
Pukul 05.30
Safira keluar dari kamar mandi, dengan tubuh yang masih terbungkus handuk putih lembut selutut. Wanita itu berjalan dengan pelan mendekati lemari baju, berniat untuk mengambil baju gantinya.
"Sa?" panggil Dev yang kini menatap ke arah Safira. Safira terkejut, refleks ia berbalik memunggungi Dev.
Dev bangun dari tidurnya, berjalan mendekati Safira yang masih mematung di depan lemari baju.
"Kenapa? Apa kau malu padaku?" tanya Dev. Pria itu memeluk tubuh Safira, menaruh dagunya pada ceruk leher Safira.
"Kak Dev, aku, aku ingin memakai bajuku," ucap Safira dengan wajah yang sudah memerah.
"Kau melakukan kesalahan lagi!" Dev mempererat pelukannya, membuat jantung Safira kembali berdebar tanpa komandan.
"Maaf, Kak," lirih Safira yang belum sadar akan kesalahan yang Dev maksudkan.
Dev membalik tubuh Safira menghadapnya. Pria itu menatap mata Safira cukup lama, lalu mendaratkan ciuman singkat pada bibir yang masih dingin itu.
"Panggil aku Sayang!" tekan Dev sambil memperbaiki lilitan handuk yang hampir merosot karena ulahnya.
"Ba-baiklah, aku, aku ke kamar mandi dulu, Sa-sayang." Safira langsung berlari menuju kamar mandi, tanpa memperdulikan tatapan jahil dari seorang Devano.
'Ayolah Dev! Cintai dia! Sayangi dia sebagai istrimu!' Batin Dev berbicara pada dirinya sendiri.
10 menit kemudian.
Safira mengeluarkan kepalanya terlebih dahulu. Memastikan kalau Dev tidak sedang berdiri di sekitar lemari baju. Wanita itu keluar, saat tidak melihat siapapun di dalam kamar yang sudah rapi. Mungkin Dev yang merapikannya, pikir Safira.
Safira menatap ke arah meja kerja Dev. Kosong, tidak ada siapapun di sana. Wanita itu pun melangkahkan kakinya menuruni tangga.
"Selamat pagi Kakak Ipar," sapa Davin. Entah apa yang terjadi pada gadis itu, sampai tumben ia bangun sepagi ini.
"Selamat pagi juga, Davin. Mimpi apa semalam?" tanya Safira sambil tersenyum mengejek.
"Hahahaha, Kak Safira dan Kak Dev sama saja. Sama-sama suka menanyakan mimpiku semalam." Davin membalas senyuman Safira, dengan senyuman yang entah, apa mungkin maknanya.
"Selamat pagi, Nona." Kini Jimmy yang menyapa. Safira tersenyum pada pria itu, lalu membalas sapaannya.
"Kak Dev mana, Jimm?" tanya Safira. Jimmy hanya menunjuk dengan ekor matanya ke arah dapur.
"Oh, di sana rupanya," ucap Safira sambil melangkah mendekati dapur. Ia memperhatikan Dev yang dengan hati-hati mengoles selai coklat di atas roti tawarnya.
Safira mendekati Dev, berniat untuk membantu pria itu. Namun Dev, ia malah menahan tangan Safira, lalu menatap Safira sambil menggelengkan kepalanya.
"Duduk manis atau...." Dev menyentuh bibirnya, membuat wajah Safira kembali merona.
Safira pun menjauh dengan langkah yang begitu berat. Ia mendudukkan dirinya di meja makan, menatap Dev yang sedang menyiapkan sarapan untuk semua penghuni rumah ini.
"Kak Dev!" panggil Davin dari ambang pintu dapur. Dev menoleh lalu mengerutkan dahinya, tidak mengerti dengan isyarat yang diberikan oleh Davin.
"Aku mau lari pagi...." Akhirnya, kata-kata itu pun keluar dari mulut Davin, setelah berlatih setengah mati sebelumnya.
"Pergilah! Dan kembali sebelum pukul tujuh tepat!" jawab Dev. Davin pun tersenyum, karena mendapat izin dari sang Kakak.
"Ajak Jimmy juga!" lanjut Dev sedikit berteriak.
"Kak Jimmy?" tanya Davin memastikan.
"Hemm, dia akan menjagamu! Kau itu sangat cantik, jadi Kakak takut jika ada yang mencurimu nanti." Dev menggelengkan kepalanya lalu tertawa kecil.
"Hemm, baiklah. Ayo, Kak Jimm!" Davin menarik lengan Jimmy paksa. Sementara yang ditarik hanya menampakkan ekspresi datar tanpa makna yang jelas di wajahnya.
"Kau mau susu coklat atau vanilla?" tanya Dev pada Safira yang masih tersenyum karena tingkah Jimmy dan Davina.
"Safira!"
"Eh, iya, Kak..." Safira membungkam mulutnya, lalu menatap Dev dengan tatapan yang begitu memelas.
Dev melepas kotak susunya, lalu melangkah mendekati Safira, yang masih menatap Dev sambil membungkam mulutnya.
"Maaf, Sa-sayang, a-aku, aku belum terbiasa," lirih Safira saat Dev menurunkan tangannya yang masih menempel di mulutnya.
"Satu kali, maafkan. Dua kali, maafkan. Tiga kali, aku masih maafkan. Setelah itu, maaf akan diganti dengan ciuman!" ucap Dev tanpa sensor.
"Sekarang jawab, susu coklat atau vanilla?!" lanjutnya bertanya.
"Coklat," jawab Safira tertunduk.
"Coklat berarti cium kening." Dev memegang dagu Safira, sampai wanita itu menatap ke arahnya. Dev tersenyum lalu memberikan kecupan hangat pada kening Safira.
Safira, wanita itu selalu dibuat berdebar oleh semua sikap manis Dev. Tanpa perduli lagi, apakah hal itu tulus dari hati, atau hanya sekedar usaha meluluhkan hati saja.