
Safira berlari menuju taman samping untuk mengangkat jemurannya. Ia sesekali berteriak heboh saat rintikkan air hujan jatuh di atas kepalanya. Wanita itu kembali berlari dengan tangan membawa sekeranjang baju bersih menuju ruang setrika.
"Pasti hujan ini akan berlanjut sampai malam," gumam Safira lalu menutup semua jendela yang terbuka.
Setelah semua jendela dan pintu tertutup, Safira kembali melangkah menuju kamarnya. Namun langkahnya terhenti saat melihat seorang pria yang tidak lain adalah Dev. Dev berdiri tidak jauh dari pintu kamar Safira, entah apa yang pria itu inginkan sekarang.
"Ada apa, Kak?"
"Tolong buatkan mie instan untukku," jawab Dev masih dengan nada sedikit dingin.
"Mie instan?" tanya Safira memperjelas.
"Hmmm." Pria itu berjalan menuju dapur terlebih dahulu. Sedangkan Safira masih mematung di tempatnya.
"Khemm!"
Safira langsung tersentak kaget, lalu berjalan menyusul Dev menuju dapur. Safira membuka sebuah laci dan mengambil dua bungkus mie instan yang ia beli di minimarket beberapa hari yang lalu.
"Kak Dev mau rasa apa? Soto atau kari ayam?" tanya Safira sambil memperlihatkan dua bungkus mie yang ia pegang.
"Soto," jawab Dev lalu kembali sibuk pada Hpnya.
Safira mengangguk dan langsung memasukkan mie instan rasa kari ayam itu ke dalam laci. Setelah itu, Safira menyiapkan air untuk merebus mie pesanan Dev.
5 menit kemudian. Mie instan rasa soto kini tersaji di depan Dev, lengkap dengan telur dan juga beberapa potong sosis di dalamnya.
"Kau? Kau tidak mau?" tanya Dev. Safira menggeleng lalu tersenyum samar.
Dev ingin bertanya lagi, namun rasa gengsinya kembali muncul dan Dev pun menggurungkan niatnya.
'Kukira orang kaya seperti Kak Dev tidak suka makan mie instan. Tapi nyatanya tidak, dia bahkan terlihat sangat menyukainya." Batin Safira sambil menatap ke arah Dev.
Uhuk....Uhuk....
"Kak, minum," ucap Safira sambil menyodorkon segelas air putih pada Dev. Tangannya juga spontan mengelus punggung pria itu.
Pria itu sedikit menoleh ke arah Safira yang berdiri di sampingnya, dan juga masih mengelus punggungnya.
"Singkirkan tanganmu!" ucap Dev secara tiba-tiba.
Safira langsung tertunduk dan memindahkan tangannya agar tidak menyentuh punggung Dev lagi. Ia berjalan mendekati kulkas, lalu mengambil satu kotak susu coklat di sana.
Berbeda dengan Dev. Pria itu langsung meninggalkan mie-nya yang masih tersisa setengah di atas meja makan. Ia melangkah ke luar dari dapur dan langsung naik menuju kamarnya.
'Sabar, Sa. Mungkin dia tidak bermaksud menyakitimu dengan ucapannya. Kau harus terus sabar, sabar, dan sabar.' Batin Safira.
☆ ☆ ☆
Malam mulai larut, dan hujan masih turun dengan lebat di luar sana. Safira menatap ke arah luar jendela kamarnya, lalu tersenyum menguatkan dirinya sendiri.
Beberapa saat kemudian, Safira tersadar dari lamunannya, saat Hpnya berdering dan entah untuk keberapa kalinya.
"Hallo, Sa. Maaf aku mengganggumu, aku hanya ingin bernanyakan tentang kedatanganmu. Apa kau benar-benar akan datang ke kafe besok? Jika iya, aku akan menunggu sampai kau datang, jika tidak, aku akan izin untuk menemuimu ke rumah."
"Iya, Al. Aku pasti datang, kau tenang saja, aku akan usahakan untuk datang, bagaimana pun caranya," jawab Safira lalu menghembuskan nafasnya pelan.
"Sa."
"Iya, apalagi?"
"Di sana hujan tidak?"
"Hujan, memang kenapa?" Safira sedikit mengerutkan dahinya.
"Kau tidak sedang berhangat dengan suamimu, kan? Hehe, maaf jika telpon dariku mengganggu aktivitas kalian."
"Apa? Berhangat?" Safira diam sejenak, otaknya mulai berputar, mencari maksud dari kata 'Berhangat.'
"Alishaa! Awas saja kau besok, ya!" ucapnya sedikit berteriak dan langsung memutuskan sambungan secara sepihak, lalu melempar benda pipih itu ke atas kasurnya.