
03 Desember -
Pukul 05.43
Safira memegangi perutnya, ia membuka matanya. Menatap Dev yang masih tertidur di sebelah kanannya.
"Sayang...." lirih Safira sambil mencengkram kuat lengan Dev.
"Sa.....Sayang....."
Dev langsung terbangun dan langsung menatap Safira yang meringis di sampingnya.
"Kenapa, Sayang?"
"Sa-sakit, Sayang......Hu.....Sakit!"
"Tenanglah, Sayang! Aku akan membawamu ke rumah sakit. Kau tenang, ya!"
Dev mengangkat tubuh Safira, membawa Safira menuruni tangga.
Seorang pengawal dengan sigap membuka pintu utama untuk Dev. Dan Dev langsung melangkah mendekati mobil yang sudah ia siapkan sejak semalam.
Mobil itu pun melaju keluar dari halaman depan. Di ikuti oleh satu mobil pengawal di belakangnya.
"Sayang....." rintih Safira. Safira mencoba untuk tenang. Namun, rasa sakit itu semakin lama semakin membuat dirinya panik dan khawatir pada keadaan bayi mereka.
Dev merengkuh tubuh Safira. Menciumi kening Safira dan menyeka keringat dingin yang mengalir pada pelipis Safira.
"Sebentar lagi, Sayang....Kau yang sabar, ya? Jangan menangis, aku ada di sini untukmu, dan untuknya!"
Dev terus menenangkan dirinya dan juga Safira. Sampai tidak terasa, mereka sudah sampai di rumah sakit. Dev mengangkat tubuh Safira, membawa Safira untuk masuk ke ruangan yang sudah di siapkan sebelumnya.
Safira menggelengkan kepalanya, saat Dev mengelus kepalanya dan terus menenangkan dirinya.
Dev menatap para Dokter, meminta Dokter-Dokter itu untuk segera mengambil tindakan dan membantu istrinya.
"Maaf, Tuan. Ini masih belum waktunya, kita tunggu dulu sampai buka'annya sempurna." Jelas salah seorang Dokter.
Dev pun mengangguk mengerti. Ia menatap Safira, lalu mengajak Safira untuk berbicara, bermaksud agar Safira tidak terlalu fokus pada rasa sakitnya.
* * *
Pukul 06.47
Jessica dan Aldy menaiki mobil yang hendak mengantar mereka menuju rumah sakit. Keduanya terus berdoa, meminta yang terbaik untuk Safira dan juga calon cucunya. Tidak ada yang berbicara satu sama lain saat perjalanan itu.
Jessica segera turun dari mobil, ia menoleh pada Aldy, lalu meraih tangan pria itu, menggenggamnya selama berjalan menelusuri lorong menuju ruang bersalin yang di tempati Safira.
Sementara di dalam ruangan itu mulai terdengar suara tangisan dari bayi perempuan, yang sangat cantik dengan tubuh yang masih merah.
Dev menghembuskan napas lega, sambil menatap Safira yang tersenyum pada putri kecil mereka.
"Terimakasih, Tuhan....Terimakasih atas semua kebahagiaan ini," gumam Dev. Dev mencium seluruh bagian wajah Safira, lalu beralih mengelus pipi merah yang menempel di atas dada Safira.
"Selamat, Tuan, Nyonya. Bayi Anda sangat cantik, sama seperti ibunya," ucap salah seorang dokter. Dokter itu merapikan semua alat bersalin, lalu pamit undur diri pada Dev dan juga Safira.
"Lihatlah, Sayang....Wajahnya begitu tenang dan dipenuhi kedamaian," ucap Dev tersenyum dan dibalas senyum oleh Safira.
* * *
Aldy dan Jessica melangkahkan kaki mereka memasuki ruang rawat Safira, setelah mereka mendapatkan kabar, bahwa Safira sudah dipindahkan bersama putri kecilnya, menuju ruang rawat di lantai atas.
Jessica tersenyum saat melihat Devano yang sedang sibuk memperhatikan wajah Putrinya. Dev bahkan sesekali menciumi pipi merah yang berada di hadapannya itu.
"Sayang." Safira menyentuh lengan Dev, lalu memberi isyarat, bahwa ada orang yang sedang berdiri di belakangnya dan juga tersenyum saat melihat tingkahnya.
"Ibu, Ayah?" Dev bangkit dari duduknya. Ia mendekati Aldy dan juga Jessica. Menciumi punggung tangan keduanya.
"Bolehkah kami melihatnya, Dev?"
"Silahkan, Bu. Ibu tidak perlu meminta izin padaku. Dia juga cucu Ibu."
Jessica menatap putri kecil yang masih memejamkan matanya. Lalu beralih menatap Safira.
"Terimakasih, Sa.....Terimakasih karena sudah bersedia melahirkan cucu untuk kami, kami sangat berterimakasih padamu."
"Ambillah, anggap saja ini ungkapan rasa terimakasih dari Ayah dan juga Ibu." Jessica memberikan sebuah kotak berukuran sedang pada Safira. Dan tersenyum saat Safira menerima pemberiannya.
"Terimakasih, Ayah, Ibu...."
"Sama-sama, Nak."
"Oh, ya, Dev? Apakah kau sudah memberi tahu Ayah dan juga Ibu Safira?" lanjut Jessica bertanya pada Dev yang sibuk dengan Hpnya.
Dev kembali mendekati Safira dan juga Putrinya. Ia menyentuh kepala Safira, lalu menatap Ayah dan juga Ibunya.
"Aku sudah menyiapkan namanya untuknya." Dev tersenyum pada istri dan juga putri kecilnya.
"Zoya."
"Namanya Aneska Zoya Candra."
Aldy dan Jessica tersenyum mendengarnya. Begitu pula dengan Safira, ia menatap Zoya kecil yang masih tidur di dekatnya.
Hari itu menjadi hari yang paling bahagia dalam hidup Dev dan Safira. Hari yang menjadi saksi lahirnya putri mereka. Hari dimana semua orang tersenyum bahagia dan merangkul mereka.
Sungguh, semuanya terasa begitu cepat. Sampai Aldy dan Jessica tidak menyangka, kalau mereka sudah mulai menua dan memiliki seorang cucu sekarang. Bahkan kedua anaknya sudah menemukan kebahagiaan dan jati diri mereka masing-masing.
Jessica menyandarkan kepalanya pada dada Aldy. Ia tersenyum saat melihat kebahagiaan yang terpancar dari mata Devano dan juga Davina.
Davina datang setelah menyelesaikan urusan kuliahnya. Ia sudah tidak sabar untuk segera bertemu dengan keponakan cantiknya, Zoya.
Bagi Davina. Zoya adalah putri kecil yang memiliki begitu banyak keistimewaan. Mulai dari mata dan bibir yang indah, sampai dengan aura positif yang mulai nampak dari senyuman manis pada bibir kecilnya.
* * *
- 2 Februari -
Safira duduk di tepi kasur dengan Zoya yang ada di atas pangkuannya. Safira meletakkan tangan kecil Zoya di atas wajah Ayahnya. Membuat sang Ayah terbangun dari tidurnya.
"Sayang..." Dev mengelus pipi Zoya, lalu beralih mengelus pipi Ibunya.
Cup
Satu kecupan hangat tiba- tiba saja mendarat di atas kening Dev, membuat Dev sedikit terkejut dan juga bingung.
"Selamat ulang tahun, Sayang...."
"Selamat ulang tahun, Ayah....."
"Selamat Ulang Tahun Bayi besarku...."
Dev tersenyum mendengar ucapan Safira. Ia bangun dan langsung melahap habis bibir Safira.
Safira mulai mendorong dada Dev dengan perlahan, sampai Dev menjauhkan diri darinya.
"Ada Zoya! Jangan ulangi lagi!" Tegas Safira sambil menatap Dev yang hanya tersenyum tanpa dosa.
"Zoya? Zoya sayang Ayah, kan?" ucap Dev sambil membawa Zoya ke dalam gendongannya.
"Zoya, Ayah pinjam Ibu, ya? Sebentar saja....." Dev memberikan Zoya pada Safira. Meminta Safira untuk membawa Zoya keluar dan menitipkan Zoya pada Baby Sister-nya. Safira pun membawa Zoya keluar. Namun, ia tidak kembali lagi setelah itu.
Dev yang sudah lama menunggu pun memutuskan keluar dari kamarnya. Ia melangkah mendekati ruang tengah, dan terdiam saat melihat Ayah dan Ibunya ternyata sedang duduk di sana.
"Lihatlah Ayahmu, Zoy! dia baru saja bangun, padahal semua orang sudah menunggu dirinya," sindir Jessica tersenyum tipis.
"Sayang....Kenapa tidak membangunku dari tadi! Dan kenapa tidak memberi tahu kalau ada Ayah dan Ibuku?" bisik Dev sambil mencubit gemas pinggang Safira.
Safira pun pura-pura meringis lalu menatap pada Aldy dan Jessica.
"Dev! Kau apakan Safira?!"
"Aku tidak melakukan apa-apa, aku hanya mencubit pinggangnya. Seperti ini." Dev mengulanginya. Ia mencubit pinggang Safira sambil tersenyum mengejek istrinya itu.
"Sudah-Sudah! Sekarang bersihkan dirimu, Dev! Ibu dan Ayah datang untuk menjemput kalian, dan mengajak kalian ke suatu tempat!''
"Hehe, bagaimana jika Ibu, Ayah dan Zoya saja yang pergi? Aku ingin berdua dengan Safira? Bagaimana?"
Bugh
Satu pukulan ringan mendarat di lengan Dev. Safira menyeret paksa tubuh Dev, meminta Dev untuk segera masuk ke kamar dan membersihkan dirinya.
* * *
Hari itu, Dev merayakan ulang tahunnya yang ke- 26 tahun di Villa Kamboja, bersama Zoya dan juga Safira.
Di acara ulang tahun itu, semua keluarga besar Yoga Candra dan Can Candra berkumpul kembali. Dan di hari itu juga, Davina mengenalkan Henry pada semuanya. Semua orang menyukai Henry dan tidak pernah mempermasalahkan latar belakang dan usia Henry.
Dan di hari itu juga, Nathan berbicara dan menceritakan semuanya pada Ken dan juga Keisha. Nathan hanya diam saat mendapatkan pukulan dari sang Papa. Nathan sadar. Ia juga salah karena tidak pernah mendengar larangan Papanya, agar tidak bergaul dan berteman dengan sembarang orang.
Begitu banyak yang terjadi pada tanggal 2 Februari itu. Namun, apapun yang terjadi saat itu dan yang akan datang, sudah diatur terlebih dahulu oleh-Nya. Kita hanya menjalankan skenario Indah yang tertulis dalam takdir kita❤
"Aku mencintaimu, mencintai apapun yang ada padamu. Baik buruknya dirimu, aku akan selalu menerima itu, dan aku berjanji untuk selalu menemani langkahmu, kemana pun kau pergi, aku akan selalu ada di sampingmu. Hanya ada aku, kau dan anak kita."
~ Devano Pranata Yoga ~