
Henry terus menatap layar Hpnya, memandangi foto seorang gadis yang kini mengisi ruang hatinya. Hati Henry tiba-tiba saja tergerak ingin bertemu dengan Davin, dan ingin melihat gadis itu dari jarak yang lebih dekat.
Henry sekilas tersenyum, lalu memasukkan Hpnya ke dalam saku celana. Henry meraih kunci motor dan juga helm-nya. Berniat untuk menemui Davin di kampusnya.
Henry mulai melajukan motornya ke arah barat, otaknya terus berpikir, merangkai kata-kata yang akan ia ucapkan pada Davin nantinya.
Setengah jam kemudian. Sampailah Henry di parkiran kampus. Henry menatap ke arah parkiran, yang biasa Davin dan teman-temannya gunakan untuk memarkir motor mereka.
Henry terus mengamati satu persatu motor yang terparkir di sana, dan Henry tidak menemukan motor Davin di area itu.
15 menit kemudian.
Agnes, Pretty dan teman-temannya yang lain keluar dari kampus. Kini mereka semua berjalan menuju parkiran.
Agnes menajamkan penglihatannya, lalu mengerutkan dahinya, saat melihat Henry berdiri di dekat motornya.
"Apa yang Om lakukan di sini?" tanya Agnes dengan wajah datar dan dinginnya.
"Aku ingin bertemu Davin. Dimana dia?" Henry menatap semua gadis yang berdiri di belakang Agnes, ia sama sekali tidak melihat Davin di sana.
"Davin tidak masuk! Dia sedang sakit!" ucap Agnes, lalu mengedipkan matanya pada Pretty.
"Hmmm, Davin tidak masuk kuliah! Jadi Om tidak bisa bertemu dengannya sekarang," timbal Pretty.
Henry diam sejenak. "Davin sakit apa?" tanyanya dengan nada terdengar begitu khawatir.
"Kami kurang tau!"
"Dan bisakah Om bergeser?! Om menghalangi jalan kami?!" ucap Agnes sambil menatap ke arah Henry.
Henry bergeser dan juga mundur beberapa langkah. Ia terus mengamati Agnes dan juga teman-temannya. Henry tiba-tiba tersadar saat merasakan getaran Hp di saku celananya.
"Hallo, Paman?"
"Kau di mana sekarang?"
"Aku dalam perjalanan menuju rumah Paman, sebentar lagi aku sampai," jawab Henry berbohong.
"Baiklah, kau hati-hati di jalan!"
Henry kembali memasukkan Hpnya ke dalam saku celana, ia mengedarkan pandangan mencari keberadaan Agnes dan juga kawan-kawannya.
"Arggh....Sial!"
Henry berlari mendekati motornya, menaiki motor itu lalu menancapkan gasnya ke arah timur.
* * *
Almira menatap Davin yang masih termenung sambil menatap ke arah sungai. Gadis itu memegang pundak Davin dengan lembut.
"Kak Davin? Kakak baik-baik saja?" tanya Almira khawatir.
Davin tersadar dan langsung menoleh ke arahnya. "Maaf, aku tidak mendengarmu. Apa yang kau katakan tadi?"
"Kak Davin ada masalah ya?" tanya Almira. Davin menggeleng cepat.
"Tidak, Kakak tidak punya masalah," elak Davin.
"Bohong dosa, loh Kak." Almira berdiri lalu mendudukkan dirinya di samping Davin.
"Kak Davin lagi berantem sama pacar?" tanyanya sambil menatap wajah datar Davin.
"Tidak, Kakak tidak punya pacar!"
"Masak sih, wanita secantik Kak Davin tidak punya pacar? Ira tidak percaya!" ucap Almira tidak percaya dengan jawaban yang diberikan Davin. Sementara Davin hanya menggeleng samar.
"Bagaimana denganmu? Apakah kau punya pacar?" Davin balik bertanya. Kini ia tersenyum miring pada Almira.
"Tidak punya! Ayah dan Ibu melarangku untuk pacaran! Mereka bilang aku masih labil, belum siap untuk mengenal dunia percintaan," jawab Almira dengan wajah yang mulai ditekuk masam.
"Hahaha, benar apa yang Ayah dan Ibumu bilang. Kau masih labil! Masih ingusan! Jadi belum boleh pacaran!"
"Ish, Ira udah besar! Udah nggak ingusan lagi!" jawab Almira. Gadis itu kembali berdiri lalu merendam kakinya di tepi sungai.
"Hahahaha, dasar bocil!" ejek Davin. Davin ikut berdiri dan mulai duduk di samping Almira. Melakukan hal yang sama, seperti apa yang Almira lakukan.
"Ira?" panggil Davin setelah suasana hening beberapa menit.
"Hmmm, kenapa, Kak?"
"Apakah kau tidak punya Hp?" tanya Davin penasaran.
"Aku punya, tapi aku kurang tertarik dengan benda itu," jawab Almira sambil menoleh pada Davin.
"Apakah Kak Davin ingin meminjamnya? Kulihat Kak Davin tidak pernah memegang Hp. Kak Davin tidak membawa Hp, ya?" lanjutnya bertanya.
"Hmmm, aku sengaja tidak membawanya."
"Kenapa?" Kini Almira yang terlihat penasaran pada diri seorang Davina.
"Ira! Apa yang kau lakukan disana? Pulanglah! Kak Agus ingin bertemu denganmu! " teriak Zia pada Almira.
Almira dan Davin menoleh secara bersamaan, lalu tersenyum saat melihat siapa yang berteriak pada mereka.
"Davin? Kukira bukan kau tadi," ucap Zia tersenyum pada Davin.
"Hehehe, aku pamit dulu, Bi. Nanti malam aku akan ke rumah Bibi," jawab Davin tersenyum.
"Sekarang saja ke rumah Bibi! Bibi ingin mengajakmu makan siang bersama dengan Paman Zen. Ayo!" ajak Zia. Zia menarik tangan Davin dan juga Almira. Kedua gadis itu tersenyum, dan mengikuti langkah Zia untuk pulang ke rumah.
* * *
Zen membuka pintu, ia tersenyum saat melihat orang yang ia tunggu-tunggu akhirnya datang juga.
"Masuklah!"
Henry kembali tersenyum pada Pamannya itu. Zen adalah satu-satunya keluarga yang ia miliki sekarang, pria 43 tahun itu adalah adik kandung Almarhumah Ibunya, pria yang selalu mendukung semua langkahnya selama ini.
"Dimana Ira? Aku membawa hadiah untuknya," ucap Henry sambil melirik ke arah dapur dan juga kamar Almira.
"Sebentar lagi dia pulang, tunggu saja," jawab Zia sambil melangkah mendekati Henry dan juga Zen. Zia meletakkan nampan yang berisi dua gelas minuman di atas meja, lalu mempersilahkan Henry untuk meminumnya.
"Aku akan mencari Ira dulu, gadis itu tidak akan pulang, bila tidak dicari dan dipaksa untuk pulang!" gumam Zia. Zia bangkit lalu melangkah keluar untuk
mencari Almira.
* * *
15 menit kemudian.
Davin menatap motor yang terparkir di halaman depan rumah Zia. Davin terus mengamati motor itu, ia merasa tidak asing dengan motor yang berwarna hitam-merah itu.
"Davin? Kenapa masih mematung? Ayo, masuk!"
Davin pun melangkahkan kakinya mendekati pintu. Ia memegang pundak Almira, dan berjalan di belakang gadis itu.
"Ira? Kemarilah! Aku membawa hadiah spesial untukmu!" ucap Henry tanpa menatap ke arah Almira.
Deg....
Tiba-tiba saja Davin merasa ada yang aneh dengan jantungnya. Jantungnya berdebar dengan begitu kencang saat mendengar suara pria tadi. Davin mengangkat kepalanya lalu menatap ke arah Zen dan juga Henry.
"Davin? Duduklah, Nak...., Ira! Ajak Kak Davin duduk!" ucap Zen pada Davin dan juga Almira.
Henry yang mendengar nama Davin disebut, langsung mengangkat wajahnya dan menatap ke arah Almira. Ia tersenyum bahagia sekaligus bingung saat melihat gadis yang masih berdiri di belakang Almira.
"Davin?" gumam Henry.
Almira menarik tangan Davin. Mengajak Davin untuk duduk bersama dengan Henry dan juga Ayahnya.
"Kak Agus kapan datangnya?" tanya Almira tersenyum. Sementara Henry yang ditanya masih menatap ke arah Davin. Ia benar-benar terhipnotis dengan wajah gadis itu.
"Hemmm!" Almira dan Zen berdehem secara bersamaan. Membuat Henry langsung tersadar dengan wajah yang bersemu merah.
"Cie....Cie.....Kak Agus suka, ya, sama Kak Davin....Pandangan pertama....Awal aku berjumpa....." ucap Almira menggoda Henry. Henry hanya bisa tersenyum sambil menahan rasa malunya. Ingin rasanya ia menutup mulut Almira sekarang juga.
"Oh, ya, Davin. Kenalkan, ini Agus keponakan, Paman. Dan Agus, ini Davin, dia adalah anak kedua Bibi Jessica," ucap Zen sambil tersenyum pada kedua orang di hadapannya.
"Kami sudah saling mengenal," jawab Henry, masih dengan wajahnya yang memerah.
"Yah....Kukira cinta pada pandangan pertama....Ternyata bukan, ya?" celoteh Almira. Membuat Davin langsung mencubit lengannya.
"Kau baik-baik saja?" tanya Henry pada Davin. Davin mengangkat wajahnya, menatap ke arah Henry.
"Aku baik-baik saja, Om."
"Om?" Almira langsung menatap wajah Henry, wajah Kakak sepupunya itu terlihat masih muda, tapi kenapa Davin malah memanggilnya dengan panggilan 'Om'?
"Iss, Kak Davin ini! Kak Agus kan masih ganteng jangan dipanggil Om, dong!" protes Almira tidak terima.
"Ira.....Sini, bantu Ibu......" teriak Zia dari dapur. Zia sengaja memanggil Almira, agar putrinya itu tidak banyak bicara dan membuat orang-orang geram padanya.
"Aku ikut!" Davin menahan tangan Almira. Ia ingin ikut dengan gadis itu ke dapur, karena malu jika duduk sendirian di hadapan Henry dan juga Zen.
"Ayo, Kak," jawab Almira. Almira tersenyum pada Henry. "Jangan dilihat terus, Kak....Nanti nggak bisa tidur, loh," godanya lagi.
"Dasar bocah! Awas saja nanti!" gumam Henry.
"Paman, kenapa Davin bisa di sini?" lanjut Henry bertanya.
"Paman juga kurang tau, tapi dia bilang ingin tinggal untuk beberapa hari kedepan. Dan dia tinggal di rumah lama sekarang," jawab Zen.
'Teman-temannya bilang dia sedang sakit? Tapi, aku tidak melihat wajahnya pucat atau tanda-tanda sakit lainnya pada tubuh Davin. Sebenarnya apa yang terjadi pada Davin sekarang?' Batin Henry.
"Agus?" Zen memegang pundak Henry, membuat Henry langsung tersadar lagi.
"Aku menyukainya, Paman. Bisakah kau membantuku untuk mendapatkannya?"
"Siapa?" tanya Zen yang belum mengerti.
"Nona Davina Pranata Yoga, aku menyukai gadis itu!"
"Yang benar saja! Kau tidak sedang bercanda, kan?!" Zen menatap Henry. Dan memang benar, ia bisa melihat kalau Henry tidak sedang bercanda sekarang.
"Aku benar-benar menyukainya, Paman. Aku tidak main-main dengan perasaanku padanya," tekan Henry.
Davin menatap Henry dengan tatapan tidak percaya. Ia kini berdiri di dekat pintu dapur, membuat dirinya bisa mendengar apa yang diucapkan Henry dengan jelas.
"Paman akan membantumu, tapi Paman tidak menjamin kau bisa mendapatkan Davin dengan semudah itu."
"Terimakasih, Paman. Aku tau itu, aku akan melakukan apapun untuk mendapatkannya," jawab Henry tersenyum.
'Ya, Tuhan....Godaan apa lagi ini....Kenapa menjadi seperti ini? Kenapa semuanya terjadi di saat aku ingin mematuhi semua larangan Ayahku? Dan kenapa apa yang dilarang Ayah adalah apa yang aku inginkan sekarang? Aku ingin dekat dengan Om Henry.....Tapi bagaimana dengan Ayah dan Ibu?' Batin Davin.
Davin mundur beberapa langkah lalu kembali masuk ke dalam dapur. Ia kembali termenung dengan pikiran yang tertuju pada ucapan Henry tadi.