Devano Pranata Yoga

Devano Pranata Yoga
Davina Pranata Yoga (9)



Davin berbaring di atas kasurnya, menatap langit-langit kamar, sambil senyum-senyum tak jelas. Ucapan Henry selalu menghantui hati dan pikirannya. Ucapan yang mampu membuat dirinya terbaik melayang-layang di awan.


Flashback On!


Almira membawa sebuah nampan keluar dari dapur, lalu meletakkan nampan itu di atas sebuah tikar.


Henry memperbaiki posisi nampan yang Almira bawa tadi, lalu mengambil nampan lain dari tangan Davina. Henry diam sejenak, ia mendongak menatap Davin yang membungkuk dan menatap ke arahnya.


"Khemm! Tatap-tatapannya nanti saja! Sekarang makan dulu!" ucap Almira sambil menatap ke arah Henry dan juga Davin.


Henry dan Davin langsung mengalihkan pandangan mereka. Keduanya benar-benar malu mendengar ucapan Almira tadi. Davin kembali menegakkan tubuhnya, lalu berjalan mendekati Zia, dan duduk di samping wanita itu.


Kini mereka sudah duduk di atas tikar yang sama. Di hadapan mereka sudah terhidang menu makan siang yang terlihat begitu sederhana. Namun sangat mengunggah selera.


Zia mengambilkan piring untuk Davin, menaruhkan dua sendok nasi di atas piring itu.


"Makanlah, Davin. Hanya ini yang bisa Bibi masak, semoga kau suka," ucap Zia tersenyum.


"Terimakasih, Bi. Ini sudah lebih dari cukup. Sekali lagi, terimakasih."


Henry dan Zen tersenyum mendengarnya. Henry meraih piring yang berisikan ikan goreng, lalu meletakkan ikan itu di atas piring Davin.


"Makanlah! Jangan malu-malu seperti itu," ucapnya tersenyum. Davin hanya membalasnya dengan anggukkan saja.


Usai makan siang. Davin dan Almira menyempatkan diri mereka untuk membantu Zia membereskan semua piring-piring kotor, dan berniat untuk mencuci semuanya.


Zia menghentikan tangan Davin sambil menggelengkan kepalanya. "Nanti Bibi yang cuci, sekarang Davin pulang dan istirahat saja."


"Tidak apa, Bi. Biar Davin bantu, sekali saja...." rengek Davin.


"Baiklah, tapi hati-hati ya."


Davin tersenyum lalu mulai berjongkok untuk mencuci piring-piring itu. Almira yang melihat hal itu, langsung berlari menghampiri Davin, dan membantu gadis itu.


"Kak Davin sering nyuci piring, ya di rumah?" tanya Almira, karena ia terkejut melihat betapa lihainya tangan Davin mencuci semua piring-piring di hadapannya


"Tidak pernah, ini yang pertama. Memang kenapa?"


"Wah, ini yang pertama, ya? Tapi Kak Davin terlihat hebat, tanganku saja tidak bisa secepat tangan Kak Davin," puji Almira.


Henry yang berdiri di ambang pintu dapur tersenyum mendengar percakapan singkat kedua gadis itu. Henry berjalan mendekati Davin dan juga Almira.


"Permisi," ucapnya sambil merapikan rambut Davin, mengikat rambut itu dengan karet gelangnya.


"Begini lebih cantik," lanjut Henry tersenyum.


Davin mendongak menatap Henry. "Terimakasih, Om," ucap Davin tersenyum.


"Hemm....Hemm....Kehadiranku tidak dianggap, oke, aku akan menutup telinga dan jadi batu saja!" sahut Almira. Almira kembali fokus pada piring-piringnya, membiarkan kedua orang di dekatnya saling menatap dengan tatapan yang Almira tidak mengerti apa maknanya.


* * *


"Terimakasih untuk makan siangnya, Bi. Davin pamit dulu," pamit Davin pada Zia dan juga Zen.


"Boleh aku mengantarnya pulang?" tanya Henry pada Zia. Zia tidak langsung menjawab, ia malah menatap ke arah Davin sekarang.


"Tanya pada orangnya!" jawab Zia.


"Jangan, Om! Davin bisa pulang sendiri," jawab Davin. Karena jarak rumah Zia dan rumah yang ia tempati tidaklah jauh. Hanya butuh waktu 7-10 menit saja untuk sampai di sana.


"Aku akan tetap mengantarmu!" Henry berdiri di belakang Davin, lalu mengikuti langkah Davin, keluar dari halaman rumah Zia. Davin hanya menghembuskan nafas pelan. Ia pun membiarkan Henry untuk melangkah di sampingnya.


Kini keduanya berjalan beriringan menuju rumah lama yang Davin tempati.


"Davin?"


"Hmmm." Davin melirik Henry sekilas, dan kembali menatap jalan di depannya.


"Boleh aku menanyakan sesuatu?"


Davin hanya mengangguk pelan.


"Kenapa kau bisa ada di sini? Apakah orangtuamu tau kau ada di sini?" tanya Henry lembut. Henry menghentikan langkahnya lalu menatap Davin.


"Ti-tidak, Ayah dan Ibu tidak tau aku disini," lirih Davin tertunduk.


"Kau kabur?"


Davin kembali mengangguk pelan. Sementara Henry mulai menarik nafasnya, menghembuskannya dengan perlahan. Henry memberanikan dirinya untuk meraih tangan Davin, sambil menatap mata gadis dingin itu.


"Sebaiknya kau pulang sekarang. Jangan seperti ini, kau ini wanita, tidak baik jika kabur-kaburan seperti ini," ucap Henry dengan nada yang begitu lemah lembut.


"Aku sayang padamu, aku peduli padamu, aku tidak ingin terjadi sesuatu yang tidak-tidak padamu. Maka kumohon, pulang dan kembalilah pada Ayah dan Ibumu," lanjut Henry.


Davin masih tertunduk. Entah mengapa, ia merasa apa yang Henry katakan memang benar. Ia tidak boleh seperti ini, seharusnya ia tetap di rumah dan menenangkan dirinya di rumah itu juga. Bukannya malah kabur dan menghilang seperti ini.


"Pikirkanlah lagi, aku harap kau mendengarkan saran yang kuberikan tadi." Henry melepas tangan Davin, lalu melanjutkan langkahnya. Ia tetap berjalan di samping Davin, menghantarkan Davin sampai di depan rumah lama Zia.


"Terimakasih, Om," ucap Davin sebelum masuk ke dalam rumah itu.


"Sama-sama. Dan jangan panggil aku seperti itu, panggil saja Kak Henry, aku masih 27 tahun, hanya selisih 5 tahun setengah denganmu."


Davin tidak menjawab apapun. Ia pun melangkah masuk saat melihat punggung Henry sudah berjalan menjauhi rumahnya.


"Hiks, manis sekali.....Ya, Tuhan.....Apakah ini yang dinamakan jatuh cinta?"


Davin berputar sambil tersenyum bahagia. Ia memegangi dadanya yang mulai berdebar, kala bayangan Henry menghantui pikirannya.


Flashback Off


Davin bangun dari tidurnya. Ia menatap ke arah luar jendela kamar. Davin sudah mengambil keputusan. Ia akan kembali ke rumah utama, dan juga meminta maaf pada Ayah, Ibu dan juga semua orang yang ikut mencari keberadaan dirinya.


Davin melangkah mendekati lemari kayu di pojok kamar. Ia memasukkan beberapa setel baju yang ia bawa ke dalam tasnya.


Gadis itu kini berjalan menuju rumah Zia, berniat untuk berpamitan pada keluarga kecil Zia. Dan juga ingin berterimakasih atas semua hal yang Zia berikan pada dirinya.


* * *


"Davin pamit untuk pulang, Bibi, Paman. Titip salam juga untuk Almira. Dan terimakasih atas semua yang Bibi dan Paman berikan pada Davin, terimakasih banyak."


"Sama-sama, Davin. Paman dan Bibi senang dengan adanya kau disini. Jika ada waktu, datanglah lagi, dan tinggal lebih lama lagi disini," jawab Zen. Davin hanya tersenyum mendengarnya.


"Kau pulang dengan siapa?" tanya seorang pria yang kini berdiri di belakang Davin. Davin memutar tubuhnya menghadap pria itu.


"Aku akan mencari taksi di depan," jawab Davin tertunduk malu.


"Tidak ada taksi di sini, tapi jangan khawatir. Aku bersedia untuk mengantarmu sampai rumah dengan selamat," ucap Henry tersenyum tulus.


"Aku tidak ingin merepotkan Om..."


"Tidak, aku tidak merasa direpotkan. Bagaimana? Apakah kau mau pulang denganku?" potong Henry.


Davin berpikir sejenak. Ia kembali membalikkan tubuhnya menghadap Zia dan juga Zen. Kedua orang itu tersenyum padanya, dan seolah-olah mereka juga menginginkan Davin pulang bersama dengan keponakan mereka itu.


"Baiklah, aku mau."


Henry dan Zen tersenyum bersamaan. Keduanya saling bertukar pandangan sambil tersenyum penuh kemenangan.


Davin meraih tangan Zia. Mencium punggung tangan wanita itu. Davin juga melakukan hal yang sama pada Zen.


"Hati-hati, Agus....Jangan bawa dia kabur lagi...." teriak Zen saat motor Henry keluar dari halaman rumahnya. Henry hanya menanggapi dengan acungan jembol saja.


Henry melirik Davin dari kaca motornya, lalu menarik tangan Davin, meletakkan tangan itu di pinggangnya.


"Berpeganglah! Agar kau tidak jatuh nantinya," ucap Henry. Davin hanya menurut patuh saja.


* * *


Setengah jam kemudian.


Henry menghentikan motornya tepat di depan sebuah rumah makan. Ia kini merasa lapar, dan ingin segera mengisi perutnya, agar bisa fokus berkendara lagi.


"Kau ingin pesan apa?" tanya Henry pada Davin yang ikut duduk di hadapannya.


"Apa-apa saja, Kak," jawab Davin tertunduk. Henry pun tersenyum mendengar jawaban dari gadis itu.


Henry memesankan menu yang sama dengan dirinya untuk Davin. Henry mengeluarkan Hpnya, sambil menunggu pesanan datang.


"Davin?"


Davin mengangkat kepalanya, menatap wajah Henry.


"Boleh kita berfoto bersama?" tanya Henry ragu.


"Satu foto dikenakan tarif 5 juta rupiah," jawab Davin sambil menahan tawanya.


"Baiklah, aku akan membayarnya, asalkan aku bisa mendapatkan kesempatan untuk berfoto denganmu."


"Hahaha, aku bercanda, Kak. Sini Hpnya!"


Henry menyerahkan Hpnya pada Davin. Lalu tersenyum saat kamera Hp itu mengarah pada dirinya dan juga Davin.


Keduanya mengambil foto selfi yang cukup banyak. Mereka mulai berhenti saat pesanan sudah berada di atas meja mereka.


'Mungkin pertemuan ini adalah pertemuan terakhir aku dan Kak Henry. Ayah pasti sudah menebar pengawal untuk mencari keberadaanku, dan mereka pasti ada disekitarku sekarang, mengamati setiap gerak-gerikku, lalu melaporkan semua pada Ayah dan juga Ibuku!' Batin Davin.


"Davin, makanlah! Jangan melamun seperti itu," ucap Henry sambil menyentuh punggung tangan Davin.


Davin hanya bisa tersenyum kaku saja. Ia pun mulai menyendok makanan yang ada dihadapannya, mencoba menelan semuanya dengan pikiran yang melayang kemana-mana.


* * *


Setengah jam kemudian.


Sampailah mereka di depan gerbang tinggi rumah keluarga besar Pranata. Davin turun dari motor Henry, lalu tersenyum pada pria itu.


"Terimakasih, Kak. Dan maaf, aku tidak bisa mengajak Kakak untuk masuk, maafkan aku."


"Tidak apa, aku mengerti." Henry membalas senyuman Davin dengan senyuman yang tak kalah indahnya.


"Masuklah, aku pamit dulu."


"Hati-hati, Kak!" teriak Davin sambil melambaikan tangannya.


Gerbang hitam tinggi itu tiba-tiba saja terbuka. Jessica berdiri di depan gerbang sambil menatap putrinya yang masih tersenyum bahagia.


"Davina?"


Davina memutar tubuhnya, lalu berlari dan langsung memeluk tubuh Jessica. Davin menangis sambil terus mengucap maaf pada Jessica. Ia juga berjanji untuk mematuhi semua perkataan Aldy dan Jessica. Dan tidak akan menentang semua ucapan mereka.


Jessica mengelus kepala Davin dengan sayang. Ia melepas dirinya dari dekapan Davin, lalu mengecup kening Davin lama.


"Sudah, Sayang....Jangan menangis lagi, Ibu sudah memaafkanmu. Sekarang masuk dan temuilah Ayahmu."


Davin mengangguk lalu berjalan memasuki rumah utama. Ia berlari menaiki tangga menuju ruang kerja sang Ayah. Davin mengentuk pintu ruangan, tidak lama, pintu itu terbuka dan menampakkan sang Ayah yang tersenyum pada dirinya.


"Ayah.....Maafkan Davin.....Maaf Ayah....." ucap Davin sambil memeluk tubuh Aldy dengan erat. Davin kembali menangis dalam pelukan Ayahnya.


"Sudah, Sayang....Ayah dan Ibu sudah memaafkanmu.....Jangan menangis lagi."


"Maaf, Ayah."


Aldy tersenyum lalu menyeka air mata Davin. Ia kini mencoba untuk mengerti putrinya itu, putrinya yang memiliki sifat dan tingkah laku yang hampir sama dengan dirinya dan juga Kamila dulu.


"Ayah sudah memaafkan semua kesalahanmu, Sayang. Jangan pergi lagi, Ayah dan Ibu tidak tenang jika jauh dari dirimu." Tubuh Aldy kembali merasakan dekapan hangat dari putrinya itu. Davin benar-benar menyesal dengan semua kesalahan yang telah ia lakukan selama ini. Ia benar-benar ingin berubah menjadi gadis yang lebih baik dari sekarang ini.