
Kini, Dev yang mematung di depan pintu ruang setrika. Ia menarik nafasnya, berusaha menenangkan dirinya sendirinya. Setelah cukup tenang, barulah Dev membuka pintu ruangan dengan kunci cadangan yang ada di tangannya.
Dev menatap iba pada Safira yang terduduk diantara keranjang-keranjang baju. Ia mendekat, dan langsung menarik tubuh wanita itu ke dalam pelukannya.
"Maaf, aku tidak bermaksud membuatmu menangis," ucapnya pada Safira yang masih di dalam pelukannya.
"Aku hanya tidak ingin kau keluar malam-malam. Terlebih menghadiri sebuah pesta. Ya, walau itu di kafe-mu sendiri," jelas Dev. Safira masih diam, dan tidak berniat menjawab ucapan pria itu.
Beberapa menit kemudian. Safira mengangkat wajahnya lalu memberanikan diri untuk menatap mata Dev.
"Maaf, jika kehadiranku menjadi beban dalam diri Kak Dev. Dan maaf, karena aku sudah lancang mencintai Kak Dev. Dan berharap bisa menggantikan posisi Kak Aurora...."
Ucapan Safira langsung terhenti saat bibir Dev kembali mendarat di bibirnya. Pria itu menghentikan ciumannya, lalu menatap lekat mata Safira.
"Seharusnya, aku yang meminta maaf. Maafkan aku yang tidak pernah mengerti dengan apa yang kau rasakan selama ini. Maafkan aku yang masih belum mampu membuka hatiku untukmu, dan menjadikanmu sebagai seorang wanita yang spesial di sana." Dev berhenti sejenak.
"Mau kah kau membantuku untuk keluar dari semua keterpurukan ini?" lanjutnya dengan nada yang begitu rendah.
Safira seketika tersenyum samar, lalu mengangguk menyetujui permintaan Dev. Dev kembali mendaratkan satu ciuman di bibir Safira, dan kali ini, ia mencoba melakukan dengan tulus dari hatinya. Walau masih terasa ada sesuatu yang janggal di sana.
Dev melepaskan Safira, lalu mengangkat tubuh wanita itu menaiki tangga, menuju kamar mereka.
"Istirahatlah, aku akan menyelesaikan beberapa pekerjaan dulu," ucap Dev setelah membaringkan tubuh Safira di atas kasur. Pria itu berjalan mendekati meja kerjanya.
'Terimakasih, Ra. Terimakasih karena sudah menghabiskan waktu-waktumu dulu bersamaku.' Batin Dev. Dev menyentuh fotonya dan Aurora yang ia letakkan di atas meja kerjanya, lalu memasukkanya ke dalam laci meja itu.
"Aku harus mendekor ulang kamar ini," gumamnya sambil menatap sekeliling kamarnya, yang masih menyisakan kenangan-kenangan manis tentang Aurora. Terutama lukisan-lukisan yang terpajang di dinding kamarnya.
☆ ☆ ☆
Sementara itu, jauh diluar negri sana.
"Sayang, apa yang kau pikirkan, hum?!" Aldy memeluk tubuh Jessica, lalu menghirup aroma tubuh wanita itu.
"Anakmu! Dia baru saja membuat menantuku menangis karena ucapannya!" jawab Jessica yang masih terbawa emosi.
"Memang apa yang Dev katakan?"
Jessica diam sejenak, dia juga bingung, bagaimana cara menjelaskan duduk perkaranya pada Aldy.
"Jadi begini, Jimmy bilang, Safira meminta izin untuk ke kafe-nya, karena nanti malam ada pesta ulang tahun di sana. Tapi Dev tidak memberi izin, bahkan sebelum Safira menyelesaikan ucapannya." Jessica melirik Aldy sekilas. Sepertinya, Aldy tidak terlihat khawatir sedikit pun dengan keadaan Safira.
"Lalu?" tanya Aldy yang ingin tau informasi selanjutnya.
"Dev malah membentak, bukannya membicarakan semuanya dengan baik-baik pada Safira."
"Sudah?" tanya Aldy. Jessica pun mengangguk.
"Jadi begini, Sayang. Aku sebagai ayahnya, mengerti apa yang diinginkan dan maksudkan oleh anakku," lanjutnya lalu melepaskan Jessica dari pelukannya.
"Kau tau, kan Dev seperti apa? Dia sangat tidak suka dengan wanita yang suka keluar malam, kau ingat? Bagaimana marahnya dia pada Davin waktu itu? Dia bahkan terus memperingati dan menasihati Davin agar tidak mengulangi kesalahannya lagi." Aldy diam sejenak.
"Itu Davin, adiknya. Bagaimana dengan Safira yang kini berstatus menjadi istrinya? Walau pada dasarnya, Dev belum bisa membuka hati untuk Safira. Tapi percayalah, jauh di dalam hatinya, ia juga memperhatikan dan menyayangi Safira, layaknya ia menyayangi Aurora dulu," lanjut Aldy tersenyum. Jessica pun ikut tersenyum mendengar ucapan Aldy.
"Tapi tetap saja! Anakmu salah! Kenapa tidak bicara dengan baik-baik pada Safira?!"
"Hei, hei, dia juga anakmu, Sayang!" jawab Aldy dengan mata yang menatap Jessica tajam.
"Nah, kan! Sudah tua, masih saja bersikap seperti itu padaku! Ubah tatapanmu itu!" ucap Jessica sambil mengusap-usap wajah Aldy. Lalu tertawa renyah saat melihat wajah tampan yang berubah konyol, dengan mata yang dijerengkan.