Devano Pranata Yoga

Devano Pranata Yoga
Devano & Safira (4)



"Selamat malam, Sa. Maaf mengganggu waktu istirahatmu."


"Ini aku, Bastian. Kenapa kamu pergi dari kafe tadi?" tanya Bastian sedikit basa basi.


"Hallo, Sayang....Eh, maaf, maksudku Safira. Kenapa kau diam saja, Sayang...Eh, salah lagi, ya?" lanjut Bastian mulai menggombal.


"Hmmm, dengar baik-baik, jangan pernah dekati lagi istriku! Atau aku akan menghancurkan tumbuhmu sampai menjadi debu!" ucap Dev dengan penuh penekanan.


Ucapanya berhasil membuat Bastian yang di seberang sana langsung merinding sesaat. Bastian pun langsung memutuskan sambungan telepon, dan berniat untuk menghubungi Safira di lain waktu, tanpa memperdulikan peringatan dari seorang Devano, yang baginya bukan siapa-siapa, karena Bastian tidak mengenal siapa Devano sebenernya.


"Siapa, Kak?" tanya Safira setelah selesai dengan urusannya.


"Bukan siapa-siapa, sudahlah, ayo naik! Aku sudah lelah dan ingin segera istirahat!" jawab Dev dan langsung menggendong tubuh Safira keluar dari dapur.


"Aku bisa berjalan sendiri, Kak!" ucap Safira yang malu jika sampai dilihat oleh Davin nantinya.


"Jangan banyak bicara, diam dan menurut saja!" Dev mulai menaiki tangga dengan sangat hati-hati. Sesekali ia menunduk menatap wajah Safira yang sudah memerah karena ulahnya.


Dev membuka pintu kamar, lalu membaringkan Safira sambil tersenyum tak jelas pada wanita itu.


"Kenapa Kak Dev menatapku seperti itu?" tanya Safira bingung dengan arti tatapan mata Dev.


"Tidak ada, tidurlah. Aku akan berganti baju terlebih dahulu," jawab Dev beralasan. Dev pun bangkit dan langsung berjalan menuju kamar mandi untuk melakukan suatu hal yang seharusnya tidak dilakukan olehnya.


30 menit kemudian.


Safira menatap bingung Dev yang begitu lama di kamar mandi. Safira sebenarnya cemas, takut terjadi sesuatu yang tidak-tidak pada Dev.


"Kenapa belum tidur?" tanya Dev. Ia naik ke atas kasur dan membaringkan dirinya di samping Safira.


"Apa yang Kak Dev lakukan di dalam sana? Kenapa lama sekali?" tanya Safira khawatir.


"Benarkah? Aku tidak melakukan apapun. Ayo, tidur! Jangan memikirkan yang tidak-tidak!" jawab Dev lalu memejamkan matanya.


'Kau bodoh, Dev! Kau punya istri sekarang! Tapi kenapa kau belum siap untuk menyentuhnya?!' Batin Dev memaki kebodohannya sendiri.


"Kak Dev? Bolehkah aku memelukmu?" tanya Safira sambil menatap wajah Dev yang terlihat sedikit berbeda.


"Mendekatlah!"


Safira meringsut mendekati Dev, lalu memeluk tubuh Dev, layaknya sedang memeluk sebuah boneka.


'Ya, Tuhan....Apalagi ini?!' keluh Dev saat merasakan hasratnya kembali datang begitu saja.


"Kak Dev kenapa?"


Secara perlahan Dev mendekatkan bibirnya. Kecupan hangat ia hadiahkan di atas bibir merah mungil Safira, membuat tubuh sang pemilik menegang. Namun tidak menunjukan gerakan kepenolakan.


Rasa manis, hangat, dan wanginya sungguh membuat rasa candu pada Dev. Dev selalu ingin berkubang lebih lama lagi di dalamnya.


Dengan rasa canggung, Safira membalas setiap gerakan yang bibir Dev lakukan pada dirinya. Ia memegang tidak pernah melakukan hal seintim ini dengan siapapun sebelumnya. Namun nalurinya seolah mengajari dan membimbing untuk melakukan apa.


Puas bermain dengan bibir Safira. Bibir Dev turun menciumi, lalu memberikan gigitan kecil pada leher jenjang Safira. Lengkuhan dan desahan pun mulai keluar dari bibir gadis itu. Terutama saat ia merasakan tangan kekar Dev menyentuh dan meremas kedua buah melonnya.


Dev menatap Safira sejenak. Kemudian ia melanjutkan aksinya. Ia melepas setiap penghalang yang ada pada tubuh istirinya. Sampai netranya bisa melihat keindahan lekuk tubuh itu dengan jelas.


Dev kembali pada posisinya. Ia menelusuri setiap inci dari tubuh bagian atas Safira dengan tangan dan juga bibirnya. Memberikan sentuhan, ciuman, gigitan dan juga lumathan di setiap titik tertunda.


Setiap sentuhan, ciuman dan juga gigitan yang Dev berikan menimbulkan erangan, desahan, pekikan dan juga getaran pada tubuh Safira, yang hanya bisa pasrah dengan apa yang dilakukan suaminya.


Dan dari sentuhan itu juga, Safira bisa merasakan kehangatan dan juga kelembutan Dev. Safira belum berani menyimpulkan bahwa kehangatan itu juga termasuk dari bagian cinta Dev. Tapi setidaknya, Dev tidak bermain secara kasar dengannya saat ini. Itu sudah lebih dan cukup bagi Safira.


Dengan pelan Dev menanggalkan penutup terakhir pada tubuhnya dan juga tubuh Safira. Pria itu mengecup kening, kelopak mata, pipi dan juga bibir Safira. Lalu ia berkata. "Boleh kah aku melakukannya?"


Dengan malu-malu Safira menganggukkan kepalanya. Tanpa mengeluarkan sepatah kata pun setelah anggukan kepalanya itu. Dan Dev. Pria itu menyimpulkan bahwa anggukan kepala Safira bermakna : iya. Wanita itu mengizinkan Dev untuk masuk ke dalam tubuhnya.


Safira mulai memejamkan matanya saat merasakan bagian penting tubuh Dev menyentuh dirinya. Hanya dengan begitu saja, ia sudah merasakan ketegangan yang luas biasa. Bagaimana sampai bagian penting Dev benar-benar memasuki dirinya?


Setelah merasa posisinya sudah pas, Dev pun mendorong pelan tubuhnya. Dan menghentikan dorongan itu sejenak, saat melihat air mata keluar dari pelupuk mata istrinya.


Dev mengecup kening, dan juga bibir wanita itu.


"Sedikit lagi, Sa... Tahan, sedikit lagi..." gumamnya sambil melanjutkan usahanya yang sempat terhenti. Dengan satu kali hentakan tubuh Dev dan Safira menyatu dengan sempurna. Menimbulkan rasa nikmat yang luar biasa.


Terdengar pekikan tertahan dari Safira, membuat Dev kembali mengecup bibir, dagu, kening dan peluk matanya. Sampai Dev merasa Safira sudah lebih tenang dan juga mulai menerima kehadiran dirinya.


Dengan perlahan Dev menarik tubuhnya, lalu kembali memasukan dirinya ke dalam tubuh Safira. Awalnya, Dev hanya mendengar pekikan sakit yang ditahan oleh Safira. Namun semakin lama dan semakin cepat gerakan tubuh Dev. Membuat apa yang dengar pun menjadi berbeda. Kini ia bisa mendengar desahan, dan juga lengkuhan nikmat dari istrinya.


Semakin lama, Dev pun semakin mempercepat gerakannya. Hingga ia merasakan puncak kenikmatan itu akan segera keluar dari dirinya. Dan akhirnya, setelah hampir satu jam, Safira pun merasakan semburan hangat Dev di dalam tubuhnya. Rasanya begitu nikmat, membuat Safira merasa di cintai oleh pria yang baru saja mencapai kenikmatan dunia itu bersama dengannya.


Pria itu melepaskan dirinya, lalu menarik Safira yang sudah terkulai lemas ke dalam dekapannya.


"Terimakasih, Sa," ucap Dev lalu mencium kening Safira cukup lama, ia pun ikut terpejam sambil memeluk tubuh polos Safira.


☆ ☆ ☆


Jam 05.40


Dev bangun lebih awal dari biasanya, ia pun menatap wajah lelah Safira yang masih tertidur di dekatnya. Di kecupnya kening Safira, sebelumnya ia turun dan berjalan menuju kamar mandi, menyiapkan air hangat untuk Safira.


Setelah semua siap, Dev pun melangkah keluar, dan duduk di pinggir kasur, berniat untuk membangunkan Safira.


"Sa, bangunlah. Aku sudah menyiapkan air untukmu," ucap Dev sambil mengelus lembut pipi Safira. Cukup lama, Safira akhirnya membuka matanya dan tersenyum saat mendapati wajah tampan yang tengah menatap ke arahnya.