
15 menit sebelum makan malam di rumah utama dimulai. Aldy dan Jessica duduk di ruang keluarga dengan ekspresi yang sangat sulit diartikan. Keduanya sedang menunggu kepulangan Davin, anak perempuan mereka yang memiliki jiwa seperti seorang anak laki-laki.
Beberapa menit kemudian. Pintu utama terbuka, dan langsung memperlihatkan seorang gadis dengan penampilan yang cukup rusuh, dan dengan tangan memegang sebuah pistol yang siap tembak.
"Davina! Apa yang kau lakukan?!"
Aldy dan Jessica menatap gadis itu tajam. Saat Aldy maju satu langkah, gadis itu pun mundur satu langkah, dan semakin mendekatkan pistol itu ke kepalanya.
"Sayang, apa yang kau lakukan. Jauhkan pistol itu, jangan berbuat yang aneh-aneh," ucap Jessica lembut.
Davin tetap diam. Ia menatap wajah Jessica dan Aldy beberapa detik lalu kembali menunduk.
"Baiklah, katakan apa yang Davin inginkan, dan jauhkan pistol itu. Maka Ayah akan menuruti semua yang Davin inginkan, semuanya," ucap Aldy penuh kesabaran.
"Black red-ku, aku ingin memakainya, Yah. Hidupku tidak tenang jika tidak memakainya kemana-mana, apalagi melihatnya terus di simpan di dalam sana," jawab Davin lirih.
Aldy dan Jessica menghembuskan nafas mereka secara bersamaan, lalu saling menatap satu sama lainnya.
"Baiklah, Ayah akan memberikan kuncinya, tapi berikan dulu pistol itu pada Ayah. Ayah dan Ibu tidak pernah mengajarimu bertingkah seperti ini."
"Tidak mau, kunci motornya dulu!" tolak Davin dengan nada yang begitu rendah.
"Tukeran saja, Ayah berikan kunci motornya, Davin berikan pistol itu," tawar Aldy.
"Baiklah," jawab Davin setuju.
"Sayang, berikan kunci motor itu," pinta Aldy pada Jessica. Jessica diam sejenak, lalu menatap pistol yang Davin pegang, dan letakkan tepat di samping kanan kepalanya.
"Ini." Jessica menyerahkan kunci motor yang dua hari ini ia sita pada Aldy, lalu kembali menatap ke arah putrinya yang terlihat tersenyum bahagia.
Aldy kembali maju beberapa langkah, namun langkahnya terhenti karena suara tembakan pistol yang menggema di lantai dasar.
Darr ....
Spontan Aldy menjatuhkan kunci motor yang ia pegang, dan langsung memegangi dadanya yang tiba-tiba berdebar kencang. Sementara Jessica langsung berlari ke arah Davin dan langsung memastikan bagaimana keadaan putrinya itu.
"Anak nakal!" Jessica langsung mencubit lengan Davin keras, membuat gadis itu meringis kesakitan.
"Ampun, Bu....Ayah tolong...."
"Ah, Ayah juga ingin menghukummu! ke sini kau!" ucap Aldy pada putrinya yang berlarian agar tidak mendapatkan hukuman dari dirinya dan juga Jessica.
"Ada apa ini, Kak?"
Aldy dan Jessica menoleh ke arah suara wanita yang sangat mereka hafal, dan tau siapa pemilik suara itu.
"Kamila, Jack?" Jessica mendekat dan langsung lupa dengan hukuman untuk Davin. Ia menatap Jack dan Kamila bergantian.
"Kapan kalian sampai?"
"Sudah dari tadi, tapi Kak Jess dan Kak Aldy tidak menyadari kedatangan kami," jawab Jack mewakili istrinya, Kamila.
"Sebenarnya apa yang terjadi sampai Davin berlari kesana kemari seperti itu?" tanya Kamila bingung.
"Coba lihat ini, Jack. Kira-kira apa jenis pistol ini, dan dimana Davin mendapatkannya?" Aldy menyerahkan pistol itu pada Jack, membiarkan Jack meneliti pistol sialan itu.
"Oh, ini. Ini sama seperti pistol yang kuberikan pada Kak Jessica waktu itu, tapi yang ini hanya satu kali tembakan saja, setelah itu tidak bisa digunakan lagi."
"Gadis itu, aku akan naik untuk bicara dengannya terlebih dahulu!" Jessica yang menjadi seorang Ibu pun bergegas naik menuju lantai atas untuk menceramahi gadis nakal mereka itu.
Sedangkan Aldy, Kamila dan Jack langsung berjalan menuju meja makan.
"Di mana Erika? Kenapa kalian tidak mengajaknya?" tanya Aldy menanyakan keberadaan Erika, keponakan atau lebih tepatnya anak pertama Kamila dan Jack yang masih duduk di bangku SMP kelas tiga.
"Dia tidak ingin satu mobil dengan kami, dia ikut tapi masih belum sampai," jawab Kamila tersenyum.
"Hmmm, begitu. Bagaimana denganmu, apa kau sudah lebih baik sekarang?" tanya Aldy pada sang adik yang sempat mengalami keguguran.
"Baik, Kak. Kak Aldy jangan khawatir, Dokter bilang semua baik-baik saja."
"Syukurlah, maaf karena kami tidak dapat mengunjungimu," ucap Aldy meminta maaf.
"Tidak apa, Kak. Oh, ya, Dev dan Safira mana? Apa keduanya masih berbulan madu?" Kamila menatap ke arah tangga, ia mengira bahwa keponakannya Dev yang turun. Ternyata bukan, yang turun adalah Jessica dan Davin, putrinya.
"Kakak, tadi aku bertanya, dimana Dev dan Safira?"
"Mereka pindah ke rumah baru di kota sebelah. Dev bilang lebih dekat dengan perusahaan dan juga dengan kafe Safira, oleh sebab itu, mereka memilih pindah ke sana," jelas Aldy.
Kamila dan Jack hanya mengangguk beberapa kali lalu menatap ke arah Davin dan Jessica yang sudah duduk di meja makan.
Beberapa menit kemudian, semua mulai makan malam bersama sambil menunggu kedatangan Erika yang entah sampai mana sekarang.
"Maaf, apa Mommy dan Daddy ku sudah sampai?" tanya seorang gadis bergaun pink selutut itu pada seorang pelayan di lantai dasar.
"Ah, Mommy dan Daddy anda ada ruang makan, Nona. Mari saya antar."
Erika mengangguk lalu tersenyum mengikuti langkah si pelayan menuju ruang makan.
"Sayang, duduk di sini." Jessica menatap Erika lalu meminta gadis itu duduk di dekatnya.
Semua kembali melanjutkan makan mereka setelah Erika duduk tepat di sebelah kanan Jessica dan di sebelah kiri Davina.
☆ ☆ ☆
Usai makan malam bersama, mereka pun kini berkumpul di ruang keluarga. Aldy dan Jessica masih menatap Davin dan meminta penjelasan ulang dari gadis itu. Namun Davin tidak kunjung memberikan penjelasan, membuat Aldy dan Jessica hanya bisa menambah kesabaran dan juga menghembuskan nafas pelan.
"Baiklah, besok saja kita bicarakan lagi. Sekarang kau antar Erika menuju kamarnya. Ada hal penting yang Ayah dan Ibu harus bicarakan dengan Paman Jack dan Bibi Kamila," ucap Aldy pada Davin.
Davin pun mengangguk pasrah dan langsung mengajak Erika menuju kamarnya di lantai atas.
"Kakak, apa kakak sudah menyuruh Jimmy untuk melindungi Safira? Maksudku, aku takut Devano melakukan hal yang tidak-tidak padanya," ucap Kamila setelah Davin dan Erika sampai di lantai atas.
"Sudah, kami sudah mengaturnya. Jimmy akan melaporkan semua hal yang terjadi di sana." Jessica diam sejenak.
"Tadi dia menelepon untuk meminta beberapa pelayan ke sana. Dia bilang Safira terluka, membuat ia tidak bisa melakukan pekerjaan rumahnya," lanjut Jessica.
"Terluka? Apa Dev yang membuat ia terluka?"
"Tidak mungkin, aku yakin putraku tidak akan melakukan hal itu pada Safira. Dia pria yang baik..."
"Sama seperti ayahnya," potong Aldy lalu tersenyum miring.
Mereka kembali membahas Dev dan Safira. Bahkan merencanakan beberapa hal untuk membantu Safira agar mendapatkan balasan cinta dari Devano.