Devano Pranata Yoga

Devano Pranata Yoga
Davina Pranata Yoga (10)



Davina Pranata Yoga, gadis dingin yang pelit senyum itu, kini sudah berubah menjadi gadis manis dengan senyuman indah yang selalu menghiasi wajah cantiknya. Senyuman yang selalu ia tampakkan pada siapapun, termasuk kepada seseorang pria yang kini duduk di hadapannya.


Pria itu adalah Jonathan Putra Candra, Nathan ditugaskan oleh Aldy dan Ayahnya untuk selalu mendampingi Davin, kapanpun, dan dimanapun Davin berada. Nathan juga ditugaskan untuk melindungi Davin, dan memastikan kalau Davin tidak akan bertemu lagi dengan pria yang bernama Henry Agustin.


Kenapa? Karena, Aldy tidak ingin Davin dan Henry bertemu untuk beberapa bulan ke depan. Ini semua ia lakukan untuk menguji, seberapa tulus cinta Henry untuk anaknya. Apakah pria itu akan tetap mencintai anaknya, atau malah mencari wanita lain diluar sana?


Sementara itu, Henry yang sudah dilanda rindu hanya bisa melihat Davin dari kejauhan. Hanya bisa memandangi senyum indah itu dari jarak jauh, sama seperti yang ia lakukan sekarang.


Henry kini duduk di sebuah meja yang cukup jauh dari meja dimana Davin dan Nathan duduk. Henry terus memperhatikan Davin, memuaskan dirinya untuk memandang wajah yang sangat ia rindui itu.


Henry mengalihkan pandangan, dan menundukkan kepalanya, saat ia menyadari bahwa Davin akan menatap ke arahnya.


'Aku tau, itu pasti kau, 'kan, Kak? Aku juga merasakan apa yang kau rasakan sekarang, aku juga rindu padamu. Tapi, aku sudah berjanji pada Ayah dan juga Ibuku, untuk tidak berhubungan lagi denganmu, atau hanya sekedar bertemu denganmu.' Batin Davin. Davin kembali fokus pada laptopnya, membiarkan Henry untuk tetap memandang dirinya.


"Davin? Paman menyuruh kita untuk pulang," ucap Nathan memberitahu. Nathan merapikan semua barang miliknya, lalu membantu Davin untuk merapikan buku-bukunya.


Davin merobek selembar kertas, dan sengaja menjatuhkan kertas itu di dekat kursinya. Ia melirik ke arah Henry sekilas, lalu berjalan mengikuti langkah Nathan untuk pulang ke rumah utama.


Henry bangkit dari duduknya, lalu berjalan mendekati meja yang dipakai Davin tadi. Henry berjongkok, memunguti kertas yang sengaja Davin jatuhkan.


''Kau harus percaya! Sesuatu yang sudah ditakdirkan bersama, ia takkan pergi, meskipun telah menjauh. Ia pasti akan kembali dan mendekat. Tapi disaat yang tepat!'''


Henry tersenyum membaca apa yang tertulis di selembar kertas itu, ia tidak menyangka, kalau Davin sudah menyadari akan kehadiran dirinya, dan akan menuliskan ini untuknya.


'Aku akan tetap berjuang dan menunggu waktu yang tepat itu. Aku akan tetap mencintaimu, akan tetap memperjuangkan dirimu!' Batin Henry bertekad.


Henry melipat lembaran tadi, memasukkannya ke dalam saku celana yang ia kenakan.


* * *


2 Minggu kemudian.


Zia, Zen dan Almira datang ke kota untuk mengunjungi Henry, dan berniat untuk menginap selama beberapa hari di rumah Henry.


Malam harinya, tepatnya pukul 8 malam. Henry dan Almira keluar untuk membeli beberapa kebutuhan mereka di minimarket terdekat.


Kebetulan, Almira dan Henry memakai baju yang berwarna senada, membuat keduanya terlihat seperti sepasang kekasih. Nyatanya bukan!


Almira menaikkan dirinya ke atas motor Henry, sambil berpegangan pada pundak Henry.


"Kak Henry jangan gebut-gebut, ya!" ucap Almira sebelum Henry melajukan motornya. Henry pun hanya menjawab "Iya."


* * *


"Ayah, Davin ingin keluar sebentar saja. Ada beberapa hal yang harus Davin beli malam ini juga."


"Nathan! Ikutilah bersama Davin!" perintah Aldy pada Nathan yang duduk di sampingnya. Nathan mengangguk lalu mengikuti langkah Davin menuju halaman utama.


Nathan mengambil alih kunci motor dari tangan Davin, bermaksud untuk memakai motor milik Davin, dan membocengi Davin.


"Kembalikan kunci motorku!"


"Aku yang akan membocengimu!" tegas Nathan. Nathan mulai menaiki motor Davin, dan tidak lupa untuk memakai helm nya.


Sementara Davin, ia hanya bisa mengalah saja, dan mengikuti apa yang diinginkan Nathan. Davin meraih helm yang Nathan berikan, lalu mendudukkan dirinya di belakang Nathan.


Nathan meraih tangan Davin, meminta Davin untuk berpegangan di pundaknya.


"Jangan mencari-cari kesempatan!" ucap kesal Davin.


"Aku tidak mencari kesempatan! Aku hanya memintamu berpegangan, dan itu juga demi kebaikanmu! Bukan kebaikanku!" jawab Nathan ikut kesal.


Davin kembali mengalah, ia pun meletakkan tangannya di atas pundak Nathan, berpegangan pada pundak pria itu.


Motor mulai melaju keluar dari halaman utama, dan kini melaju ke arah timur kota.


* * *


Motor Henry berhenti tepat di depan sebuah minimarket. Almira turun terlebih dahulu, membuka helm yang ia kenakan, lalu menyerahkan helm itu pada Henry.


"Sabar, Ira! Dan jangan tarik-tarik baju Kakak lagi!"


"Yah, maaf!"


Henry dan Almira kini melangkah memasuki minimarket itu. Keduanya langsung mengambil semua keperluan mereka, dan langsung melangkah bersamaan menuju kasir.


Henry menarik tangan Almira, mengajak Almira untuk segera pulang, setelah membayar semua belanjaan yang ada ditangan mereka.


Kini keduanya sudah berada di atas motor, dengan Almira yang duduk di belakang Henry. Tangan kiri gadis itu dipenuhi oleh barang belanjaan milik Henry dan juga miliknya sendiri.


Almira yang belum siap pun kaget, saat motor Henry tiba-tiba saja berjalan, dan membuat dirinya hampir kehilangan keseimbangan.


"Rasain ini!" ucap Almira sambil mencubit pinggang Henry. Henry menghentikan tangan Almira, lalu menggenggam tangan itu, agar Almira tidak lagi mencubitnya dirinya.


"Lepasin, Kak!" ucap Almira sambil menarik tangannya.


"Bayar dulu gadis nakal!" jawab Henry sambil melepas tangan Almira, dan juga menarik-narik ujung rambut panjang gadis itu.


Tanpa Henry dan Almira sadari, ternyata ada empat pasang mata yang memperhatikan mereka. Dan bahkan ada hati yang mulai tersakiti saat melihat tingkah laku mereka.


"Kita pulang, Than! Aku tidak jadi belanja!" ucap Davin sambil menepuk punggung Nathan.


Davin benar-benar terpancing api cemburu, sampai-sampai, ia tidak mengenali lagi siapa sebenarnya wanita yang sedang bersama Henry sekarang.


Nathan menatap Henry dengan tangan yang mulai terkepal. Ia terus menatap Henry, dan ingin menghajar Henry sekarang juga.


"Kau tidak mendengar ucapanku! Aku ingin pulang, Nathan!"


"Jangan pikirkan lagi, Aku yakin, masih banyak pria yang lebih pantas untuk mendampingi dirimu! Sekarang masuk, dan beli semua kebutuhanmu!" ucap Nathan dengan nada dingin dan tegasnya.


Nathan meraih tangan Davin. Mengajak Davin untuk masuk dan menyelesaikan tujuan utama mereka.


'Aku sekarang menyerah, aku sudah tidak mengerti lagi dengan semua ini! Dan aku juga sadar, aku tidak punya hak untuk marah padanya! Karena, aku bukanlah siapapun dalam kehidupannya!' Batin Davin.


* * *


Almira melangkahkan kakinya memasuki rumah Henry, lalu meletakkan semua barang belanjaannya di atas meja makan.


"Ibu....Kami pulang, Bu!"


"Bibi ada di atas! Jadi, kau naiklah! Dan jangan berteriak seakan-akan kau tinggal di hutan!" sahut Henry. Henry tersenyum kecut saat melihat Almira yang tidak memperdulikan ucapannya. Gadis itu bahkan pergi begitu saja.


"Dasar aneh!" gumam Henry. Henry mulai mendudukkan dirinya di atas sofa, ia mengeluarkan Hpnya, dan langsung membuka aku Instagram-nya.


"Kemana akun Davin? Kenapa tidak ada lagi?!"


"Apa dia blokir-ku? Tapi, apa salahku?!" lanjut Henry. Henry menggaruk-garuk kepalanya yang tak gatal, sambil menyandarkan punggungnya pada sandaran sofa.


* * *


Sementara itu, Davin berlari memasuki rumah utama, menaiki tangga dan langsung mengurung diri di dalam kamar.


Nathan menghembuskan napasnya pelan. Dan mulai melangkahkan kakinya memasuki rumah utama.


"Apa yang terjadi pada Davin?" tanya Jessica pada Nathan. Nathan diam sejenak, ia menarik napasnya lalu mulai menceritakan semuanya pada Jessica.


"Kalian tidak salah lihat, kan?" tanya Jessica, setelah mendengarkan cerita dari Nathan.


"Tidak, Bibi, kami tidak mungkin salah, dan aku yakin itu benar-benar Henry! Pria itu memang tidak bisa dipercaya segitu saja!" jawab Nathan mulai kesal.


"Kau pulanglah, ini sudah larut malam! Biar Bibi dan Paman yang menyelesaikan semua ini!"


"Baiklah, Nathan pamit dulu." Nathan meraih tangan Jessica, menciumi punggung tangan wanita itu.


"Hati-hati di jalan!"


Nathan hanya mengangguk dan tersenyum tipis saja.