
Jam sudah menunjukkan pukul 19.30. Kini Dev, Jimmy dan juga Safira sudah duduk di meja makan.
Jimmy memang selalu makan malam di sini. Bedanya, ia selalu makan setelah Dev dan Safira selesai. Tapi malam ini berbeda, Dev memaksa Jimmy untuk ikut makan malam bersamanya. Jimmy yang tidak enak hati pun mengikuti apa yang Dev mau, ini semua demi kebahagiaan dan kenyamanan Tuannya.
Mereka mulai makan malam dengan hening. Terlihat Dev sesekali melirik Safira yang fokus pada makanannya. Melihat hal itu, Jimmy pun ikut tersenyum bahagia. Setidaknya ada harapan besar untuk Safira sekarang.
Usai makan malam, Safira pun membereskan semua piring kotor yang ada di meja makan. Menaruh piring-piring itu di dekat meja dapur.
"Kerjakan besok saja," ucap Dev yang masih duduk di meja makan.
"Tidak bisa, Kak. Jika dikerjakan besok maka akan menumpuk dan berbau yang tidak sedap," jawab Safira lalu menggulung lengan jaketnya dan mulai mencuci piring-piring kotor itu.
'Kasian juga, dia pasti lelah jika terus seperti ini setiap hari.' Batin Dev mengasihani Safira.
Dev melangkah mendekat lalu mengambil piring-piring yang sudah bersih dan meletakkannya di rak piring.
"Biar aku saja, Kak."
"Tidak, biarkan aku yang melakukannya. Kau kan sudah memasak dan mencuci piringnya, sekarang, biarkan aku yang menaruhnya lagi," jawab Dev tersenyum tipis.
'Mimpi apa Kak Dev?' Batin Safira bertanya.
☆ ☆ ☆
Setelah selesai dengan urusan dapur, Safira dan Dev pun melangkah keluar secara bersamaan.
"Kak Dev?" panggil Safira lalu berhenti sejenak.
"Hmmm?"
"Aku besok ada janji dengan temanku, kami akan pergi mengunjungi panti," ucap Safira memberi tahu.
"Jam berapa?" tanya Dev mulai dingin.
"Jam 9 pagi, aku akan pulang sebelum Kak Dev pulang dari perusahaan."
"Hmmm, pergilah," ucap Dev lalu berjalan menaiki tangga.
"Yes, yes...." Safira meloncat girang. Sampai ia tidak sadar bahwa masih ada Jimmy yang menatap ke arahnya sambil menahan tawa.
Setelah selesai meluapkan kebahagiaan, Safira pun langsung berjalan masuk ke dalam kamarnya. Sementara Jimmy langsung pulang karena semua pekerjaannya sudah selesai.
Setelah mendapatkan apa yang ia inginkan, Dev pun keluar dari dapur, dan langsung melangkahkan kakinya menuju ruang tengah, dilihatnya Safira yang sedang menonton TV sambil melipat beberapa pakaiannya.
"Khemm."
Safira menoleh lalu mengerutkan dahinya menatap Dev.
"Ada apa, Kak? Apa Kak Dev belum menemukan laptop Kak Dev sampai sekarang?" tanya Safira.
"Tidak." Hanya itu yang Dev katakan lalu mendekat ke arah Safira. "Kenapa kau belum tidur?" lanjutnya bertanya.
"Aku belum ngantuk, Kak. Dan aku juga harus melipat ini, agar aku tidak memiliki beban lagi besok," jelas Safira. Dev hanya mengangguk lalu menatap ke arah layar TV.
"Tontonan tidak bermutu," gumam Dev lalu mematikan TV yang menurutnya tidak perlu dinyalakan.
"Kenapa dimatiin?" tanya Safira bingung. Dev hanya diam tak menjawab.
Beberapa menit kemudian, keheningan di ruangan itu pun terpecahkan karena dering Hp Safira yang cukup keras. Safira meraih benda pipih yang ia letakkan di atas sofa.
"Hallo, Sa?"
"Iya, ada apa, Al?" tanya Safira sambil merapikan lipatan bajunya.
"Bagaimana, apa kamu sudah meminta izin untuk ke panti? Dan bagaimana jawabannya, dia tidak marahkan padamu?"
"Sudah, kau tenang saja. Jangan terlalu berpikir yang macam-macam. Aku baik-baik saja."
"Bukan begitu, Sa. Aku hanya khawatir, takut si Komang berlaku kasar padamu."
"Siapa Komang?" tanya Safira sambil melirik Dev sekilas. Seperti pria itu sedang berusaha menguping pembicaraannya.
"Siapa lagi kalau bukan suami dinginmu itu. Dia mirip seperti pak Komang dagang es krim."
"Hahaha, Sudahlah, besok kita bicara lagi, sampai jumpa," ucap Safira lalu mematikan sambungan telepon, sebelum sahabat gerseknya membahas hal yang seharusnya tidak dibahas.
Sementara Dev, pria itu bertanya-tanya dalam batinnya. 'Al itu nama laki-laki atau perempuan, ya?' Batin Dev. Pria itu melirik sekilas layar Hp Safira yang masih menyala, seketika, ia tersenyum samar saat melihat wallpaper Hp wanita itu.
"Kak Dev, aku masuk dulu," ucap Safira lalu mengangkat tumpukan bajunya dan berjalan menuju kamarnya.
"Istirahatlah, dan semoga mimpi indah," gumam Dev setelah Safira benar-benar masuk ke dalam kamarnya. Ia pun berjalan keluar dari ruang tengah dan langsung menaiki tangga menuju kamarnya.