
10 Juni -
Kediaman keluarga Pranata terasa begitu berbeda pagi ini. Pagi dimana biasanya Jessica dan Aldy sudah duduk manis di meja makan. Namun, kali ini tidak, kedua orang itu tidak ada di sana, membuat anak perempuan mereka mencari dan berteriak di setiap ruangnya.
"Mbak? Ayah dan Ibu kemana?" tanya Davina pada seorang pelayan yang tengah sibuk menyiapkan sarapan untuknya.
Pelayan itu pun menghentikan kegiatannya, lalu menatap ke arah Davin, yang sedang menunggu jawaban darinya.
"Tuan dan Nyonya pergi ke rumah Tuan Muda Dev. Tuan berpesan pada Nona, agar sarapan dan juga tetap pergi ke kampus seperti biasa," jawab Pelayan itu tertunduk.
"Emmm, memang ada acara apa di sana. Sampai Ayah dan Ibu pergi sepagi ini?" gumam Davina. Davina menarik sebuah piring, lalu meletakkan dua potong roti tawar di atasnya.
"Oh, ya, Mbak? Kira-kira, kapan Ayah dan Ibu pulang dari sana?" tanya Davin sambil mengoleskan selai cokelat di atas rotinya.
"Saya kurang tau, Nona. Tuan dan Nyonya tidak mengatakan apapun tentang kepulangan mereka."
"Emmm, baiklah, aku juga akan ke sana nanti. Aku ingin melihat bagaimana keadaan Kak Safira dan Kak Dev. Aku juga kangen pada mereka." Davin menggigit ujung rotinya, mengunyahnya, sambil memikirkan apa yang akan ia bawa untuk Safira nantinya.
* * *
Davin mematikan motornya, ia mencabut kunci motor, lalu berjalan menuju kelasnya.
"Dor!" teriak Pretty sambil memegang kedua bahu Davin. Membuat Davin sedikit terkejut dan hampir saja menggampar wajah gadis jahil itu.
"Tumben bawa motor lagi? Bodyguard pada kemana?" tanya Agnes yang tiba-tiba saja muncul dan langsung berjalan di samping kiri Davina.
"Nggak tau juga, mereka semua tidak ada. Ya, terpaksa, aku harus pakai motor daripada telat nantinya," jawab Davin. Davin menghentikan langkahnya, lalu menatap aneh pada kedua sahabatnya itu.
"Kalian berdua sedang merencanakan sesuatu, ya?" tanya Davin dengan tatapan curiga pada keduanya.
"Ti-tidak, kami tidak merencanakan apapun!" elak Pretty dengan wajah gugupnya.
"Emmm, tidak merencanakan apapun? Kalian yakin?"
"Tidak ada yang kami rencanakan, percayalah!" Agnes langsung merangkul Davin dan mengajak Davin untuk segera masuk ke dalam kelas mereka.
Sementara Pretty, ia buru-buru menyembunyikan kunci motor yang baru saja ia ambil dari saku celana Davin, lalu melanjutkan langkahnya, menyusul kedua gadis yang sudah berjalan jauh di depannya.
Davin kembali menghentikan langkahnya, saat ia merasakan seseorang berusaha untuk membuka tasnya.
"Nah! Kalian mau apa? Jangan coba-coba untuk menjahiliku, kalian tau, kan? Bagaimana aku jika sudah marah pada kalian!" ucap Davin menyeringai. Davin membenarkan tasnya, lalu melanjutkan langkah memasuki kelas.
"Yah, gagal deh!" gumam Agnes dan Pretty. Kedua gadis itu saling bertukar pandang dengan wajah sedih mereka. Mereka sedih karena gagal menjahili Davin di hari ulang tahun gadis itu.
Tapi tidak apa, Agnes dan Pretty masih punya banyak cara lain untuk membuat Davin pusing dan kesal pada mereka.
Di saat Davin lengah, barulah Agnes memulai aksinya. Ia menarik tas Davin dengan perlahan lalu mengambil barang yang sudah menjadi incarannya dan juga Pretty.
Agnes segera mengembalikan tas Davin, lalu memasukkan Hp Davin ke dalam saku celananya.
* * *
2 jam kemudian....
Davin, Agnes dan Pretty berjalan keluar dari kelas mereka. Ketiganya mulai melangkahkan kaki menuju parkiran kampus. Saat sampai di parkiran. Davin sibuk mencari kunci motor yang entah hilang kemana. Davin membongkar tasnya, ia sama sekali tidak menaruh curiga pada kedua gadis yang sudah mengambil kunci motor miliknya.
"Bagaimana ini? Itu kunci terakhirku! Aku sudah tidak punya kunci lain selain kunci itu!" ucap Davin sambil mengecek ulang tas dan juga setiap kantung celananya.
"Hp? Apakah aku lupa membawa benda itu?" Davin kembali membuka tasnya. Ia ingat betul, kalau dirinya memasukkan benda pipih itu, sebelum menaikki motor pagi tadi.
"Hemmm, aku curiga pada kalian berdua! Cepat kembalikan Hp dan juga kunci motorku!" ucap Davin sambil menatap kedua wajah datar di hadapannya.
"Kami tidak pernah mengambilnya? Jadi, apa yang harus kami kembalikan padamu?" jawab Agnes dengan wajah datarnya.
"Baiklah, aku ikuti saja permainan kalian ini. Sekarang apa? Aku harus pulang dengan apa?" ucap Davin santai. Davin menaikkan dirinya ke atas motor, lalu membalik posisi tubuhnya menghadap Agnes dan juga Pretty.
"Davin?" panggil seorang pria yang kini berdiri di belakang Davin. Pria itu menyentuh bahu Davin, membuat Davin langsung memutar tubuhnya, dan menatap tidak percaya pada pria yang kini ada di depannya.
"Kak Henry? Apa yang kakak lakukan di sini?" tanya Davin dengan wajah bingungnya.
"Aku menjemputmu, bukannya kau tadi memintaku untuk datang dan menjemputmu?" Jawab Henry dengan wajah yang tidak kalah bingungnya.
"Aku?" Davin menunjuk dirinya sendiri.
"Iya, tadi kau mengirim pesan padaku, dan memohon agar aku datang menjemputmu ke kampus? Apa kau lupa?"
"Pesan? Aku mengirim pesan?" Davin kini sudah mengerti. Buru-buru ia balikan tubuhnya menghadap kedua sahabat jahilnya itu. Sayangnya, kedua gadis itu sudah melarikan diri mereka.
"Terus bagaimana, Kak? Kunci motor dan Hpku hilang? Dan aku juga tidak mungkin kan, akan pulang dengan kakak?" lirih Davina.
Henry diam sejenak. "Tidak apa, aku akan mengantarmu pulang. Lebih tidak mungkin lagi jika aku membiarkanmu pulang sendiri, kan?"
"Tapi ayah?"
"Sudah, jangan pikir itu, aku siap mendapatkan hukuman dari Ayahmu." Henry menarik tangan Davin. Mengajak Davin untuk mendekati motornya, dan meminta Davin untuk segera naik ke atas motor itu.
"Nanti kakak yang urus motormu, kau tenang saja."
"Sekarang kemana?" lanjut Henry bertanya.
"Aku sebenarnya ingin ke rumah Kak Dev. Tapi tidak apa, kita langsung pulang saja. Aku takut Ayah semakin marah nantinya," jawab Davin. Davin meletakkan tangannya pada bahu Henry lalu meminta Henry untuk segera melajukan motornya.
"Davin? Bolehkah aku menyampaikan sesuatu?" ucap Henry saat mereka sedang berhenti di lampu merah.
"Apa? Katakan saja?!" jawab Davin sambil meletakkan dagunya pada bahu Henry.
"Aku akan keluar nanti malam. Apakah kau tidak marah padaku?"
"Mau kemana?"
"Pesta ulang tahun seseorang."
"Orangnya cewek atau cowok?" Davin memundurkan tubuhnya, dengan raut wajah yang mulai berubah.
"Cewek," jawab Henry dengan santainya. Henry melirik wajah Davin dari spion motornya, lalu tersenyum saat melihat wajah cemberut gadis itu.
"Tidak boleh, ya?"
"Pergi saja, aku tidak masalah!" Davin langsung memasang wajah dinginnya. Membuat Henry langsung merinding ketika melihatnya.
Henry mengatur napasnya, ia mencoba fokus dan kembali melajukan motornya menuju Kediaman keluarga Pranata.
Davin langsung menurunkan dirinya, saat motor Henry berhenti di depan gerbang utama. Ia menatap Henry sejenak lalu berkata.
"Pergi saja, kenapa harus meminta izin dariku? Bukannya kakak...."
"Aku tidak akan pergi, jika kau tidak suka. Aku meminta izin, agar kau tidak salah faham nantinya!" potong Henry, pria itu menurunkan kaca helmnya.
Lalu melanjutkan ucapannya. "Masuk dan istirahatlah!"
Motor Henry langsung melaju menjauhi Davin. Hal itu pun berhasil membuat Davin mematung dengan wajah bodohnya.
"Aku salah, ya?" gumam Davin. Davin menghembuskan napasnya dengan pelan. Ia melangkahkan kakinya sampai ia berada di depan pintu utama rumahnya.
Sepi, tidak ada siapapun di rumah itu. Hanya ada beberapa pelayan yang sedang membersihkan lantai dasar saja.
"Ibu dan Ayah belum pulang, ya, Mbak?" tanya Davin pada seorang pelayan.
"Belum, Nona. Mungkin Tuan akan pulang nanti malam."
Davin menatap sekitar rumahnya, lalu ia melangkahkan kakinya menaiki tangga menuju kamarnya.
* * *
Pukul 7 malam.
Seorang pelayan berdiri di depan pintu kamar Davin. Ia mengetuk pintu kamar, tidak lama, pintu itu pun terbuka.
"Ada apa, Mbak?" tanya Davin.
"Tuan Dev meminta Anda untuk datang ke rumah baru."
"Hmmm, baiklah. Tapi, aku akan pergi dengan siapa? Aku tidak melihat satu pun pengawal sejak pagi tadi."
"Tuan Jimmy sudah menunggu Anda di bawah," jawab pelayan itu tersenyum.
"Baiklah, tunggu sebentar lagi." Davin masuk ke dalam kamarnya. Ia mengganti baju dan juga mengambil Hp lamanya.
"Sudah siap, Nona?" sapa Jimmy dengan senyum tipisnya.
"Hmmm, memang ada acara apa, Kak?" tanya Davin penasaran.
"Nona pasti akan tau nanti. Ayo! Semua sudah menunggu kedatangan Nona!" Jimmy mempersilakan Davina untuk berjalan terlebih dahulu, lalu ia berjalan di belakang Davina.
Keduanya memasuki mobil. Dan mobil itu pun mulai melaju keluar dari halaman utama.
* * *
Setengah jam kemudian...
Mobil yang dikemudikan Jimmy berhenti tepat di halaman depan rumah Devano. Jimmy keluar terlebih dahulu, ia berjalan mengitari mobil. Namun, tidak membukakan pintu mobil untuk Davina.
Devano berjalan mendekati mobil itu, ia berdiri di samping Jimmy, dan langsung membuka pintu mobil untuk adiknya.
"Selamat datang, Tuan Putri," ucap Devano dengan senyum indah menghiasi wajah tampan.
Davina diam sejenak. Ia mematung sambil menatap wajah sang Kakak dan juga wajah beberapa orang yang berdiri di belakang Kakaknya.
"Selamat ulang tahun, Sayang...."
Jessica mendekati putrinya yang masih mematung, dengan kedua tangan yang memegang sebuah kue cantik untuk sang putri.
"Selamat ulang tahun, Davina Pranata Yoga...."
Davin langsung tersadar, saat mendengar ucapan sang Ibu. Ia tersenyum lalu menyeka air mata yang mulai mengalir membasahi pipinya.
"Ibu...." Jessica menyerah kue tadi pada Dev. Ia pun merentangkan tangannya, menerima pelukan hangat dari putrinya.
"Selamat ulang tahun, Sayang....Ibu harap kau bisa menjadi pribadi yang lebih baik lagi kedepannya." Jessica mengelus kepala Davin. Sedangkan Davin hanya bisa menangis bahagia dalam pelukannya.
"Selamat ulang tahun, Nak." Aldy tersenyum saat Davin berpindah masuk ke dalam pelukannya. Gadis itu bahkan terus menangis tanpa menghiraukan lagi semua mata yang menatap lucu padanya.
"Davin?"
Davin melepaskan dirinya dari pelukan Aldy. Ia menatap wajah Aldy, meminta izin untuk melihat siapa pria yang memanggil dirinya tadi.
"Balikan tubuhmu, Nak. Dia ada di belakangmu," ucap Aldy tersenyum.
"Selamat ulang tahun," ucap Henry dengan senyum indahnya. Ia berdiri di hadapan Davin, sambil memegang kue ulang tahun untuk gadis itu.
"Terimakasih, Kak," lirih Davin. Davin memejamkan matanya, ia berdoa sebelum miniup lilin yang berada di atas kue ulang tahunnya.
"Hemmm, apakah aku tidak mendapatkan pelukan terimakasih?" ucap Dev dan langsung mendapatkan cubitan dari Safira.
"Ah, baiklah, aku kan hanya kakak yang terlupakan dan tergan...."
"Uh..." Dev langsung tersenyum ketika Davin memeluk tubuhnya, ia bisa merasakan kasih sayang yang adiknya miliki untuk dirinya.
"Trimakasih, Kak Dev. Terimakasih Kak Safira......Aku tau, ini bukan yang pertama. Tapi, aku tetap bahagia dengan perayaan ini." Safira melepas tubuh Dev. Lalu beralih memeluk tubuh Safira.
"Makasih, Kak Sa. Karena Kak Safira lah senyuman Devano kami kembali...."
"Sama-sama, Davin. Ini juga berkat bantuan kalian."
"Oh, Nona Davin? Sampai kapan kau akan membiarkan kami melihat semua ini? Tidak inginkah kau menyapa kami?" sindir Pretty dengan wajah yang begitu menggemaskan.
"Oh, kalian...Kalian juga disini? Mana Hp dan kunci motorku? Cepat kembalikan!"
"Huh! Iya, ini." Agnes menyerah kedua barang itu pada Davin.
"Selamat ulang tahun. Semoga panjang umur dan sehat selalu," lanjutnya dan diikuti senyuman dari Pretty dan juga Yang lainnya.
"Terimakasih, ya, tanpa kalian, aku juga buka apa-apa. Aku hanyalah gadis pembuat masalah yang selalu merepotkan kalian," jawab Davin merendah.
"Davin? Ajak teman-teman untuk masuk, Nak!" ucap Jessica. Jessica, Aldy, Dev dan Safira sudah masuk ke dalam rumah. Sementara, Jimmy, Henry, Davin dan yang lainnya masih di halaman depan.
"Mari, Nona, masuk dan nikmatlah pestanya," ucap Jimmy pada Agnes. Dan hanya ditanggapi senyum tipis oleh gadis itu.
Semua sudah masuk ke dalam rumah, Davin sengaja berjalan lebih lambat. Agar ia bisa sejajar dengan langkah kekasihnya, Henry.
"Kenapa Kakak bisa di sini?" tanya Davin sedikit berbisik.
"Karena?" Henry menggantung kalimatnya.
"Karena ayah yang memintanya untuk datang," sahut Aldy dari belakang keduanya.
"Ayah?"
"Iya, Ayah yang meminta Henry untuk datang." Aldy menatap wajah Davin dan Henry secara bergantian.
"Henry?" Aldy menyentuh bahu Henry. "Jaga Davina dengan seluruh nyawamu, jika tidak? Maka kau akan berurusan denganku!'' lanjut Aldy tersenyum.
"Aku percayakan Davin padamu, jaga dia. Jangan sakiti hatinya!"
Deg.
Davin dan Henry saling menatap. Keduanya terdiam untuk beberapa saat.
"Ayah? Ayah tidak bercanda, kan?" tanya Davin memastikan.
"Tidak, jika kalian ingin ayah bercanda, boleh juga," jawab Aldy tersenyum tipis.
"Bu-bukan, bukan seperti itu, Ayah...."
"Iya, Ayah faham. Ayah tidak sedang bercanda. Ayah ada di belakang kalian!"
Henry terdiam mendengarnya. 'Ini bukan mimpikan? Dan Ayah Aldy tidak sedang bercandakan padaku dan juga Davin, sekarang? Dia merestui hubungan kami?' batin Henry.
"Henry? Kau siapkan untuk menjaganya dengan nyawamu?"
Henry langsung tersadar dan menatap ke arah Davin dan juga Ayahnya.
"Saya, siap. Saya siap untuk menjaga Davina Pranata Yoga dengan seluruh nyawa saya," jawab Henry dengan nada serius.
"Pegang ucapanmu itu! Aku percaya padamu!"
"Ya sudah, sekarang masuk dan bergabunglah dengan yang lainnya," lanjut Aldy. Aldy berjalan ditengah keduanya, sampai mereka berada di tengah-tengah kerumunan pesta.
* * *