Devano Pranata Yoga

Devano Pranata Yoga
- 1 Maret -



Bambang berlari mendekati mobil, pria itu berdiri di samping pintu mobil, hendak membukakan pintu mobil untuk Safira.


"Biar aku saja," ucap Dev. Bambang pun mundur satu langkah, memberikan jalan pada Dev untuk membuka pintu mobil.


Safira berterimakasih pada Dev, sambil tersenyum manis. Namun Dev marah menatapnya dengan tatapan yang tajam. Pria itu pun ikut masuk ke dalam mobil, dan duduk di samping Safira.


"Jangan tersenyum dihadapan pria lain!" ucap Dev dengan raut wajah tidak sukanya.


"Maaf," jawab Safira. Walau sebenarnya, ia sendiri tidak tahu dimana letak kesalahannya.


"Jangan ulangi lagi!" tekan Dev. Safira pun mengangguk.


Kini mobil melaju menuju arah timur, dengan Bambang sebagai pengemudi mobil itu. Suasana di dalam mobil cukup hening, tidak ada yang bersuara satu pun dari penghuni mobil itu, baik Dev ataupun Safira.


Setengah jam perjalanan. Sampailah mereka di halaman depan rumah Ayah dan Ibu Safira. Dev turun terlebih dahulu, lalu mempersilahkan Safira untuk turun. Kini keduanya berjalan mendekati pintu, belum sempat Safira mengetuknya, pintu itu sudah terbuka terlebih dahulu.


"Sa?" Nyonya Aiman menatap wajah putrinya itu lekat-lekat, lalu memeluknya dengan erat.


"Safira rindu Ibu...." gumam Safira dengan air mata yang mulai mengalir membasahi pipinya.


"Ibu juga rindu padamu, Nak. Sudah, jangan menangis lagi," jawab Nyonya Aiman. Wanita paruh baya itu pun mengajak Safira dan juga Devano untuk masuk, dan keduanya dihantar menuju ruang keluarga.


Safira izin pada Dev untuk membantu Ibunya di dapur, Dev pun tersenyum mengizinkannya. Dev menatap sekitar ruang keluarga yang memberikan kehangatan pada dirinya. Ia menyentuh sebuah bingkai foto yang terletak di atas meja.


"Aku masih ingat senyum ini, ini pasti kau, Sa," ucap Dev sambil menyentuh foto gadis kecil yang sedang bermain dengan kedua kakak laki-laki dan perempuannya.


"Minum, Nak," ucap Nyonya Aiman sembari meletakkan segelas air putih dan dua gelas jus jeruk di atas meja.


"Terimakasih, Bu," jawab Dev tersenyum. Pria itu pun mengambil segelas air putih, lalu meminumnya sampai seperempat gelas.


"Safira mana, Bu?" tanya Dev, karena Safira tak kunjung menampakkan dirinya lagi.


"Dia ada di dapur, seperti sedang membuat sesuatu."


"Boleh Dev menemuinya?" tanya Dev.


"Silahkan, Nak. Rumah ini juga rumahmu sekarang," jawab Nona Aiman tersenyum.


Dev pun melangkahkan kakinya menuju dapur, ia menatap sekitar rumah yang sangat rapi dan bersih. Benar-benar membuat siapapun nyaman untuk berlama-lama dirumah ini.


"Sayang? Apa yang kau lakukan?" tanya Dev sambil menghampiri Safira.


"Aku, aku sedang membuatkan sesuatu untukmu," jawab Safira tanpa menoleh pada Dev.


"Nanti dilihat Ibu," gumam Safira, Dev hanya bisa tertawa mendengarnya.


"Baiklah. Aku tidak akan melakukan yang aneh-aneh."


☆ ☆ ☆


Pukul 1 siang.


Kini Dev dan Safira melangkah menaiki tangga menuju kamar Safira, setelah keduanya makan siang dan sedikit berbincang dengan Ayah dan Ibu Safira tadi.


Safira diam sejenak, ia menatap wajah Dev lalu membuka pintu kamarnya. Dev mengedarkan pandangan pada setiap sudut kamar Safira. Ia menoleh lalu mendekap Safira dalam pelukan hangatnya.


"Kenapa kau melakukan semua ini?" tanya Dev. Pria itu masih enggan untuk melepaskan Safira dari pelukannya.


"Aku sudah mencintai Kak Dev sejak dulu, dan memendam semua rasa itu, dan menguburnya, saat mengetahui Kak Dev sudah bertunangan dengan Kak Aurora. Hanya foto-foto dan coretan tangan inilah yang menjadi saksi cintaku selama ini," jawab Safira panjang lebar.


Dev melepaskan Safira. Lalu menatap dinding kamar yang dipenuhi oleh nama dan juga foto-fotonya. Di setiap foto pasti ada curahan hati tentang cinta Safira di sana.


Dev kembali melangkah mendekati Safira yang juga mengenang semua coretan tangannya. Dev memeluk tubuh Safira dari belakang, memejamkan matanya, menikmati aroma tubuh wanita itu.


"Safira Maharani Dirgantara," panggil Dev dengan mata yang masih tertutup. Safira hanya menjawab "Iya."


"Maafkan aku, maafkan aku yang selalu mengulur waktu, sampai membuatmu ragu padaku. Maaf aku, maafkan semua kesalahanku selama ini, baik yang aku sadari ataupun tidak." Dev mempererat pelukannya, kini kedua tangan kekarnya menempel pada perut Safira.


"Aku akan menyesal jika tidak memperjelas semuanya secepatnya. Jujur saja, Aku Mencintaimu, sangat mencintaimu, hanya kau yang ada didalam hati dan pikiranku sekarang. Kau berhasil Sa, kau berhasil menyingkirkan Aurora. Kini hanya ada dirimu di sana. Hanya dirimu, Sayang!" ucap Dev sambil membalik tubuh Safira menghadapnya.


Safira menatap netra cokelat Dev cukup lama, lalu menenggelamkan kepalanya pada dada bidang Devano.


"Aku mencintaimu, Sayang. Aku mencintaimu, Safira Maharani," gumam Dev sambil mengelus kepala Safira dengan penuh kasih sayang.


Safira mendongak menatap wajah Dev. Safira langsung mencium bibir Dev tanpa ragu, ia bahkan harus berjijit untuk melakukannya. Dev membalas ciuman Safira dengan jantung yang berdebar lebih cepat, sungguh, hal itu selalu terjadi jika ia dan Safira bersama seperti ini.


Keduanya kini saling menatap dengan nafas yang masih belum beraturan. Safira mundur satu langkah lalu menutup mulutnya, entah mengapa, ia tiba-tiba malu pada Dev sekarang.


"Sayang, mendekatlah! Aku milikmu, kau bisa melakukan apapun padaku! Jadi, jangan malu seperti itu," ucap Dev sambil melangkah mendekati Safira.


"Aku mencintaimu...." bisik Dev, hal itu berhasil membuat semua rambut halus Safira terbangun dan jantungnya berdebar tanpa komandan.


"Aku juga mencintaimu, Sayang." Safira kembali memeluk tubuh tegap Dev. Kebahagiaan yang selama ini hanya menjadi mimpi dan halusinasinya telah terwujud. Sungguh, hari ini menjadi hari terindah dalam hidup Safira.