Devano Pranata Yoga

Devano Pranata Yoga
Hanya Sebagai Adik



"Sa, apa aku sedang bermimpi?" bisik Alisha sambil melirik ke arah Dev sekilas.


"Entahlah, aku juga tidak faham." Safira menggandeng tangan Alisha. Keduanya mulai memasuki panti, sedangkan Dev berjalan di belakang mereka.


Beberapa pasang mata menatap ke arah Dev, lalu berbisik-bisik tidak jelas. Mereka pura-pura tidak melakukan apa-apa jika Dev menatap ke arah mereka.


Usai menyerahkan semua barang-barang bawaannya, Safira dan kawan-kawannya pun langsung pamit undur diri pada sang Ibu panti. Sedangkan Dev, ia malah melangkah memasuki ruang tamu di panti itu.


"Maaf, Bu, saya hanya membawa segini, mohon diterima," ucap Dev lalu menyerahkan beberapa lembar uang berwarna merah muda pada sang Ibu panti.


Ibu panti itu pun menerima lalu berterima kasih sebanyak-banyaknya pada Dev. Karena bagaimana pun, uang ini sangat berharga bagi mereka.


Setelah melakukan misi rahasianya, Dev langsung pamit undur diri. Pria itu sempat menoleh lalu mengingat nama panti asuhan tersebut.


"Ayo, kita pulang, Kak," ucap Safira yang sendari tadi menunggu Dev. Sementara teman-temannya yang lain sudah pulang terlebih dahulu dan langsung pergi untuk jalan-jalan bersama.


"Kita akan ke rumah utama." Dev masuk ke dalam mobil lalu kembali terdiam seribu bahasa.


Setengah jam perjalanan. Sampailah Dev dan Safira di halaman utama kediaman keluarga Pranata. Keduanya turun dari mobil lalu melangkah mendekati pintu utama.


"Kak Dev." Davin berlari ke arah Dev dan juga Safira. Tanpa pikir panjang, ia langsung memeluk tubuh tegap Kakaknya itu.


"Kak Dev membawa sesuatu untukku?"


Dev tersenyum lalu sedikit menundukkan kepalanya. Dikecupnya kening Davina penuh sayang, sebagai seorang Kakak.


"Hadiah untukmu," ucapnya lalu tersenyum pada adiknya itu.


"Terimakasih, Kak," jawab Davina girang. Gadis itu berlari menaiki tangga menuju kamar Ayah dan Ibunya. Bermaksud untuk memberi tahukan tentang kedatangan Dev dan Safira.


Beberapa menit kemudian, Aldy dan Jessica menuruni tangga secara bersamaan. Keduanya tersenyum bahagia saat melihat Dev dan Safira sedang duduk berdua di ruang keluarga.


"Ibu, Ayah." Safira berdiri lalu mencium punggung tangan Aldy dan juga Jessica secara bergantian. Begitu pula dengan Dev, pria itu melakukan hal yang sama seperti apa yang Safira lakukan.


"Duduk, Nak," ucap Jessica tersenyum pada Dev dan juga Safira.


"Bagaimana kabar Ibu dan Ayah?" tanya Dev. Pria itu kembali tersenyum ketika Aldy dan Jessica menatap ke arahnya.


"Kami juga baik, Bu," jawab Safira mewakili Dev.


"Ibu, Ayah, Safira pamit kebelakang sebentar," lanjutnya lalu keluar dari ruang keluarga. Safira berjalan menuju dapur untuk mengambil air minum, karena jujur, ia masih malu jika harus meminta pelayan untuk sekedar mengambil minum saja.


"Dev, bagaimana kau dan Safira?" tanya Jessica. Dev diam beberapa saat, lalu menatap ke arah Aldy dan Jessica.


"Aku sudah menganggapnya seperti adikku sendiri, sangat sulit jika harus menggantikan Rara dengan Safira. Aku masih tidak bisa, Bu," jelas Dev lalu tertunduk.


Aldy dan Jessica pun menghembuskan nafas mereka secara bersamaan. Keduanya mencoba mengerti dengan apa yang Dev rasakan. Namun, mereka juga tidak tega dengan Safira, wanita yang seharusnya dianggap istri, namun hanya dianggap adik oleh anak mereka.


"Minuman datang," ucap Safira dengan wajah cerianya. Wanita itu membawa nampan berisi dua gelas jus jeruk, dan dua gelas air putih dingin.


"Kenapa tidak meminta pelayan saja, Nak?"


"Hehehe, Safira merasa tidak enak, Bu," jawab Safira lalu kembali duduk di samping Dev.


"Dev, ikut dengan Ayah, ada yang Ayah ingin bicarakan denganmu," ucap Aldy lalu berdiri. "Ini tentang bisnis, Nak," lanjutnya.


Dev pun ikut bangkit dan langsung mengikuti langkah Aldy menuju lantai atas.


"Sa, maafkan, Ibu," ucap Jessica saat Dev dan Aldy sudah benar-benar keluar dari ruang keluarga.


"Tidak apa, Bu. Safira baik-baik saja."


"Bagaimana dengan tanganmu?" Jessica meraih kedua tangan Safira, raut wajahnya tiba-tiba berubah saat melihat bekas luka di telapak tangan dan juga punggung tangan menantunya itu.


"Ini tidak apa-apa, Bu. Safira baik-baik saja," ucap Safira tersenyum.


"Maafkan Ibu."


"Ibu tidak perlu meminta maaf seperti itu. Ibu tidak salah apa-apa."


Jessica kembali tersenyum, sungguh, sifat inilah yang membuat Jessica yakin, kalau Safira bisa mengembalikan Dev lama mereka. Dan semua terbukti sekarang, Dev lama mereka sudah kembali, walau belum sepenuhnya.