Devano Pranata Yoga

Devano Pranata Yoga
Davina Pranata Yoga (2)



Hari semakin siang, membuat Safira memutuskan untuk kembali pulang ke rumah, karena masih begitu banyak hal yang harus ia lakukan di sana. Saat hendak keluar dari kafe, Safira bertemu dengan Leon, pria yang selama ini menaruh hati pada sahabat gesreknya itu.


"Hai, Sa," sapa Leon tersenyum hangat.


"Hai, juga. Kau datang untuk berkunjung ke kafe ku, atau untuk mencuri pandangan dengan sahabatku?" tanya Safira menggoda.


"Dua-duanya, aku ingin nongkrong dan juga ingin melihat sahabatmu yang manis itu," jawab Leon lalu tertawa kecil.


"Hahahaha, baiklah, kau duduk saja dulu. Nanti ada orang yang akan melayanimu, aku pamit pulang dulu," ucap Safira lalu melangkah keluar dari kafenya.


"Leon, siapa wanita itu?" tanya seorang teman Leon yang baru pertama kali berkunjung ke kafe ini.


"Dia?" Leon menunjuk Safira yang sudah masuk ke dalam taksi online. "Dia sahabat Alisha, namanya Safira, dan dan dia juga pemilik kafe ini," lanjut Leon.


"Hah? Pemilik kafe ini? Semuda itu? Wah, idaman sekali," ucap teman Leon yang bernama Henry itu.


"Eh, tunggu dulu, aku dengar-dengar sih dia sudah menikah. Kalau nggak salah nikahnya sama anak pengusaha kaya, siapa yang namanya?" Leon berpikir sejenak.


"Itu, loh. Anaknya Tuan Aldy," lanjutnya memberi tahu Henry. Henry pun ikut diam dan berpikir sesaat.


"Astaga, aku mundur saja dari sekarang, dari pada harus terlilit masalah dengan pria itu," ucap Henry yang sudah merinding sendiri.


"Siapa namanya? Aku lupa." Kini Leon yang bertanya pada Henry.


"Devano! Dia juga keponakannya Jack Johnson. Ketua geng motor yang legendaris itu!" jawab Henry kembali merinding sendiri.


"Benarkah? Aku tidak tau itu, yang kutahu, dia anak Tuan Aldy saja." Leon dan Henry pun diam, keduanya langsung fokus pada layar Hp mereka saat melihat Alisha dan beberapa orang lainnya mendekat ke arah mereka.


"Emm, boleh pinta password wi-fi nya?" tanya Leon pada Alisha.


"Tunggu sebentar." Alisha terlihat membaca sesuatu yang ditampilkan di layar Hpnya.


"Ini, baca saja sendiri," ucapnya lalu memperlihatkan layar Hpnya pada Leon.


"DEVANO97." Begitulah tulisan yang ditampilkan oleh layar Hp Alisha.


"Hem, terimakasih," ucap Henry mewakili Leon yang masih terbengong menatap sang pujaan hati.


"Sama-sama," jawab Alisha tersenyum samar, lalu melangkah menjauhi kedua pria itu.


"Cantik," gumam Henry dan masih bisa didengar oleh Leon yang duduk di sampingnya.


"Heh, dia milikku!" Leon memukul bahu Henry pelan.


"Selama janur kuning belum melengkung, berarti dia masih menjadi milik semua orang," ucap Henry lalu menjauh dan langsung menyesap minuman yang baru saja mendarat di atas meja mereka.


"Hen, Hen, lihat itu," ucap Leon sambil menyikut-nyikut Henry.


Davin membuka ikat rambutnya lalu berjalan memasuki kafe bersama dengan kawan-kawannya. Gadis-gadis itu berjalan melewati meja Leon dan Henry.


'Ya, Tuhan...Secepat ini kau kirimkan pengganti untukku, Safira tidak dapat, gadis dingin itu pun jadi.' batin Henry.


Henry terus menatap ke arah Davin yang sedang fokus pada Hpnya, terlihat sesekali gadis itu tersenyum tipis saat kawan-kawannya yang lain bertukar canda.


"Davin," panggil Pretty pada Davin yang masih sibuk dengan Hpnya.


"Hmmm." Davin mengangkat kepalanya lalu menatap Pretty. "Ada apa?"


"Itu, lihatlah! Pria itu terus menatap kita. Dan lebih tepatnya menatap dan memperhatikan dirimu," ucap Pretty memberi tahu.


"Yang mana?" tanya Davin sambil menatap ke arah Leon dan juga Henry.


"Itu yang memakai jaket hitam dan kaos putih itu."


"Oh, Om-om. Biarkan saja, aku tidak ingin membuat masalah dengan orang tua," jawab Davin lalu kembali fokus pada Hpnya.


"Om-om dari mananya? Orang masih seger gitu," gumam Pretty tidak menyetujui pendapat Davin tentang Henry yang disebut seperti Om-om.


Sementara Henry, pria itu terus menatap sekumpulan gadis-gadis yang duduk tidak jauh dari mejanya, mungkin hanya ada satu atau dua orang yang terlihat seperti wanita normal, selebihnya berpernampilan seperti seorang pria.


"Leon, kan kau sudah ada Alisha," ucap Henry membuka percakapan lagi.


"Terus?"


"Ya, setidaknya, kau bantu aku untuk dekat dengan gadis itu," jawab Henry sambil menunjuk Davin dengan ekor matanya.


"Kau yakin?" tanya Leon memastikan.


"Iya, kenapa aku tidak yakin." Henry kembali melirik Davin yang terlihat begitu menakutkan dengan wajah dingin dan datarnya.


"Baiklah, tunggu di sini." Leon bangkit lalu berjalan mendekati meja Davin dan kawan-kawannya.


"Hai," sapa Leon sedikit canggung.


"Hmmm, ada perlu apa ya, Om?" tanya Davin dengan wajah dinginnya, dan sedikit senyum tipis yang terlihat menakutkan.


"Oh, itu, temanku ingin berkenalan denganmu," jawab Leon yang tiba-tiba bodoh.


"Maaf, ya, Om. Sepertinya saya tidak bisa membuka identitas saya pada orang asing seperti Om ini." Davin menepuk pundak Pretty pelan.


"Pindah tempat duduk, yuk," ucap Pretty pada yang lain. Semua langsung berdiri dan berjalan menuju meja yang cukup jauh dari meja Leon dan juga Henry.


'Sial, kenapa aku menjadi bodoh di depan mereka!' Batin Leon mengutuki kebohongannya sendiri. Leon berjalan dengan lesu menghampiri Henry lalu mengajak temannya itu untuk pindah tempat nongkrong secepatnya.