
Pretty dan Agnes saling menatap satu sama lain, kedua gadis itu sedang mengamati ekspresi wajah Davin. Wajah datar dengan tatapan yang lurus ke depan.
Agnes memegang pundak Davin. Davin diam, ia tidak merespon apapun, membuat Pretty ikut memegang pundaknya dan menepuk-nepuk pundak Davin dengan pelan.
"Kau kenapa, apa ada masalah?" tanya Agnes. Sementara yang ditanya masih diam seribu bahasa.
"Davina?" Pretty menyentuh punggung tangan Davin, membuat Davin langsung menoleh ke arahnya.
"Kau punya masalah? Ceritalah, kami akan menjadi pendengar setiamu," ucap Pretty tersenyum.
Davin berpikir sejenak, ia pun menarik nafasnya sambil menatap Agnes dan Pretty bergantian.
"Apakah kalian pernah jatuh cinta?" tanya Davin dengan wajah yang masih datar.
"Aku pernah, tapi saat SMA," jawab Pretty. Sementara Agnes diam, mungkin dia tidak pernah jatuh cinta.
"Bagaimana denganmu?" tanya Davin pada Agnes.
"Aku?" Agnes menunjuk dirinya sendiri. "Aku pernah jatuh cinta dan langsung terluka," lanjutnya dengan wajah yang mulai tertunduk.
"Dia, dia meninggalkanku, dan lebih memilih menikahi sahabatku," imbuh Agnes. Gadis itu kembali mengangkat wajahnya, menatap ke arah Davina.
"Apakah kau sedang jatuh cinta?" tanya Agnes. Davin diam, matanya tetap menatap lurus ke depan.
"Ayah dan Ibu tidak mengizinkanku untuk itu," jawab Davin sambil mengalihkan pandangannya pada Pretty.
"Aku bahkan baru merasakan hal itu sekarang, selama ini, aku tidak pernah merasa tertarik pada seorang pria. Tapi dia, dia membuatku terbang hanya dengan senyum manis dibibirnya," lanjut Davin. Seketika ia tersenyum saat bayangan Henry muncul di kepalanya.
"Dia? Siapa pria itu?" tanya Pretty dan Agnes bersamaan.
"Rahasia!" jawab Davin dengan senyum tipis menghiasi bibirnya.
"Pelit!" ucap Agnes mencibik.
Suasana hening beberapa saat. Sampai ketiga gadis itu tidak menyadari pria yang kini berdiri di belakang mereka.
"Hai! Boleh aku bergabung dengan kalian?" tanya Henry tersenyum. Henry memang sudah membuntuti mereka dari kampus sampai ke lesehan ini.
Davin membalik tubuhnya lalu menatap Henry dengan tatapan datar. Bukannya Davin tidak bahagia, hanya saja, ia tidak ingin terjadi sesuatu pada Henry nantinya.
"Davin? Apakah aku boleh bergabung?" tanya Henry lagi. Davin hanya mengangguk tanpa menatap ke arah pria itu.
Henry pun menundukkan dirinya di hadapan ketiga gadis itu. Agnes dan Davin kembali pada wajah datar mereka. Sementara Pretty, gadis itu hanya bisa tersenyum tipis pada Henry.
Suasana kembali hening, membuat Henry ikut menatap datar para gadis di hadapannya. Henry menatap Davin tanpa berkedip, sungguh, ia tidak pernah merasakan jantungnya berdebar seperti ini sebelumnya.
Davin yang sadar akan tatapan Henry pun langsung mengalihkan wajahnya, ia memilih untuk menundukkan kepalanya dan mulai fokus pada Hpnya.
"Oh, ya, aku belum mengenal kalian berdua. Siapa nama kalian?" tanya Henry pada Agnes dan juga Pretty.
"Nama saya Pretty, Om," jawab Pretty tersenyum. Sementara Agnes masih menatap Henry dengan tatapan yang begitu rumit.
"Kalau kamu?" tanya Henry sambil membalas tatapan Agnes.
"Tidak perlu dan tidak penting!" jawab gadis itu dengan nada yang begitu ditekankan. Sepertinya Agnes memang tidak menyukai Henry sejak awal.
"Boleh kita berteman?" Henry tersenyum lalu mengulurkan tangannya pada Davin. Davin berpikir sejenak.
"Apakah Om tidak takut jika berteman dengan kami?" tanya Davin. Henry pun mengerutkan dahinya bingung.
"Kami ini pembunuh berdarah, kami akan membunuh siapa saja yang mengganggu hidup kami. Kami akan memenggal kepalanya, mencingcang tubuhnya menjadi kecil, sekecil kecilnya," sahut Agnes dengan ekspresi wajah yang begitu mengerikan.
"Kami juga kanibal, loh," imbuh Davin dengan senyum tipis di wajahnya.
Henry diam sejenak, pria itu menelan ludahnya dengan susah payah, sambil mengamati wajah ketiga gadis di depannya.
"Hahahaha, kalian ada-ada saja," ucap Henry sambil menahan tawanya.
"Aku tidak percaya, aku yakin kalian gadis-gadis yang baik hati, dan tidak memiliki sifat seperti yang kalian katakan tadi," lanjut Henry tersenyum.
"Terserah, Om. Percaya atau tidak, kami tidak memaksa." Kini Pretty yang angkat bicara, membuat Henry kembali menelan ludahnya yang terasa begitu sulit untuk ditelan.
"Aku tidak perduli! Intinya, aku ingin berteman dengan kalian!" jawab Henry. Henry pun membuka akun Instagram-nya lalu menanyakan apa nama akun dari ketiga gadis itu.
"Tunggu dulu, Om!" ucap Agnes. Gadis itu menatap Henry dengan lekat, lalu memperkirakan berapa usia Henry sekarang.
"Kenapa Om ingin berteman dengan kami? Jangan-jangan...." Agnes diam sejenak.
"Om ini bujang lapuk, ya?" lanjutnya sambil menahan tawa.
Davin dan Pretty pun langsung menoleh ke arah Agnes. Tidak biasanya gadis itu berbicara seperti itu, dan tidak biasanya ia akan terlihat seceria itu.
'Apakah Agnes memiliki rasa yang sama dengan apa yang kurasakan pada Om Henry?' Batin Davin bertanya.
'Gadis aneh, tadi galak, dan sekarang sudah berubah begitu saja!' Batin Henry sambil menatap Agnes yang masih menahan tawanya.
"Huh, dasar Om-Om!" gerutu Agnes lalu meminum jus jeruknya.
Henry tidak merespon apapun, ia memilih untuk tidak terlalu mengambil pusing pada teman-teman Davin, karena bukan mereka yang dia inginkan, melainkan hanya Davin seorang.
* * *
Setengah jam kemudian.
Davin, Agnes dan Pretty sudah bubar, dan pulang ke rumah mereka masing-masing. Berbeda dengan Henry, ia masih diam di lesehan itu, ada beberapa urusan yang harus ia selesaikan di sana.
Davin turun dari motornya, lalu berjalan sambil bersenandung ria, mendekati pintu utama. Ia membuka pintu, melangkahkan kakinya mendekati tangga.
"Kemana saja? Kenapa baru pulang sekarang?" tanya Jessica, membuat Davin langsung menghentikan langkahnya.
"Maaf, Bu. Davin lupa untuk meminta izin keluar," jawab Davin tertunduk.
"Jangan ulangi lagi! Dan sebaiknya, kau dengar apa yang Ayah dan Ibu larang! Jangan melanggarnya lagi!" tegas Jessica. Davin pun hanya menganggukkan kepalanya, lalu melanjutkan langkahnya menaiki tangga.
'Kenapa serumit ini?! Kenapa aku harus mematuhi semua peraturan ini?! Peraturan yang membuatku kesulitan untuk berinteraksi dengan orang lain!' Batin Davin berteriak.
Davin membuka pintu kamarnya, membanting tubuhnya ke atas kasur.
"Aku benci posisi ini....." teriak Davin. Gadis itu merasa terikat, bahkan terjerat oleh semua peraturan yang hanya berlaku pada dirinya sendiri. Karena dialah satu-satunya gadis yang tinggal di rumah ini, maka hanya dialah yang diharuskan mematuhi peraturan untuk seorang gadis di rumah ini. Peraturan yang sudah berlaku sejak zaman Kamila dulu.