
Safira duduk di tepi kasurnya, ia terus menatap tangannya yang sedikit tersobek akibat pecahan gelas yang terjatuh, saat dirinya membersihkan dapur siang tadi.
"Apa ini tidak akan sakit jika dipakai mencuci piring nanti?" tanya Safira pada dirinya sendiri. Safira membuka Lilitan kain putih yang ia gunakan untuk menutupi lukanya, lalu menggantinya dengan kain berwarna hitam.
"Ah, tidak apa, Sa. Ini tidak berarti apapun bagimu, kau kuat, Sa. Ini hanya luka kecil," ucap Safira menyemangati dirinya. Ia melangkah mendekati pintu kamar, memastikan apakah Dev dan juga Jimmy sudah pulang.
Safira menatap ke arah meja kerja Jimmy. Terlihat laptop Jimmy menyala, itu artinya Jimmy sudah pulang. Tapi bagaimana dengan Kak Dev? Apakah dia sudah pulang atau masih di perusahaan? Batin Safira bertanya-tanya.
"Nona," panggil Jimmy membuat Safira tersentak kaget.
"Apa tangan Nona baik-baik saja?" tanya Jimmy sambil menatap tangan Safira yang masih diikat dengan kain berwarna hitam itu.
"Ah, ini, ini hanya luka kecil. Oh, ya, Apa Kak Dev sudah pulang?" jawab Safira lalu mencari bahan pertanyaan yang akan mengalihkan topik pembicaraannya dan Jimmy.
"Apa Nona sudah mengobatinya?" tanya Jimmy yang masih membahas luka di tangan Safira.
"Sudah. Tadi aku bertanya, apakah Kak Dev sudah pulang?"
"Tuan di atas. Mungkin akan turun untuk makan malam," jawab Jimmy lalu duduk di kursi kerjanya. Ada beberapa pekerjaan yang harus ia selesaikan malam ini juga.
"Baiklah, aku akan menyiapkan menu makan malam dulu." Safira berjalan menjauh dari Jimmy lalu melangkah menuju dapur.
Ia menata semua menu di meja makan. Namun, Safira sedikit kewalahan karena luka yang masih basah di telapak tangannya.
"Ada apa dengan tanganmu?" tanya Dev yang kini sudah berdiri di dekat meja makan.
"Coba buka, aku ingin melihatnya." Dev berjalan mendekati Safira, lalu menatap wajah Safira beberapa detik.
"Tidak apa, Kak. Ini sudah tidak sakit lagi." Safira menyembunyikan tangannya agar Dev tidak lagi membahas luka itu.
"Berikan tanganmu! Cepat!"
Dev meraih tangan Safira yang masih terlilit kain hitam itu. Ia meminta Safira duduk di kursi makan, lalu Dev menyeret kursi sebelahnya dan langsung duduk berhadapan dengan Safira.
"Tunggu di sini." Dev bangkit dan keluar dari dapur. Sedangkan Safira hanya menatap bingung lukanya, sebenarnya luka itu masih terasa sakit, namun Safira tidak terlalu memikirkannya.
Setelah beberapa menit, Dev kembali sambil membawa perban dan kotak obat. Ia menatap Safira sejenak lalu mengobati luka di telapak tangan wanita itu.
"Ini bisa infeksi, kenapa tidak kau perban?" ucapnya sesudah mengobati dan memperban tangan Safira.
"Aku, aku tidak menemukannya. Oleh sebab itu, aku memakai kain ini," jawab Safira masih dengan kepala yang tertunduk.
Dev diam lagi, ia mengembalikan posisi kursi yang ia duduki tadi, kemudian menatap Safira dan menghembuskan nafasnya pelan.
Ia kembali bangkit dari duduknya lalu berpindah duduk di samping Safira.
Dev membalik piring yang terletak di hadapan Safira, lalu menyendokkan nasi dan lauk untuk wanita itu. Setelah itu, barulah ia menyendok nasi dan lauk untuk dirinya sendiri.
Usai makan malam bersama, Dev meminta Safira langsung masuk ke dalam kamarnya. Dan masalah piring kotor, ia sudah menyuruh Jimmy untuk memanggil beberapa pelayan di rumah utama untuk membersihkannya dan juga tinggal untuk beberapa hari kedepan, sampai luka di tangan Safira sembuh.