Devano Pranata Yoga

Devano Pranata Yoga
Maaf



Pukul Delapan malam.


Safira masih setia duduk di meja makan, wanita itu masih menunggu kepulangan Dev, yang bahkan dirinya sendiri tidak atau kapan pulangnya.


Laras mendekat ke arah Safira. Ia meminta Safira untuk makan malam terlebih dahulu, dan memberitahu, mungkin Tuan Dev akan pulang larut malam. Namun, Safira tetap saja keras kepala, dan ingin menunggu sampai Dev pulang, dan makan malam bersama pria itu.


Setengah jam kemudian, pintu utama pun terbuka. Jimmy terlihat sedang menentang tas kerja Dev dan juga jas yang tadi pagi Dev kenakan.


"Tuan Muda, apakah anda ingin sesuatu untuk menghangatkan tubuh anda?" tanya Laras pada Dev.


"Satu gelas susu coklat hangat, nanti antar saja ke kamar, ya, Bi. Aku harus mengganti semua ini." Dev menunjuk dirinya yang basah kuyub, sepertinya dia kehujanan tadi di jalan.


"Baiklah, Tuan."


Laras berjalan menuju dapur, ia sengaja memberitahu pada Safira bahwa Tuan Mudanya pulang dalam keadaan basah, dan ingin dibuatkan susu hangat sekarang. Safira terlihat begitu cemas, ia pun langsung membuat susu coklat hangat yang Dev inginkan, dan berniat untuk mengantarkan ke kamar pria itu.


'Apa Kak Dev akan marah jika aku yang mengantar ini?" Batin Safira bertanya-tanya.


Wanita itu menaiki tangga dengan perasaan yang bercampur aduk menjadi satu, antara khawatir dan juga takut jika Dev marah padanya.


Tok....tok....tok...


Safira mengentuk pintu lalu menunggu sampai pintu terbuka, ia sesekali melirik ke arah tangga dan berharap seseorang datang membantunya nanti, jika Dev marah padanya.


Pintu terbuka, Dev awalnya sedikit terkejut karena mendapati Safira di depan kamarnya, namun ekspresinya kembali datar saat melihat apa yang wanita itu bawa. Dev mengambil nampan yang berisikan segelas susu coklat hangat dan juga beberapa roti bakar dengan rasa yang berbeda-beda.


"Aku tidak mengizinkanmu menungguku pulang seperti tadi. Jika kau lapar maka makanlah terlebih dahulu, tanpa menunggu kepulanganku!" ucap Dev lalu menutup pintu kamarnya.


Safira hanya menunduk, tanpa berniat melirik kamar Dev atau sang pemilik kamar. Ia menuruni tangga dan langsung berjalan menuju dapur, karena sejujurnya Safira sudah merasa lapar sejak tadi sore.


"Jimmy? Apa kau sudah makan?" tanya Safira pada Jimmy yang sedang membereskan beberapa kertas di atas meja kerjanya.


"Sudah Nona, Nona makanlah, jangan sampai Nona jatuh sakit nantinya," jawab Jimmy tersenyum lalu kembali merapikan tumpukan kertas-kertas di hadapannya.


"Emm, Jimm? Bolehkah aku bertanya?"


Jimmy menghentikan aktivitasnya lalu menoleh ke arah Safira.


"Apa yang ingin anda tanyakan, Nona?"


"Emm, tadi kan kalian keluar dan pulang memakai mobil. Emm, kenapa Kak Dev bisa basah seperti itu, sedangkan kau tidak?" tanya Safira bingung.


"Oh, itu. Tadi Tuan Dev turun di tengah jalan untuk menolong seorang anak kecil yang terjatuh, Tuan menggendongnya, dan juga mengantarnya pulang sampai rumah," jelas Jimmy sejujurnya.


"Begitu, ya." Sungguh mulia hatimu, Kak. Imbuh Safira di dalam hatinya.


Wanita itu mengangguk beberapa kali lalu berjalan meninggalkan Jimmy menuju dapur.


☆ ☆ ☆


"Bibi, ini masih pagi sekali. Bahkan matahari belum muncul untuk menyapa bumi," ucap Safira lalu duduk di meja makan. Wanita itu terus menatap ke arah Laras yang sibuk membuat segelas susu coklat dan juga roti bakar seperti semalam.


"Nona, Tuan Muda Dev sedang tidak enak badan. Oleh sebab itu, saya memutuskan untuk membuat susu hangat untuknya." Laras meletakkan dua potong roti bakar di atas piring lalu meletakkan piring itu di atas nampan.


"Tidak enak badan? Apa yang terjadi pada Kak Dev?" tanya Safira, kini rasa kantuknya hilang dan pergi entah kemana.


"Tuan baik-baik saja, hanya sedikit flue dan sakit kepala, mungkin efek hujan-hujanan semalam," jelas Laras lalu menyerahkan nampan tadi pada Safira.


"Maaf, Nona. Bisakah Nona yang mengantarnya, Bibi sudah tidak tahan ingin ke kamar mandi," lanjut Laras lalu bergegas keluar dari dalam dapur.


Safira menatap nampan itu, perlahan ia berjalan keluar dari dapur, menaiki tangga menuju kamar Dev.


"Ketuk pintu dulu? Atau langsung masuk ya?" gumam Safira tepat di depan pintu kamar Dev.


Tok....tok....tok....


Safira mengetuk pintu, namun sampai beberapa menit, pintu itu masih belum terbuka juga. Safira pun memegang ganggangnya, dan ternyata pintu kamar itu sama sekali tidak dikunci.


Safira membuka pintu secara perlahan, lalu melangkah mendekati meja kecil di samping tempat tidur. Ia meletakkan nampan yang tadi ia bawa untuk Dev, lalu melirik ke arah si pemilik kamar yang masih tertidur, dengan badan tertutup selimut tebal berwarna hitam.


Safira bergegas keluar dari kamar itu, sebelum ia benar-benar keluar, ia sempat mendengar Dev mengigau menyebut nama Aurora, dan juga meminta Aurora untuk tidak meninggalkannya.


'Mungkin aku yang terlalu percaya diri, sampai aku lupa, kalau sebenarnya Kak Dev memang tidak membutuhkan dan menginginkan kehadiranku di dalam hidupnya.' batin Safira mengasihi dirinya sendiri.


Safira menutup pintu kamar itu, belum beberapa langkah Safira menuruni tangga, ia kembali mendengar teriakan dari dalam kamar Dev. Membuat wanita itu kembali naik dan langsung masuk ke dalam, untuk melihat kondisi Dev.


"Ini, Kak. Minum air dulu," ucapnya menyodorkan segelas air putih pada Dev.


Tanpa pikir panjang, Dev langsung mengambil dan meneguk air itu sampai setengah. Setelah merasa lebih tenang, barulah Dev menatap Safira yang masih berdiri di samping tempat tidurnya.


"Sejak kapan kau di sini?" tanya Dev sambil kembali merebahkan dirinya.


"Aku hanya mengantarkan susu hangat dan roti untuk Kak Dev, setelah itu aku keluar. Tapi, aku mendengar Kak Dev berteriak....."


"Sudah! Sekarang keluar dari kamarku! Bukannya aku tidak pernah memintamu untuk melakukan ini padaku? Dan kau harus ingat ini! Jangan sekali-kali masuk ke kamarku jika bukan aku yang menyuruhmu masuk!" potong Dev lalu memejamkan matanya dan menarik selimut sampai lehernya.


"Maaf, aku janji tidak akan mengulangi lagi," jawab Safira lalu keluar dari kamar itu tanpa menoleh atau melirik lagi pada si pemilik kamar.


"Nona, maafkan Bibi, seharusnya Bibi tidak meminta Nona untuk mengantarnya," ucap Laras meminta maaf pada Safira. Wanita itu mendudukkan dirinya di samping Safira lalu menatap wajah sedih Safira.


"Tuan Dev memang seperti itu, jika sedang tidak enak badan," lanjutnya lalu tersenyum saat Safira menoleh ke arahnya.


"Tidak apa, Bi. Aku mengerti."


Safira berdiri lalu pamit untuk kembali ke kamarnya. Wanita itu berjalan dengan tatapan yang entah tertuju kemana, tapi yang jelas, hati dan pikirannya masih tertuju pada apa yang diucapkan Dev tadi padanya.