Devano Pranata Yoga

Devano Pranata Yoga
Kisah Cinta Ala Novel Online



Sebuah mobil terparkir di halaman depan rumah Safira dan juga Dev. Laras dan seorang pengawal keluar dari mobil itu. Laras berjalan mendekati pintu, mengetuk pintu dengan tiga kali ketukan.


Tidak butuh waktu lama, pintu itu terbuka dan menampakkan sosok wanita yang tersenyum ceria pada Laras.


"Masuklah, Bibi," ucap Safira dengan senyum manis menghiasi bibirnya. Safira menatap bingung seorang pria yang berdiri tidak jauh dari Laras. Pria itu memakai pakaian serba hitam, lengkap dengan kaca mata hitamnya.


Safira mengajak Laras masuk, lalu membantu Laras membawa semua barang-barangnya menuju kamar, yang sudah disiapkan oleh Jimmy sebelumnya.


"Emm, Bibi?"


"Ada apa, Nona?" jawab Laras sambil menatap ke arah Safira.


"Siapa pria yang berdiri di belakang Bibi tadi?" tanya Safira.


"Oh, itu, dia salah satu pengawal yang Tuan Aldy perintahkan untuk menjaga Nona, dan menjadi supir pribadi untuk Nona," jelas Laras. Safira hanya mengangguk saja.


☆ ☆ ☆


Safira turun dari mobil yang disetir oleh si pengawal. Wanita itu berjalan dengan pelan memasuki pasar, di ikuti oleh langkah pengawal yang bernama, Bambang itu.


Bambang memperhatikan sekitar, ia benar-benar memastikan keamanan Safira, selama Safira berada di dalam pasar. Usai membeli semua kebutuhannya, Safira pun memutuskan untuk berkunjung ke kafe terlebih dahulu, sementara Bambang, ia diminta membawa pulang semua barang belanjaan setelah mengantar Safira menuju kafe.


"Ibu Boss....Kamu kemana saja?! Ditelpon tidak pernah aktif!" protes Alisha dengan wajah yang dibuat kesal.


"Aku ganti nomer!" jawab Safira lalu melangkah menuju dapur kafe.


"Kenapa tidak meneleponku? Apa kamu tidak rin...."


"Jangan lebay, Al!" potong Safira sambil menatap ke arah Alisha. Alisha hanya bisa tersenyum tak jelas saja.


"Oh, ya, Sa. Aku ingin menanyakan sesuatu padamu?"


"Tanyakan saja," jawab Safira sambil menarik kursi plastik, Safira duduk menghadap Alisha.


"Itu, malam itu, apa pak Komang tidak marah padamu?" tanya Alisha hati-hati.


"Emm, begitulah, tapi kau tenang saja, dia tidak pernah menyakitiku," jawab Safira tersenyum.


"Sa?" panggil Alisha setelah suasana hening sesaat.


Safira mengangkat wajahnya lalu menatap Alisha.


"Apakah kamu punya masalah dengan Dev?" tanya Alisha. Safira kembali tertunduk.


"Al? Apakah salah jika seorang istri mengharapkan ungkapan cinta dari suaminya?" tanya Safira pada Alisha.


Alisha diam sejenak. "Emm, bagaimana, ya? Sebenarnya tidak salah, tapi, bagaimana, ya? Aku juga bingung, Sa?"


"Menurutmu, apakah aku pantas untuk dicintai oleh Kak Dev?" tanya Safira lagi.


"Apa ini, Sa?! Kamu sangat pantas untuk dicintai, kamu adalah istrinya!" Alisha berdiri lalu mendudukkan dirinya di samping Safira.


"Kamu tidak boleh seperti ini, Sa. Mungkin Devano masih mencari waktu yang tepat untuk mengungkapkan semua perasaannya, aku yakin, dia pasti akan membalas cintamu, percayalah!"


"Apakah kalian pernah melakukan hubungan badan?" lanjut Alisha bertanya. Safira mengangguk tanpa mengeluarkan suara.


"Apakah Dev memperlakukanmu dengan baik setelah itu?" tanya Alisha. Safira kembali mengangguk.


"Di Novel seperti itu, kisah cintamu dan Dev memang mirip dengan kisah cinta yang ada di novel-novel online," lanjut Alisha dengan senyum yang begitu menjengkelkan.


"Alisha! Aku tidak ingin bercanda sekarang!"


"Aku tidak bercanda, Sa. Ini memang mirip, jika kamu tidak percaya, maka bacalah! Nanti kukirim link nya," jawab Alisha.


"Terserah, kau saja, Al!" ucap Safira sambil menutup wajahnya dengan telapak tangan.


"Hehehe, aku akan menulis kisah cinta kalian. Dan akan kuberi judul menikah dengan pria dingin." Alisha langsung berlari setelah mengatakan itu. Sementara Safira, ia tidak berniat untuk mengejar Alisha, wanita itu tetap duduk sambil meratapi nasibnya.


☆ ☆ ☆


Pukul 11 siang.


Safira pamit untuk pulang pada Alisha. Alisha mengantar Safira sampai luar kafe. Saat sudah di parkiran, kedua wanita itu dikagetkan dengan kehadiran Bastian. Bastian menatap Safira tanpa berkedip, sementara yang ditatap malah tidak perduli lagi, Safira langsung masuk ke dalam mobil. Namun, ia kembali menoleh ke arah Bastian, saat Bastian memanggil namanya, dan langsung mendapatkan teguran dari Bambang.


"Jangan ganggu Nona Safira, jika kau masih ingin hidup!" ucap Bambang. Bambang kembali masuk ke dalam mobil, melajukan mobil ke arah barat.


"Kita mau kemana?" tanya Safira.


"Tuan Dev meminta anda untuk datang ke perusahaan," jawab Bambang.


"Hmmm, baiklah."


15 menit kemudian.


Mobil sudah terparkir dengan rapi. Bambang keluar lalu membukakan pintu mobil untuk Safira. Ia berjalan di belakang Safira, sampai Safira masuk ke dalam perusahaan.


Jimmy berdiri di depan lift, lalu melangkah mendekati Safira.


"Ayo, Nona, Tuan sudah menunggu anda," ucap Jimmy. Kini ia yang mengawal Safira sampai ke depan ruangan Devano.


Safira membuka pintu ruangan itu dengan hati yang berdebar tak karuan. Safira menarik nafasnya, lalu menghembuskannya, begitu saja sampai ia merasa tenang.


"Sayang?" panggil Safira pada Dev yang berdiri di dekat jendela kaca.


Dev menoleh lalu melangkah mendekati Safira. Pria itu memeluk tubuh Safira dengan erat.


"Maaf," ucap Dev sambil melepaskan Safira dari pelukannya.


"Kakak tidak salah apapun, jadi, jangan min..."


Ucapan Safira langsung terhenti saat bibir jahil Dev menempel dengan sempurna pada bibirnya. Dev terus menikmati bibir itu, sampai si pemilik bibir mulai kehabisan nafasnya.


"Kau marah padaku?" tanya Dev. Karena Safira tidak membalas ciuman darinya.


"Tidak, aku tidak pernah marah padamu, Sayang," jawab Safira tersenyum.


"Lalu? Kenapa kau tidak membalasku," ucap Dec dengan raut wajah yang sedikit kecewa.


"Aku, aku takut, takut kita lepas kontrol." Safira langsung tertunduk.


"Baiklah, aku tidak akan memaksa. Sekarang, duduklah, dan temani aku untuk makan siang, aku sudah lapar," ucap Dev tersenyum.


Safira pun menurut, ia mendudukkan dirinya dan menemani Dev makan siang. Walau sebenarnya ia belum lapar.