Devano Pranata Yoga

Devano Pranata Yoga
Safira Mana?



Setengah jam perjalanan, sampailah mereka di halaman rumah baru Dev yang tidak terlalu luas. Safira turun terlebih dahulu, lalu langsung berlari memasuki rumah, untuk memindahkan semua barangnya menuju kamar Dev, di lantai atas.


Sedangkan Dev, ia sementara mengalihkan perhatian Davin. Dev mengajak Davin untuk duduk di ruang tengah, ia juga menyiapkan minuman untuk adiknya itu.


"Kak Safira mana?" tanya Davin sambil celingak-celinguk mencari keberadaan Kakak iparnya itu.


"Oh, itu, dia sedang menyiapkan kamar untukmu."


"Biar aku membantu Kak Safira, kasihan dia," ucap Davin lalu bangun dari duduknya. Sementara Dev, pria itu menatap was-was ke arah kamar Safira, takut Safira belum selesai dengan semua barang-barangnya.


"Kak Sa...." Davin membuka pintu, lalu mengerutkan dahinya bingung.


"Davin! Aku belum selesai membersihkan kamar untukmu!" ucap Safira. Safira meletakkan semua barang-barangnya, lalu berpura-pura merapikan kasur dan juga bantal.


"Tidak apa, Kak. Sini, biar ku bantu Kakak membawanya," jawab Davin lalu membawa beberapa barang milik Safira yang belum dipindahkan menuju kamar Dev.


'Aku tau, kalian pasti selama ini tidur di kamar yang berbeda. Dan sekarang, kalian takut aku mengetahui hal itu, kan?' Batin Davin.


"Tidak perlu, Davin, Kakak bisa membawanya, sekarang kau istirahatlah, semua sudah siap," ucap Safira lalu mengambil kembali barang-barang miliknya dari tangan Davin.


Safira menaiki tangga dengan perasaan yang sedikit lega. Ia pun membuka pintu kamar Dev lalu merapikan semua barang-barang, dan juga pakaian-pakaiannya.


"Kau sangat beruntung Kak Aurora. Meski kau sudah tiada, tapi nama dan wajahmu tetap ada di dalam hati dan pikiran Kak Dev. Jujur saja, sekarang aku sangat iri padamu," gumam Safira saat matanya menatap lekat beberapa lukisan Dev dan Aurora yang terpajang dengan rapi di dinding kamar itu.


Bahkan, masih ada dua poto mereka, yang Dev letakkan di atas meja kerjanya. Tanpa sadar, Safira pun mendekat ke arah meja kerja Dev, lalu menyentuh satu foto yang sangat menghancurkan hatinya.


Dimana, foto itu menggambarkan Dev yang sedang menggendong tubuh mungil Aurora dengan mata yang saling beradu tatap, di pinggir pantai.


Safira pun menjauh dari meja itu, saat ia mendengar langkah kaki seseorang yang sedang menaiki tangga.


Dev diam tidak menjawab apapun. Sementara Safira, wanita itu bergegas menuruni tangga, sambil sesekali tersenyum menguatkan dirinya sendiri.


"Kak Sa." Davin menyentuh pundak Safira lembut. Safira menghentikan langkahnya lalu membalik tubuhnya menghadap Davin.


"Kakak akan memasak makan malam, kan?" tanya Davin. Safira pun mengangguk membenarkan pertanyaan Davin.


"Boleh kubantu?"


"Jangan, kau kan..."


"Sudahlah, aku akan tetap membantu, walaupun Kakak tidak mengizinkannya," potong Davin lalu melangkah mendahului Safira menuju dapur.


"Gadis itu!" gumam Safira. Ia pun segera menyusul langkah adik iparnya itu menuju dapur.


☆ ☆ ☆


Akhirnya, menu makan malam pun terhidang di atas meja makan, setelah begitu banyak drama yang terjadi saat memasak semua menu itu.


"Aku akan memanggil Kak Dev dan Kak Safira dulu," ucap Davin setelah mandi dan berganti pakaian. Gadis itu menaiki tangga menuju kamar Dev dan juga Safira, walau sebenarnya, ia juga masih agak takut dengan sifat dingin Kakaknya itu.


Tok....tok...tok


Davin mengetuk pintu, tidak lama, pintu itu pun terbuka.


"Makan malam sudah siap, Kak," ucap Davin tersenyum.


"Safira mana?" tanya Dev yang memang tidak pernah melihat Safira, sejak wanita itu mengatakan akan menyiapkan makan malam terlebih dahulu.