
Safira membuka pintu kamarnya, lalu menatap seorang wanita yang kira-kira berusia 45 tahun yang sedang menyapu di dapur.
"Bibi Laras? Sejak kapan Bibi di sini?" tanya Safira pada Laras yang masih sibuk dengan urusan dapurnya.
"Ah, Nona. Sejak tadi malam, Tuan Aldy dan Nyonya Jessica meminta saya ke sini," jawab Laras tersenyum.
"Emm, begitu, ya." Safira mendekat ke arah kompor lalu berpikir sejenak. Ia bingung harus memasak apa untuk menu sarapan Dev pagi ini.
"Bibi, apa yang harus aku masak sekarang? Aku bingung."
Safira menatap Laras yang tersenyum padanya. Wanita itu memang sangat dekat dengan Dev, bahkan memiliki kisah-kisah indah dengan Tuan Mudanya itu.
"Tuan Muda Dev lebih suka sarapan dengan roti bakar atau sandwich, tapi jika cuaca seperti ini, dia lebih suka roti bakar dan susu vanilla hangat," jawab Laras tersenyum.
"Begitu, ya. Kalau roti bakar, minumnya susu vanilla, dan kalau sandwich, minumnya susu cokelat?"
"Hehe, begitulah Tuan Muda Dev. Jika kita ingin dekat dengannya, maka kita harus mengetahui semua hal yang dia suka dan tidak suka." Laras kembali tersenyum lalu meletakkan sapu di pojok dapur.
"Biar Bibi saja, Nona duduk saja di meja makan," lanjut Laras dan hendak membuatkan roti bakar untuk Dev.
"Tidak, Bi. Biarkan Safira saja, lagi pula, tangan Safira sudah lebih baik dari kemarin," tolak Safira.
"Baiklah, Bibi akan mengerjakan pekerjaan yang lain," ucap Laras lalu keluar dari dapur.
Safira menatap punggung Laras sejenak, ada beberapa hal yang Safira tidak tau tentang wanita itu. Dan Safira sudah berniat untuk bertanya langsung pada Laras nanti, itupun jika waktu berpihak pada Safira.
15 menit kemudian. Dua potong roti bakar tersaji di atas piring Dev, dan juga ada satu gelas susu vanilla hangat di sana.
Dev turun dari kamarnya, matanya langsung menatap ke arah dapur yang sudah bersih, berbeda dari keadaan tadi malam. Dev melirik Safira sekilas, lalu duduk di meja makan tanpa mengucapkan sepatah katapun.
Safira menoleh ke meja makan, wanita itu tersenyum saat melihat Dev dengan lahap menyantap roti bakar buatannya.
"Diamlah di rumah. Jika tanganmu sudah membaik, baru aku akan mengizinkanmu untuk keluar dari rumah ini," ucap Dev setelah ia meneguk habis susu vanilla-nya.
"Baiklah." Hanya itu yang keluar dari mulut Safira.
☆ ☆ ☆
Jam kini menunjukkan pukul sebelas siang. Safira dan juga Laras sudah selesai dengan pekerjaan mereka. Safira sudah selesai membereskan kamarnya, begitu pula dengan Laras yang sudah selesai membereskan rumah baru Tuannya.
"Bibi, apa boleh Safira duduk di sini?" Safira menatap kursi kosong di sebelah Laras.
"Terimakasih, Bi."
Safira menatap wajah Laras yang terlihat cerah, seolah-olah wanita itu tidak memiliki beban sedikit pun dalam hidupnya.
"Bibi, maaf, bolehkah aku bertanya sesuatu pada Bibi?" tanya Safira hati-hati.
"Tanyakan saja, Nona. Bibi akan menjawabnya dengan senang hati."
"Emm, ini tentang Bibi, bukan tentang Kak Dev," ucap Safira tertenduk.
"Apa yang Nona ingin ketahui tentang saya? Saya tidak keberatan, siapa tahu saya dan Nona bisa bertukar cerita."
Laras kembali tersenyum, lalu mengambil bawang merah dan bawang putih untuk ia kupas.
"Emm, begini, aku sudah mengenal Bibi sejak kecil. Bibi dulu selalu berada di samping Kak Dev, kadang Bibi juga sering menemani Ibu Jessica untuk ke panti." Safira diam sejenak.
"Apa Bibi tidak ingin menikah atau berkeluarga?" tanya Safira hati-hati.
"Bibi, Bibi sudah menikah dan memiliki seorang anak perempuan. Usianya sama dengan Nona Erika," jawab Laras dengan mata yang menatap lurus ke depan.
"Emm, lalu? Dimana dia sekarang, dan....dimana suami Bibi?"
"Clara tinggal di sebuah asrama, Tuan Aldy mengirimnya untuk belajar diluar kota. Tuan dan Nyonya bilang, kalau Clara mempunyai bakat lebih yang harus diasa sejak dini." Laras kembali menunduk lalu mengupas bawang merah yang sendari tadi ia pegang.
"Ayah Clara meninggal sejak Clara berusia 3 tahun. Ayahnya adalah sepupu Nyonya Jessica, oleh sebab itu, Nyonya Jessica ataupun Tuan Aldy sangat menyayangi Clara," lanjut Laras lalu tersenyum beberapa detik.
Safira terdiam. Entah apa yang wanita itu sedang pikirkan sekarang, yang jelas ia tidak pernah menyangka bahwa Laras pernah menikah dengan sepupu Ibu mertuanya itu.
"Bibi, maaf, maaf jika aku menanyakan sesuatu yang seharusnya tidak aku tanyakan," ucap Safira setelah beberapa menit terdiam.
"Tidak apa, Nona. Kadang rasa penasaran yang tidak bisa terwujud itu akan menjadi beban pikiran nantinya. Saya hanya tidak ingin Nona terbebani karena rasa penasaran itu," jawab Laras masih dengan senyum manis menghiasi bibirnya.
"Terimakasih, Bi. Bibi yang terbaik."
"Hahaha, Nona bisa saja."
☆ ☆ ☆