Devano Pranata Yoga

Devano Pranata Yoga
Terimakasih



"Nona, bisakah anda memasak menu makan siang untuk Tuan Dev? Tuan akan pulang untuk makan siang."


"Makan siang? Baiklah, Kak Dev ingin menu apa?" tanya Safira pada Jimmy di seberang sana.


"Apapun, asalkan Nona yang memasaknya."


"Hmmm, ini pasti kata-kata yang murni dari kau, ya, Jimm!" Safira tersenyum sejenak.


"Tidak, Nona. Itu Tuan Dev yang mengatakannya."


"Baiklah, aku akan men...." ucapan Safira langsung terpotong, setelah ia menyadari sambungan telepon ternyata telah diputuskan terlebih dahulu oleh Jimmy. Wanita itu pun berdecak kesal sendiri.


☆ ☆ ☆


Jam 13.20


Jimmy membuka pintu utama, lalu mengedarkan pandangannya mencari keberadaan Safira. Ia pun sekilas tersenyum ketika melihat Safira yang tengah duduk di meja makan. Sepertinya sedang menunggu kepulangan Dev.


"Jimm? Kak Dev mana?" tanya Safira pada Jimmy, yang berjalan ke arahnya.


"Maaf, Nona. Tuan Dev tidak bisa pulang untuk makan siang. Jadi, saya akan mengambilkan dan membawanya untuk Tuan Dev," jelas Jimmy tersenyum.


"Mmmm, baiklah, kalau begitu, tunggu sebentar." Safira berdiri lalu mengambil sebuah Tupperware yang baru ia beli. Ia pun menyiapkan menu makan siang yang sangat spesial untuk Dev.


"Apakah anda ingin mengatakan sesuatu untuk Tuan Dev, Nona?" tanya Jimmy setelah menerima Tupperware itu dari Safira.


"Tidak ada, memang apa yang harus kukatakan?" Safira berpikir sejenak. "Sepertinya aku tidak ingin mengatakan apapun, Jimm!" lanjutnya.


"Anda kurang peka, Nona!" ucap Jimmy sedikit kesal. Pria itu berjalan keluar dari dapur, sambil bergumam tentang Safira.


"Kenapa? Memang aku tidak pekanya di mana?" tanya Safira bingung sendiri.


☆ ☆ ☆


Di perusahaan.


Jimmy keluar dari lift sambil memegang Tupperware yang berisi menu makan siang untuk Tuannya.


Ia pun berjalan mendekati pintu ruangan Dev, lalu tersenyum ketika melihat Dev yang sedang duduk manis, menunggu menu makan siang yang dibuatkan oleh Safira.


"Tidak ada, Tuan."


"Yang benar saja! Tidak ada kata semoga suka? Atau kata-kata yang lainnya?" tanya Dev sedikit kesal.


"Tidak ada, Tuan. Seperti Nona Safira tidak terpikir untuk mengatakan itu," jawab Jimmy tersenyum.


"Ya, sudahlah. Ini juga salahku!" Dev kembali tersenyum kecut. 'Dan bodohnya aku, aku berharap dia akan mengatakan itu padaku!' imbuhnya di dalam hati.


Jimmy pun hanya bisa tersenyum menatap Dev, yang sudah memulai makan siangnya.


'Mungkin ini yang dinamakan, dari mulut turun ke hati. Dari masakan saja, bisa membuat luluh hati seseorang.' Batin Jimmy.


☆ ☆ ☆


Sore harinya, Dev dan Jimmy mampir terlebih dahulu ke sebuah minimarket, sebelum keduanya kembali pulang ke kediaman Dev.


Dev memborong semua es krim yang ada di minimarket itu, untuk Safira dan Davin. Ini ia lakukan sebagai ungkapan rasa terimakasih pada Safira, karena sudah memasak makan siang untuknya. Dan sebagai hadiah untuk adik tersayangnya, Davin.


Usai membayar semuanya, Dev dan Jimmy pun kembali masuk ke dalam mobil. Dan mobil langsung melaju menuju kediaman Dev.


7 menit kemudian.


Sampailah keduanya di depan rumah baru. Jimmy turun terlebih dahulu, lalu membawa satu keresek dan juga satu box es krim. Sementara Dev, ia hanya berjalan dengan santai, memasuki rumah.


"Apa yang kau bawa, Jimm?" tanya Safira sambil berjalan mendekati Jimmy, bermaksud untuk membantu pria itu.


"Es krim, untuk Nona Safira dan Nona Davin," jawab Dev lalu melangkah menuju dapur, untuk memasukkan beberapa es krim yang berada di keresek, ke dalam freezer.


"Sebanyak ini?" Safira menatap Dev yang tersenyum tipis. "Apa Kak Dev yang membelikan semua ini?" tanya Safira.


Dev hanya mengangguk lalu melangkah menaiki tangganya. Namun, langkahnya tiba-tiba terhenti, saat tangan Safira menarik ujung jasnya.


"Terimakasih, Kak," ucap Safira tersenyum manis.


"Hmmm, sama-sama." Dev hanya tersenyum samar. Ia tidak menyangka, bahwa Safira akan sebahagia itu saat mendapatkan hadiah darinya.