Devano Pranata Yoga

Devano Pranata Yoga
- Safira -



Kediaman Keluarga Pranata.


Erika menuruni tangga dengan tangan yang membawa sebuah kado kecil berwarna merah muda, kado yang akan ia berikan untuk Mommy-nya, sebagai hadiah ulang tahun sang Mommy.


"Mom?" panggil Erika. Jack dan Kamila pun menoleh ke arah putri mereka itu.


"Happy birthday, Mom. Erika sayang Mommy," ucap Erika lalu mencium kedua pipi Kamila. Gadis itu memeluk Mommy-nya dengan erat, membuat sang Daddy terharu melihatnya.


"Mom, berjanjilah!" ucap Erika sambil melepaskan pelukannya pada Kamila.


"Berjanjilah! Kalau Mommy dan Daddy tidak akan pernah meninggalkan Erika, selalu ada untuk Erika," lanjut Erika.


Jack menetap Erika. Sepertinya putrinya itu sangat takut jika dirinya dan Kamila pergi, walau pada dasarnya, mereka tidak akan pernah meninggalkan Erika.


"Mommy dan Daddy janji," ucap Jack dan Kamila bersamaan.


Erika kembali memeluk tubuh Kamila, lalu berpindah dalam pelukan sang Daddy.


'Aku tidak ingin kehilangan kedua orangtuaku, aku tidak sanggup membayangkan, bagaimana hidupku tanpa mereka.' Batin Erika.


"Bibi?"


Kamila menoleh ke arah pria yang memanggilnya tadi. Ia pun tersenyum pada pria itu, dan juga pada wanita yang berdiri di dekatnya.


"Selamat ulang tahun, Bibiku sayang," ucap Dev sambil menahan tawanya. Ia geli mendengar ucapannya sendiri.


"Terimakasih, Dev," jawab Kamila.


"Selamat ulang tahun, Bi. Semoga Tuhan selalu mencurahkan rahmat-Nya pada Bibi, dan keluarga Bibi," ucap Safira. Kamila dan Jack tersenyum mendengarnya.


"Terimakasih, Sa."


Safira tersenyum. "Sama-sama, Bi," jawabnya.


"Ayah dan Ibu dimana?" gumam Dev. Ia mengedarkan pandangannya, mencari keberadaan Ayah dan Ibunya, yang tidak pernah terlihat sejak kedatangannya.


"Di atas Dev," ucap Kamila memberi tahu. Dev pun hanya mengangguk, jika sudah di atas, itu artinya, tidak ada yang boleh naik ke lantai atas, apalagi sampai mendekati kamar Ayah dan Ibunya.


"Devano....Oh, tampannya dirimu...." ucap seorang wanita yang memiliki usia lebih muda dari Kamila. Wanita itu berjalan dengan gaya centilnya, tidak perduli akan anak suami yang juga berjalan disampingnya.


Dev mengelus tengkuknya lalu tersenyum tidak jelas, saat Aleta semakin berjalan mendekati dirinya dan Safira.


"Tante! Apa yang Tante lakukan?!" ucap Dev. Dev mundur satu langkah, menjauhi Aleta.


"Hei, jangan durhaka padaku! Devano! Kembali, Dev!" teriak Aleta saat Dev membawa Safira berlari memasuki rumah utama.


"Kau tidak pernah berubah! Selalu seperti anak kecil!" gumam Kamila, ia menatap Aleta, dan pria tampan yang berdiri di dekat wanita itu.


"Waktu berjalan begitu cepat."


☆ ☆ ☆


Dev mengajak Safira berjalan menuju taman samping rumah utama. Taman yang menjadi saksi awal cinta Ayah dan Ibunya dulu.


"Sayang? Yang tadi...."


"Dia Bibi Aleta, dia memang seperti itu dari dulu," potong Dev. Safira hanya mengangguk saja.


"Emmm, Sayang? Aku, aku ingin menanyakan sesuatu padamu," ucap Safira. Dev pun menoleh ke arahnya.


"Tanyakan saja, suamimu yang tampan ini akan menjawabnya."


"Apakah kau ingin menjadi seorang Ayah?" tanya Safira sambil mengulung-gulung ujung gaunnya.


"Tentu saja, jika tidak ingin, untuk apa aku menitipkan benih pada rahimmu," jawab Dev blak-blakan.


Safira diam sejenak, ia menatap wajah tampan Dev yang begitu mempesona. Sampai air liurnya saja akan menetes, jika ia tidak segera menutup mulutnya.


"Apakah kau tidak ingin menjadi Ibu?" Kini Dev merubah posisi duduknya, sampai ia dan Safira berhadapan dan saling menatap satu sama lain.


"Aku, aku juga ingin. Setiap wanita pasti ingin menjadi seorang Ibu," jawab Safira tertunduk.


"Lalu? Apa lagi yang kau ragukan sekarang?"


"Aku takut, takut kalau aku tidak mam..."


"Tidak! Kita satu, aku ada untukmu, dan kau akan selalu ada untukku. Tidak ada kata tidak mampu! Kita akan selalu bersama, melengkapi kekurangan satu dan lainnya!" potong Dev. Pria itu meringsut mendekati Safira.


"Kau bisa, Sayang. Tuhan selalu ada untuk kita, tinggal kita saja, apakah kita mau berusaha dan meminta kepada-Nya," lanjut Dev. Pria itu mencium kening Safira cukup lama.


"Maaf," lirih Safira. Dev tidak menjawab apapun, ia juga sadar diri, keraguan ini pasti datang karena dirinya sendiri. Dirinya yang terlalu lama mengungkapkan semuanya.