
Safira menatap ke luar jendela mobil, lalu menatap ke arah pria yang duduk di sampingnya.
"Sa-sayang?" Panggil Safira pada Dev. Dev menoleh sambil tersenyum pada wanita itu.
"Ada apa?" tanya Dev, masih dengan senyum menghiasi bibirnya.
"Kita mau kemana? Ini bukan jalan menuju ru...."
"Diam dan nikmati saja perjalanannya!" potong Dev. Pria itu bergeser berdekati Safira, lalu memainkan daun telinga Safira.
"Sa-sayang! Ini geli!" Teriak Safira, membuat Dev tertawa dan tersenyum bangga. Bangga karena bisa menjahili Safira.
Tangan Dev mulai turun, menelusuri bagian leher Safira. Ia pun semakin mendekat, membuat jantung Safira bekerja lebih cepat dari sebelumnya.
"Sa-sayang...Ada...." ucapan Safira langsung terhenti ketika bibir Dev tiba-tiba menempel pada bibir bawahnya.
Dev pun tersenyum, setelah ia menjauhkan bibirnya dari Safira. Pria itu bahkan tidak perduli dengan adanya Jimmy di dalam mobil yang sama dengan mereka.
Sementara Safira, ia hanya bisa diam dan patuh saja, dengan apapun yang Dev lakukan sekarang padanya.
1 jam kemudian.
Mobil terparkir di halaman depan Villa Kamboja. Jimmy turun, membukakan pintu mobil untuk Dev yang sedang menggendong Safira. Safira tertidur setelah Dev mengelus-elus pipi dan kepalanya, sepanjang perjalanan menuju Villa.
"Selamat datang, Tuan. Kami sudah menyiapkan kamar Tuan dan Nona Safira," ucap kepala pelayan yang sudah sampai terlebih dahulu.
Dev hanya menanggapinya dengan senyuman. Kepala pelayan itu berlari, lalu membukakan pintu kamar untuk Dev.
Dev membaringkan Safira dengan hati-hati, lalu ikut membaringkan dirinya di samping Safira. Dev terus menatap wajah Safira, yang akhir-akhir ini sering bermunculan di dalam pikirannya.
Dev mulai menarik tubuh Safira ke dalam pelukannya, membiarkan Safira menggunakan lengannya sebagai bantal. Dikecupya kening Safira cukup lama, lalu turun pada bibir yang sudah menjadi candu baginya.
"Emmm..." Safira mendorong wajah Dev, lalu kembali larut pada mimpi indah yang sempat terganggu.
Dev yang jahil kembali mendekatkan wajahnya, lalu menciumi pipi Safira.
"Hahahaha, maaf," ucapnya pada Safira yang kini sudah membuka matanya. Safira tidak menjawab apapun, ia masih belum sadar, sedang dimana dia sekarang.
Wanita itu bergeser menjauh dari tubuh Dev, namun Dev kembali menarik tubuhnya lalu memeluknya erat.
"Kau masih ngantuk?" tanya Dev. Safira hanya mengangguk.
"Tidurlah, aku tidak akan menjahilimu lagi," lanjutnya, lalu mengelus kepala Safira yang menempel pada dada bidangnya.
☆ ☆ ☆
Pukul 2 siang. Safira membuka matanya, dilihatnya wajah tampan Dev yang masih terpejam di dekatnya. Tangannya spontan menyentuh bibir yang selalu menjahilinya itu.
"Kenapa?! Apa kau ingin mencuri ciuman dariku?!" tuduh Dev dengan mata yang masih terpejam.
"Ti-tidak." Safira bergeser menjauh.
"Lalu?" tanya Dev sambil membuka matanya dan langsung menatap ke arah Safira.
Safira terdiam seribu bahasa, ia bingung harus menjawab apa pada Dev.
"Jangan malu-malu seperti itu! Jika kau ingin, ciumlah!" goda Dev tertawa.
"Danau?" Safira mengalihkan pandangannya pada Dev. "Kita dimana, Sa-sayang?"
"Villa Kamboja," jawab Dev. Pria itu bangun lalu membuka kemejanya. Kini dada dan perut indah itu terpampang jelas di depan mata Safira.
"Tutup mulutmu, Sa. Air liurmu nanti jatuh," ejek Dev pada Safira. Safira pun langsung menutup mulutnya dengan tangan, dan menundukkan kepalanya, menatap lantai kamar.
"Kau lapar?" tanya Dev sambil melangkah mendekati lemari kayu, pria itu hendak mengambil baju kaosnya.
"Sedikit." Safira kembali mengangkat kepalanya, namun tidak langsung menatap ke arah Dev. Matanya kini menatap ke arah jendela yang menampakkan bagian depan Danau buatan.
Safira berdiri dan melangkah mendekati jendela, diikuti oleh langkah Dev di belakangnya.
"Kau suka?" tanya Dev. Safira pun mengangguk dan tersenyum padanya.
"Villa ini adalah bukti cinta Ayah pada Ibu. Ayah membangunnya khusus untuk Ibu. Dan Ibu yang memintaku untuk mengajakmu ke sini," lanjut Dev sambil memeluk tubuh Safira dari belakang.
"Bagaimana dengan danau itu?"
"Hmmm, itu juga dari ayah, lengkap dengan rumah pohon diseberang sana." Dev menunjuk ke arah rumah pohon yang masih terawat dengan baik itu.
"Ayo, kita makan siang, setelah itu, aku akan mengajakmu untuk berkeliling di sekitar Villa," lanjut Dev.
'Ya, Tuhan...Apa Kak Dev sudah cinta padaku sekarang? Ini semua diluar dugaan dan bayanganku. Kupikir, aku akan selalu tersakiti di dekatnya, ternyata tidak, dia bahkan sangat baik padaku.' Batin Safira.
"Ayo, kenapa masih mematung disitu?! Jalan atau kugendong sampai luar?!" ucap Dev sambil menatap Safira yang masih mematung di dekat jendela.
Safira tersadar, lalu mengikuti langkah Dev keluar dari kamar. Keduanya makan siang bersama di pinggir Danau buatan, danau yang menyimpan begitu banyak kenangan bagi keluarga besar Pranata Yoga.
Usai makan siang, Dev mengajak Safira untuk berjalan-jalan di dekat danau dan juga taman depan Villa Kamboja. Dev berhenti sejenak, lalu menatap Safira yang menunduk, memperhatikan bunga-bunga yang ada di taman depan.
'Tuhan, izinkan aku untuk mencintai Safira, membalas semua cinta yang dia berikan kepadaku. Dan kumohon, jangan biarkan bayangan Aurora kembali menghantui pikiranku, bantu aku untuk melupakannya. Agar dia tenang dialamnya.' Batin Dev berdoa.
☆ ☆ ☆
Hari mulai petang, Dev dan Safira pun sudah masuk ke dalam Villa. Kini, keduanya sedang berada di dalam kamar. Dev masih sibuk dengan Hpnya. Sedangkan Safira, ia baru saja keluar dari kamar mandi, membersihkan tubuhnya yang berkeringat, setelah puas bermain bersama Dev sore tadi.
"Mana Hpmu?" tanya Dev pada Safira yang masih memilih baju gantinya. Safira menoleh lalu menunjuk meja kecil di dekat kasur.
Dev meraih benda pipih itu, lalu menatap Safira sejenak.
"Jika dia benar-benar mencintaiku, maka ia akan memakai namaku sebagai sandi Hp ini," gumam Dev percaya diri.
Dev mengetik namanya, sayangnya, nama Dev bukanlah sandi Hp Safira. Dev pun berpikir sejenak.
"De-va-no, Sem-bilan tu-juh," ucap Dev mengeja apa yang akan ia ketik. Dan benar saja, Hp Safira langsung terbuka dengan sandi itu.
'Andai waktu bisa diputar, aku pasti akan kembali dan tersenyum dengan tulus hari itu.' Batin Dev menyesal, setelah melihat fotoya yang hanya tersenyum palsu di hari pernikahannya dan Safira.
"Kemarilah!" ucap Dev pada Safira yang sudah selesai berganti baju.
Safira pun mendekat, lalu mendudukkan dirinya di samping Dev. Dev tersenyum miring menatap Safira, yang ditatap hanya bisa tertunduk dengan wajah yang sudah merah merona.
"Kau belum membayar utangmu padaku!" ucap Dev. Pria itu meletakkan Hp Safira pada tempat semula, lalu mendekati Safira, memainkan daun telinga wanita itu.
"Aku akan memberimu hukuman malam ini juga!" lanjut Dev tersenyum jahil.