kau yang mengerti diriku." Nathan tertunduk.
"Nathan." Davin menyentuh bahu Nathan. Davin benar-benar tidak menyangka, kalau Nathan akan selemah ini sekarang.
'Bukannya tadi siang dia baik-baik saja?' Batin Davin bertanya.
"Agnes..."
"Ada apa dengan Agnes?"
"Aku....." Nathan menyeka air matanya.
"Davin....Kumohon, bantu aku. Aku ingin bertemu dengannya." Nathan berlutut di hadapan Davin. Membuat Davin langsung bingung harus berbuat apa.
"Nathan? Bangunlah, dan coba ceritakan padaku, agar aku bisa membantumu."
Davin menyentuh bahu Nathan lalu meminta Nathan untuk kembali duduk seperti semula.
"Apa? Aku tidak mengerti, Than!"
"Aku, malam itu, aku." Nathan menatap Davin sejenak.
"Aku meniduri Agnes, aku benar-benar tidak sadar, aku dalam pengaruh obat, aku tidak berbohong, padamu." Nathan langsung tertunduk.
"Kumohon, bantu aku untuk bertemu dengannya. Aku ingin meminta maaf dan bertanggung jawab atas semuanya," lanjut Nathan.
Plak....
Davin menatap tangannya yang sudah mendaratkan satu tamparan pada Nathan.
Davin menatap Nathan yang masih tertunduk dan bahkan takut untuk mengangkat wajahnya.
"Paman sudah bilang, kan?! Agar kau jangan bergaul dengan mereka?! Jangan ikuti pergaulan mereka?!"
"Tapi kau!" Davin menggelengkan kepalanya.
"Nathan....Aku dan kau tumbuh bersama. Dididik bersama. Ayahku, dan Ayahmu tidak pernah mengajarkan hal-hal yang aneh pada kita,'' lanjut Davina.
"Aku tidak sadar Davin, aku benar-benar tidak sadar, aku dalam pengaruh obat saat itu."
"Lalu? Bagaimana kau tau kalau wanita yang kau tiduri itu adalah Agnes?!"
"Aku sempat melihat wajahnya, dan sempat menahan diri agar tidak melakukan hal itu. Dan dia juga sempat membrontak, bahkan memukulku."
"Kumohon, bantu aku untuk bertemu dengannya....Hanya kau yang bisa membantuku sekarang. Aku tidak mungkin mengatakan semua ini pada Papa dan Mama. Aku belum sanggup melihat wajah kecewa mereka," lanjut Nathan memelas.
"Aku tidak bisa membantumu! Agnes sudah menghilang sejenak 2 minggu yang lalu. Ia bahkan pergi tanpa berpamitan padaku dan juga yang lainnya."
Davin menatap wajah Nathan. Ia bisa melihat ada penyesalan dan juga kekecewaan di mata pria itu.
"Baiklah, aku akan berusaha mencari Agnes, dan juga mempertemukanmu dengannya. Jadi, kau jangan seperti ini lagi." Davin menyentuh bahu Nathan.
"Ada hikmah di balik kejadian ini. Aku percaya, Tuhan tau yang terbaik untuk Aku, untuk kau, dan untuk kita semua.''
"Terimakasih, Davin. Terimakasih karena mau membantuku. Dan aku mohon, jangan katakan hal ini apa Paman, atau pun pada Papaku."
"Sepintar apapun kita menyembunyikan bangkai. Bau bangkai itu pasti akan segera tercium oleh orang lain. Dan aku juga tidak bisa menolongmu, jika Ayah dan Paman Ken sudah mengadili dirimu."
"Baiklah, aku akan meminta bantuanmu untuk saat ini saja. Dan tidak untuk selanjutnya."
"Emmm, sekarang hapus air matamu! Aku jijik melihatmu menangis seperti itu!" Canda Davin sambil menepuk bahu Nathan.
"Aku masuk dulu, kau tenangkan dulu dirimu, dan bergabunglah untuk makan malam dengan Ayah dan Ibu."
Davin melangkahkan kakinya memasuki rumah utama. Ia menghembuskan napasnya, dan berusaha untuk mengontrol emosinya.
* * *
"Hallo, Pretty?"
"Iya, ada apa, Davin?"
"Aku ingin menanyakan sesuatu padamu?"
"Apa itu?"
"Ini tentang Agnes. Apakah kau sudah tau dia dimana sekarang?"
"Belum, aku juga belum tau dia dimana. Tadi, Aku datang ke rumah Pamannya, dan Pamannya bilang, kalau dia tidak pernah pulang dan masih tinggal dia apartemennya."
"Emmm, begitu, ya? Ada beberapa hal yang ingin kubicarakan padamu, tapi besok saja. Dan maaf karena sudah mengganggumu."
"Baiklah, aku juga ingin mengatakan sesuatu besok. Selamat malam, Davin."
"Malam juga."
Davin merebahkan tubuhnya di atas kasur. Ia menatap layar Hpnya dan mencoba untuk menghubungi nomer Agnes untuk yang ke sekian kalinya.
Sayangnya, Agnes tidak pernah mengangkat telepon darinya. Membuat Davina semakin khawatir pada keadaannya.
* * *
Sementara itu, di sebuah apartemen yang tidak jauh dari kota ini.
Seorang wanita duduk di depan laptopnya. Matanya sudah tidak mampu lagi untuk menangis. Bibirnya sudah membeku, dan tak mampu mengucapkan sepatah kata lagi. Hatinya sudah hancur berkeping-keping.
Apa yang ia jaga selama ini sudah hilang dari dirinya. Kehormatan, apa lagi yang mau ia banggakan pada dirinya sekarang? Ia sudah dinodai, bahkan dijebak dalam perangkap sepupunya sendiri.
Agnes melirik Hpnya yang masih berdering. Entah, ia tidak tau ini panggilan yang keberapa dan dari siapa.
Agnes meraih benda pipih itu. Menatap layarnya dengan tatapan sendu.
"Maafkan aku Davin, maafkan aku, aku tidak bisa menerima panggilanmu untuk saat ini. Aku pasti akan kembali lagi, tapi nanti. Di saat semuanya normal lagi," ucap Agnes. Agnes mematikan Hpnya, lalu berpindah pada layar laptopnya.
Hampir 2 minggu Agnes menghabiskan waktunya hanya di dalam kamar. Tidur, menangis, hanya itu yang ia lakukan selama ini. Namun, Agnes sadar.
Tangisannya sudah tidak berarti lagi. Sekuat apapun ia menangis, tetap saja, ia tidak bisa mengembalikan apa yang sudah hilang dari dirinya.
"Jonathan Putra Candra," ucap Agnes sambil memainkan pulpen yang ada ditangannya.
Agnes mematikan laptop, lalu berguling di atas kasurnya, sampai ia menemukan posisi yang tepat, dan nyaman bagi tubuhnya.
Wanita itu tertidur sambil memeluk gulingnya, dan dengan bibir yang mulai bergetar seperti orang kedinginan dan ketakutan.
* * *
- 1 Desember -
Ini adalah hari pertama Agnes keluar dari apartemennya. Agnes keluar untuk membeli beberapa kebutuhannya di sebuah minimarket yang tak jauh dari apartemennya.
Saat sampai di minimarket. Ia dikagetkan oleh seseorang yang tiba-tiba saja menabrak tubuhnya dari belakang. Agnes pun menoleh dan terdiam saat mengetahui siapa orang itu.
"Om Henry?"
Henry pun tak kalah kagetnya. Ia memperhatikan Agnes, dan menggelengkan kepalanya saat menyadari begitu banyak yang berubah dari sahabat pacarnya itu.
"Bisakah kita bicara? Sebentar saja," ucap Henry setelah ia dan Agnes terdiam cukup lama.
"Emmm, aku buru-buru, Om." Agnes membalikkan tubuhnya dan hendak melangkah menjauhi Henry.
"Ini tentang Nathan, ini tentang Davin, ini tentang Pretty. Apakah kau tidak ingin bertemu dengan mereka? Mereka sudah mencarimu, dan ingin bertemu denganmu," ucap Henry.
"Aku belum siap untuk saat ini, sebaiknya Om jangan memaksaku lagi!" Agnes melangkahkan kakinya, meninggalkan Henry yang masih mematung menatap punggungnya.
* * *
Ini sedikit cerita dari kisah cinta seorang Jonathan Putra Candra. Author sengaja nggak nulis persi lengkapnya. Karena author akan memisahkan cerita mereka, dan karena novel ini lebih terfokus pada Cerita Devano dan Safira. Sementara yang lain cuman numpang lewat saja><