Devano Pranata Yoga

Devano Pranata Yoga
Nenek Gayung



Safira membuka pintu utama, dan langsung melangkah menuju kamarnya untuk berganti baju, dengan baju biasa.


Usai berganti baju, Safira langsung melangkah menuju dapur. Ia berpikir sejenak, sebenarnya hari masih terlalu siang untuk memasak menu makan malam sekarang, pikir Safira.


"Ah, lebih baik aku ke ruang setrika dulu, setelah semua selesai, baru aku memasak untuk makan malam nanti," gumam Safira lalu melangkah keluar dari dapur.


Safira duduk di depan meja setrika, jujur saja, ia memang sering menyetrika baju sendiri. Namun, Safira selalu merasa kurang puas dengan hasil setrikaannya.


"Hemm, puas-puasin saja, Sa. Daripada nggak dikerjain sama sekali," ucapnya pada dirinya sendiri.


☆ ☆ ☆


Jam sudah menunjukkan pukul 5 sore. Pintu utama kembali terbuka. Kini yang pulang adalah Dev dan Jimmy. Dev sekilas melirik ke arah dapur, kosong, tidak ada siapapun di sana.


Pria itu pun mengalihkan pandangan menuju kamar Safira, seperti wanita itu tidak ada di sana juga.


"Tuan, apa anda mencari Nona Safira?" tanya Jimmy hati-hati.


"Tidak, aku tidak mencarinya," jawab Dev yang masih gengsi mengakui yang sebenarnya.


"Hmmm, kukira anda mencarinya." Jimmy duduk di meja kerjanya lalu memutar rekaman CCTV rumah ini.


"Jika anda mencari Nona, dia sedang tertidur di ruang setrika, sepertinya dia sangat kelelahan hari ini," lanjut Jimmy memberi tahu.


"Dari mana kau tau?!" Dev menoleh ke arah Jimmy lalu tersenyum miring ketika melihat rekaman CCTV di ruang setrika.


'Ah, ingin sekali aku mengerjainya.' Batin Dev berniat buruk.


Dev melangkah menuju ruang setrika lalu masuk dengan mengendap-endap ke dalam sana. Ia melirik sekitar ruangan, memikirkan bagaimana caranya yang seru untuk mengerjai Safira.


Dev mencolet bahu Safira dua kali, wanita itu menggeliat, lalu kembali larut dalam tidurnya. Dev kembali mencolet bahu Safira, lalu meniup leher wanita itu berulang kali.


"Nenek gayung? Apa dia mengikuti sampai di sini?" gumam Safira lalu berlari keluar dari ruangan itu.


Sementara Dev, pria itu memegangi perutnya yang terasa sakit akibat tertawa sejak kepergian Safira.


"Hahahaha, gadis penakut!" ucapnya lalu menyeka butiran bening yang keluar dari sudut matanya. Kali ini air mata Dev keluar bukan karena bersedih, akan tetapi karena terlalu larut dalam tawanya tadi.


''Sepertinya akan ada senyum dan tawa yang akan terus terlihat di rumah ini," gumam Jimmy yang masih setia menonton rekaman CCTV ruang setrika.


Usai puas tertawa, Dev langsung keluar dari ruangan itu, dan berjalan menaiki tangga. Ia berhenti sejenak lalu mengerutkan dahinya saat mendengar teriak Safira dari kamarnya. Wanita itu berteriak-riak meminta tolong pada Ibu dan Ayahnya, sepertinya Nenek Gayung benar-benar mengunjunginya sekarang.


☆ ☆ ☆


"Kak Dev?" panggil Safira saat Dev hendak keluar dari dapur, setelah ia menghabiskan makan malamnya.


"Hmmm, ada apa?" tanya Dev sambil berusaha menahan tawanya.


"Aku, aku ingin bertanya." Safira diam sejenak. "Apa hantu itu benar-benar ada?" tanyanya dengan wajah yang begitu polos.


Dev kembali memegangi perutnya lalu membungkam mulutnya agar tidak tertawa di depan Safira.


"Khemm," ucapnya berdehem, dan langsung mengembalikan wajahnya pada settingan awal.


"Iya, mereka memang ada. Dan kau tau." Dev diam lalu melangkah mendekati pintu dapur. "Di dapur inilah tempat berkumpul mereka," ucapnya lalu melangkah meninggalkan Safira begitu saja.


"Kak Dev!" teriak Safira. Wanita itu berlari mendekati meja kerja Jimmy, lalu memaksa pria itu untuk menemaninya di dapur.


"Ada-ada saja," gumam Jimmy yang kini duduk di meja makan, dengan mata dan tangan yang terpokus pada laptopnya. Ia dengan sabar menemani Safira yang masih mencuci piring dan juga membersihkan dapur, sampai wanita itu selesai dengan urusan dapurnya.