Devano Pranata Yoga

Devano Pranata Yoga
A love story at Villa Cambodia



"Aku akan memberimu hukuman malam ini juga!" lanjut Dev tersenyum jahil.


Dev membuka laci meja, mengambil bingkisan yang ia bawa dari rumah barunya. Bingkisan yang Davina berikan pada Safira waktu itu.


"Pakai ini!" ucap Dev sambil menyerahkan bingkisan tadi pada Safira. Safira mengerutkan dahinya, lalu menatap Dev bingung.


"Ini dari Davina, kan?" tanya Safira. Dev pun mengangguk membenarkannya.


"Pakailah!"


"Memang apa ini?" Safira mengintip isi bingkisan itu, lalu mengeluarkan isinya.


"Hah? Apa ini Kak Dev? Eh, maksudku, apa ini, Sa-sayang?" tanya Safira dengan mulut yang sedikit terbuka.


Dev tidak menjawab apapun, pria itu hanya menaikkan bahu dan tangannya saja.


"Bagaimana cara pakainya? Dan ini? Kenapa seperti ini?!" Safira melempar lingerie merah menyala yang Davin berikan padanya, beberapa hari yang lalu.


"Kenapa dibuang?! Ambil dan pakailah! Itu hukuman untukmu!" Dev bangkit lalu memungut lingerie itu, memberikannya pada Safira.


"Tapi, di sini dingin, Sa-sayang. Dan ini, ini tidak bisa melindungi tubuhku dari dinginnya malam," ucap Safira berusaha menolak untuk memakai lingerie itu.


"Pakai itu atau tidur diluar!"


Safira seketika tertunduk, entah mengapa, hatinya sakit mendengar nada bicara Dev kali ini. Dev yang baru sadar akan ucapannya pun langsung mengutuk kebodohannya, ia hendak mendekati Safira, namun Safira sudah terlebih dahulu berjalan menuju kamar mandi, berniat untuk mengganti pakaiannya dengan lingerie merah itu.


Dev berjalan mendekati kamar mandi, ia memegang gagang pintu, dan beruntungnya, Safira tidak mengunci pintu kamar mandi itu.


"Sa-sayang? Ke-kenapa masuk?" ucap Safira sambil menutup bagian tubuh atasnya dengan handuk, sedangkan bagian bawah dibiarkan begitu saja.


"Maaf, aku tidak bermaksud membentakmu," ucap Dev lalu hendak menutupi bagian tubuh Safira dengan handuk lainnya. Safira menahan tangan Dev sambil tersenyum pada pria itu.


"Aku mengerti, aku yang salah, aku tidak memahami apa keinginanmu." Safira tersenyum dan senyuman itu berhasil membuat hati Dev seketika terbuka lebih lebar untuknya.


Safira melepaskan handuk yang masih menutupi bagian atasnya, lalu tertunduk saat mata Dev memandang ke arahnya. Dev melangkah mendekati Safira, menatap lekat-lekat setiap inci tubuh wanita itu.


"Kau malu?" tanya Dev sambil memegang dagu Safira, ia bisa melihat wajah Safira yang sudah mulai merona.


"Kenapa malu, bukankah aku pernah melihatnya sebelum ini," goda Dev, membuat wajah Safira tambah memerah dengan jantung yang mulai berdebar tanpa komandan.


Dev mencium kening Safira, semakin lama semakin bawah, membuat Safira hanya bisa pasrah saja padanya. Udara dingin di dalam kamar mandi itu mulai hilang, dan langsung diganti dengan suasana panas yang tidak bisa ditahan lagi oleh keduanya.


Dev mengangkat tubuh Safira, membawa wanita itu keluar dari dalam kamar mandi. Keduanya saling menatap dengan tatapan yang tidak bisa lagi diartikan maknanya. Pada detik berikut, kedua insan itu pun menyatu, dalam penyatuan yang mulai didasari oleh cinta. Namun, cinta itu masih belum bisa diungkapkan oleh salah satu dari keduanya.


☆ ☆ ☆


Pukul 06.15


Safira mengeliat lalu meraba kasur di sebelahnya. Kosong! Ia pun langsung membuka matanya dan mengedarkan pandangannya, mencari sosok pria tampan yang semalam tidur dengannya.


"Kau mencari siapa?" tanya Dev yang duduk di pojok kamar sambil memegang sebuah kuas.


Safira tidak menjawab apapun. Ia menarik selimut tebal yang menutupi tubuhnya, lalu mengerutkan dahinya saat melihat lukisan yang Dev letakkan di atas meja.


'Aaaa.....Apa itu? Kenapa dia melukisku dalam keadaan seperti itu?!' Batin Safira berteriak dengan wajah yang sudah memerah karena malu yang luar biasa.


"Bagaimana? Sembilan sampai sepuluh, kau memberi nilai berapa?" tanya Dev. Pria itu merapikan alat-alat lukisnya, lalu berjalan mendekati Safira.


"Safira!" Panggil Dev dengan nada yang sedikit ditinggikan. Safira tersentak dan langsung menatap ke arah Dev.


"Bagaimana? Kau memberi nilai berapa?" tanya Dev. Kini ia duduk di samping Safira, merapikan rambut yang masih berantakan itu.


"Ke-kenapa seperti itu? Bagaimana jika dili...."


"Tidak akan kubiarkan satu orang pun melihatnya! Lukisan itu akan kupajang di kamar kita! Dan hanya kita yang melihatnya!" Potong Dev. Sementara Safira hanya bisa menghembuskan nafasnya saja. Patuh dan mengalah, hanya dua hal itulah yang bisa Safira lakukan di hadapan seorang Devano.


Dev kembali tersenyum penuh kemenangan. Pria itu kini merasa puas setelah mengerjai Safira, benar-benar tidak ada hal yang lebih seru lagi baginya sekarang, selain bersama Safira dan menjahili wanita itu.


"Kau mau kemana, Sa?" tanya Dev saat Safira turun dari kasur, dengan tubuh yang dibungkus selimut tebal.


"Mandi, Sa-sayang," jawab Safira tertunduk.


"Jangan setakut itu padaku! Aku tidak akan membentakmu lagi." Dev bangkit dari dududknya, lalu mengangkat tubuh Safira menuju kamar mandi.


"Biar kusiapkan air dulu, tunggu sebentar," ucap Dev sambil menurunkan Safira di dekat bak mandi. Dev pun memutar keran air panas, lalu mencampurnya dengan air biasa.


"Mau kutemani?" lanjutnya menggoda Safira. Safira langsung menggeleng kuat, membuat Dev kembali tersenyum dengan hati yang benar-benar puas. Puas menjahili wanita yang berstatus sebagai istrinya itu.


"Panggil aku jika kau sudah selesai!" Dev keluar, sedangkan Safira langsung memasukkan dirinya ke dalam bak mandi, berendam untuk waktu yang cukup lama.


Hampir satu jam berlalu. Namun Safira belum juga keluar dari kamar mandi, atau memanggil Dev untuk membantunya keluar. Hal itu membuat Dev yang diluar kamar mandi, hanya bisa menatap pintu yang memisahkan dirinya dengan Safira.


"Sa....Kau tidur atau....." ucapan Dev langsung terhenti ketika melihat Safira yang sudah berdiri di depan pintu kamar mandi, tubuhnya tertutup oleh jubah mandi berwarna ungu tua.


"Aku lama, ya?" tanya Safira dengan wajah polosnya.


"Tidak!" jawab si tukang gengsi tingkat dewa.


"Maaf."


"Untuk apa?" tanya Dev dengan satu alis yang dinaikkan.


"Ya, maaf, maaf jika aku membuat kesalahan sepagi ini," jawab Safira tertunduk.


"Tidak ada maaf untukmu, bukannya aku sudah bilang, maafmu harus diganti dengan..."


Cup


Safira langsung mengecup bibir Dev secepat kilat, membuat si pemilik bibir termenung beberapa saat.


"Pintar," lanjut Dev tersenyum pada Safira. Sementara Safira, wanita itu sudah malu hampir setengah mati sekarang. Dengan cepat ia membuka lemari, mengambil baju gantinya, dan langsung berlari memasuki kamar mandi.


"Hei, jangan berlari, kau bisa terjatuh nanti," teriak Dev sambil menggelengkan kepalanya melihat tingkah Safira.


"Apa ini? Aku tidak sedang bermimpi, kan? Aku yang menciumnya tadi? Dan dia tersenyum semanis itu padaku? Aaaa...malunya....." Safira memegangi kedua pipinya yang selalu memerah jika mengingat semua perlakuan manis Dev padanya.


Tanpa sadar, ternyata Dev kini berdiri di depan pintu kamar mandi, menyaksikan tingkah konyol Safira sampai ia selesai memakai semua bajunya.


Safira membalik badannya hendak keluar, betapa terkejutnya Safira, saat melihat si tampan Dev berdiri di depan pintu sambil menatap ke arahnya.


"Se-sejak kapan Kak Dev, bukan, maksudku, Se-sejak kapan kau berdiri di sana, Sa-sayang?"