
Usai menghabiskan makan malamnya, Safira pun kembali membersihkan meja makan dan dapurnya yang masih belum bersih. Ia melirik sekilas pada Davina. Gadis itu terlihat jauh berbeda dari sebelumnya, ia kini lebih sering tersenyum dan berkata-kata manis di hadapan Safira.
"Istirahatlah, jangan menunggu Kakak," ucap Safira pada Davin yang masih setia menunggunya di meja makan, sambil memainkan Hpnya.
"Tidak, aku akan memastikan Kak Safira naik ke kamar dulu, baru aku akan tidur," jawab Davin tersenyum. 'Dan jangan sampai Kak Safira kembali masuk ke dalam kamar itu, dan tidur di sana seperti tadi!' Imbuh Davin di dalam hatinya.
"Baiklah, terserah padamu saja."
15 menit kemudian.
Safira sudah selesai dengan urusan dapurnya. Dapurnya kini kembali bersih dan harum, sedikit berbeda dari sebelumnya.
"Ayo, keluar!" ucap Safira mengajak Davin ke luar dari dapur. Davin pun tersenyum lalu mengikuti langkah Safira.
"Tidurlah, Davin. Besok kau kuliah, kan? Jadi, Tidurlah lebih awal," ucap Safira sebelum menaiki tangga.
"Siap, Komandan," jawab Davin lalu tersenyum dan langsung masuk ke dalam kamarnya.
Safira hanya menggelengkan kepalanya lalu menaiki tangga sambil berdoa. 'Ya, Tuhan. Semoga Kak Dev sudah tertidur, jika belum tidur, tidurkanlah dia!' Batin Safira berdoa.
Safira membuka pintu kamar dengan perlahan, lalu melirik ke arah meja kerja Dev, sebelum ia menatap ke arah kamar tidur yang sudah gelap.
"Syukurlah," gumam Safira yang mengira Dev sudah tertidur. Ia pun berjalan dengan tenang ke arah kasur. Lalu mengambil sebuah bantal guling, untuk ia jadikan bantal tidurnya.
"Mau tidur di mana?!" tanya Dev yang ternyata belum tertidur, dan lebih tepatnya, sedang pura-pura tidur.
"A-aku, aku akan tidur di ruang tengah," jawab Safira tertunduk.
"Kenapa? Apa kau tidak mau tidur satu ranjang denganku?!"
"Tidak, bukan begitu, Kak. Aku tau, Kak Dev..."
Safira yang mendengar ancaman itupun langsung naik ke atas kasur, dan membaringkan dirinya di samping Dev.
'Maaf, hanya ini yang bisa kulakukan. Aku benar-benar tidak sanggup melihatmu tidur di sofa, apalagi sampai tidur di kamar gelap dan berdebu itu.' Batin Dev.
Dev pun kembali memejamkan matanya, walau sebenarnya, ia sedikit risih karena ada orang lain yang kini tidur di dekatnya.
Berbeda dengan Safira, ia malah berdebar tak karuan. Dev perduli padanya saja, sudah lebih dari cukup, bagi Safira. Apalagi sampai Dev mencintainya, tidak bisa dibayangkan lagi, betapa bahagianya Safira jika hal itu benar-benar terjadi padanya.
☆ ☆ ☆
Pukul satu malam.
Safira terbangun karena merasa tidak nyaman, dengan tangan kekar yang melingkar memeluk tubuhnya. Safira pun mencoba untuk memindahkan tangan kekar milik Dev. Namun, saat Safira memindahkannya, tangan itu kembali memeluknya, bahkan lebih erat dari sebelumnya.
"Jangan tinggalkan aku lagi, Ra. Hidupku hancur tanpamu. Aku benar-benar hancur tanpa dirimu, Ra," gumam Dev, lalu kembali larut dalam tidur dan mimpinya.
Safira kini menahan nafasnya, rasa sesak tiba-tiba saja menyerang dada wanita itu. Bagaimana tidak? Belum semenit ia bahagia karena Dev memeluknya, tapi malah Dev sendiri yang menghancurkan semuanya dengan bergumam tentang Aurora.
"Kak Dev, aku, aku ingin ke kamar mandi, tolong lepaskan tubuhku," ucap Safira, walau ia tau Dev tidak akan mendengar ucapannya.
Beberapa detik kemudian. Dev melonggarkan pelukannya. Dan kesempatan itu pun langsung dimanfaatkan oleh Safira, untuk melepaskan dirinya dari pelukan Dev.
15 menit kemudian.
Safira keluar dari kamar mandi. Wanita itu duduk di pinggir kasur sambil tertunduk lesu.
"Safira? Kau belum tidur?"