
Jam sudah menunjukkan pukul 9 pagi. Safira sudah selesai dengan pekerjaan rumahnya, begitu pula dengan Jimmy dan Dev yang sudah berangkat menuju perusahaan 2 jam yang lalu.
Safira berjalan menuju kamarnya untuk mengambil tas dan juga Hpnya, lalu berjalan keluar setelah semua barang yang akan ia bawa sudah siap semua.
"Emm, di mana Jimmy meletakkan kunci rumah tadi?" gumam Safira sambil membuka laci meja kerja Jimmy.
"Ini dia." Safira mengambil kunci itu lalu kembali menutup laci Jimmy.
Di rumah baru ini memang tidak ada pelayan atau pun pengawal, berbeda dengan di rumah utama. Di sana sangat banyak pelayan dan juga pengawal yang berjaga siang dan malamnya. Hal itu membuat Dev dan Jimmy harus mengunci pintu utama jika ingin meninggalkan rumah.
Safira berjalan mendekati gerbang lalu tersenyum simpul pada seorang satpam. Entah, sejak kapan dia berada di rumah ini.
"Nona, apa anda ingin bepergian jauh?" tanya si satpam.
"Tidak, Pak. Saya hanya ingin ke kafe saya, dan saya juga sudah mendapatkan izin keluar dari Kak Dev," jelas Safira lau kembali tersenyum.
"Saya pamit," lanjutnya saat sebuah taksi online terparkir tepat di depannya.
Taksi itu melaju dengan kecepatan sedang ke arah barat. Butuh waktu lima belas menit untuk sampai ke kafe Safira. Safira menyandarkan kepalanya, lalu mengecek beberapa pesan yang masuk di Hpnya. Ada 5 pesan baru dari Alisha, sahabat baiknya dan juga sahabat gesrek Safira.
Alisha dan Safira sudah bersahabat sejak keduanya duduk di bangku SMA. Bisa dibilang, Alisha adalah orang yang paling mengerti apa yang Safira rasakan dan juga inginkan. Dulu, Alisha selalu menjadi orang terdepan jika Safira memiliki masalah, begitu pula Safira. Ia selalu ada jika Alisha membutuhkan bantuannya.
15 menit kemudian. Taksi itu kini terparkir di depan sebuah kafe yang terletak di pinggir jalan. Safira keluar lalu menyerahkan uang sebagai alat pembayaran pada sang supir.
"Tidak apa, Pak. Ambillah kembaliannya," ucap Safira lalu berjalan masuk ke dalam kafenya.
"Jubaedah...." teriak seorang wanita saat Safira masuk ke dalam dapur kafe.
"Jubaedah? Siapa yang kau panggil seperti itu?!" tanya Safira sambil menatap bingung Alisha, lalu menatap sekitar, tidak ada seorang pun kecuali dirinya dan Alisha.
"Siapa lagi kalau bukan kamu, Sa."
"Ya, Tuhan...kau selalu memanggilku dengan nama yang entah siapa pemiliknya. Namaku SAFIRA! Buka Julaiha! Dan Juga bukan Jubaedah!" gerutu Safira, lalu memutar bola matanya malas saat melihat senyuman mengejek di wajah Alisha.
"Hahahaha, Sasa yang cantik, baik hati, tidak sombong, jangan marah, ya? Aku hanya rindu padamu." Alisha kembali tersenyum lalu menarik tangan Safira dan meminta wanita itu duduk di kursi plastik berwarna biru muda.
"Ibu Boss mau minum apa? Jus jeruk? Es teh? Atau es susu?" tawar Alisha sambil tersenyum.
"Air putih saja."
"Apa! Aku menawarkan semua minuman favoritmu, tapi kamu malah memilih air putih saja!" ucap Alisha kesal.
Wanita itu berjalan mendekati kulkas dan mengambilkan satu botol air mineral untuk sahabat sekaligus Bossnya itu.
"Kenapa wajahmu terlihat seperti itu, Sa? Apa kamu lelah setelah bergulatan hebat semalam?" tanya Alisha sambil tersenyum tanpa dosa.
Bugh. Safira memukul kepala Alisha menggunakan botol air yang ia pegang, lalu menjewer telinga wanita itu keras.
"Ada apa dengan otakmu, Al! Dulu kau tidak seperti ini!"
"Tidak ada apa-apa. Ini hanya efek membaca novel online saja," jawab Alisha santai.
"Apa yang kau baca! Jangan-jangan..."
"Bukan! Aku tidak membaca yang tidak-tidak! Hanya membaca beberapa bab yang ada tanda 21 plus-nya saja," jawab Alisha dan lagi-lagi langsung mendapat pukulan ringan dari Safira.
"Kau ini!"
"Hiks, lagi pula, aku sudah besar, jadi tidak apa-apa kan?"
"Dan sebenarnya, kamu ke sini untuk memukulku atau untuk melihat perkembangan kafe-mu?" lanjut Alisha mengalihkan pembicaraan.
Sementara Alisha, wanita itu tersenyum penuh kemenangan lalu menyusul langkah Safira menuju kasir.
"Tidak apa, ini sudah termasuk maju dari bulan kemarin. Dan untuk hari kamisnya, lakukan seperti biasa tanpa menunggu perintah langsung dari diriku," ucap Safira tersenyum manis.
"Mbak, aku izin keluar bersama Ibu Boss dulu, aku akan menggantikanmu nanti malam," pamit Alisha pada rekan kerjanya di bagian dapur.
Kini keduanya berjalan keluar dari kafe dan langsung meluncur menuju sebuah minimarket hanya untuk membeli dua bungkus es krim dan juga beberapa makanan ringan.
"Sa," panggil Alisha saat mereka sudah keluar dan berjalan untuk kembali ke kafe.
"Iya?"
"Apa kamu bahagia setelah menikah dengan Dev?" tanya Alisha lalu menghentikan langkahnya.
"Bahagia? Apa kau tidak bisa melihat kebahagiaan itu di mataku sekarang?"
"Tidak, sama sekali tidak ada kebahagiaan di sana, aku kenal seperti apa kamu, Sa."
"Sudah, Al. Jangan bicarakan di jalan, aku tidak enak jika dilihat banyak orang seperti ini," jawab Safira lalu menarik tangan Alisha dan bergegas kembali ke kafe.
Setibanya di kafe, Safira langsung mengajak Alisha menuju ruang pribadinya. Ia meminta Alisha untuk duduk lalu ikut menyusul dan mulai menceritakan semuanya pada Alisha.
"Tunggu, Sa. Kamu tau? Kisah cintamu mirip dengan kisah cinta yang kubaca di novel-novel online," potong Alisha saat Safira menceritakan tentang dirinya dan Dev.
"Apa?! Kau jangan mulai lagi! Aku sedang serius sekarang!"
"Tidak, ini memang mirip. Awalnya benci tapi lama-lama jadi cinta, memang begitu alur ceritanya," jawab Alisha lalu tersenyum tanpa dosa.
"Alishaa! Aku menyesal bicara denganmu! Bukannya memberi dukungan..."
"Semangat...Semangat..." Teriak Alisha tiba-tiba.
"Aku mendukungmu...Se-ma-ngat!" lanjutnya lalu kembali tersenyum jahil.
"Dasar Jubaedah!" gerutu Safira kesal.
"Kamu tau siapa Jubaedah?"
"Tidak, dan aku tidak ingin tau siapa dia," jawab Safira yang sudah mulai kesal dengan tingkah Alisha.
"Itu, loh. Orgil yang suka duduk di dekat taman kota, namanya Jubaedah," ucap Alisha lalu tertawa renyah.
"Kau!" Safira bangkit lalu dengan cepat menindih tubuh Alisha dan menutup wajah wanita itu menggunakan bantal.
"Sa, kau ingin membunuhku?" teriak Alisha yang mulai kesulitan bernafas.
"Ish, untung saja kau sahabatku! Jika tidak, habis kau kumakan sekarang juga!"
"Dasar karnibal!" celoteh Alisha lalu merapikan rambutnya yang berantakan karena ulah Safira.
"Biarin, dari pada friendivora."
"Apa itu?" tanya Alisha bingung.
"Sejenis pemakan teman. Atau lebih tepatnya, teman makan teman." Safira bangkit lalu berjalan keluar dari ruangannya.
"Awas, Al. Dibelakangmu! Ada nenek gayung," teriaknya lalu mengunci pintu dari luar. Sementara Alisha yang masih di dalam ruangan terus berteriak-teriak ketakutan.
'Hahahaha, setidaknya ini bisa menghibur hatiku yang selalu tersakiti, hiks, malangnya nasibku.' Batin Safira mengasihi nasibnya sendiri.