
Safira menatap bunga-bunga yang baru saja ia siram, lalu tangannya bergerak menyentuh bunga-bunga yang begitu memanjakan mata itu.
"Nona?" Sapa Jimmy yang baru saja datang, dan berdiri di belakang Safira.
"Eh, kau! Kukira siapa," jawab Safira sedikit terkejut.
"Bagaimana keadaan Tuan Muda Dev? Apa sudah lebih baik? Atau perlu kupanggilkan Dokter?"
"Sepertinya sudah lebih baik, Jimm. Begitu kata Bibi Laras," jawab Safira lalu menggulung selang yang tadi ia gunakan untuk menyiram bunga.
Jimmy hanya mengangguk tak jelas lalu berjalan menuju pintu utama, meninggalkan Safira yang masih sibuk dengan selangnya.
'Huh, perlu kesabaran yang dalam untuk menghadapi sikap Kak Dev. Tapi tidak apa, aku yakin, Tuhan akan membantuku, dan memberikan hasil yang setimpal dengan semua usaha yang telah kulakukan.' batin Safira menyemangati dirinya sendiri.
Usai menyiram bunga dan menyapu halaman, Safira pun kembali masuk ke dalam rumah untuk mencuci beberapa pakaian yang ia rendam tadi malam.
"Nona, maaf, saya harus kembali ke rumah utama. Ada beberapa hal yang harus saya lakukan dan selesaikan di sana," pamit Laras pada Safira.
"Bi-Bibi," panggil Safira. Laras berhenti lalu menoleh ke arah Safira.
"Apa Bibi tidak akan kembali lagi?"
Laras tidak menjawab, ia tau apa yang sedang Safira rasakan sekarang. Tapi mau bagaimana lagi, ini semua sudah termasuk rencana, dan sekaligus permintaan Aldy dan Jessica.
"Nona, saya yakin, Nona pasti bisa," ucapnya lalu melangkah mendekati pintu utama.
"Titip Tuan Muda Dev," ucap Jimmy yang berjalan di belakang Laras. "Saya akan mengantar Bibi Laras terlebih dahulu," lanjutnya lalu menutup pintu utama.
Kini Safira dan Dev hanya berdua di rumah itu. Bedanya, Safira di lantai dasar, sementara Dev masih setia di dalam kamarnya, yang terletak di lantai dua.
"Tenang, Sa. Tidak akan terjadi apapun padamu. Kak Dev memang sering membentak, tapi dia bukan tipe pria yang suka main tangan," ucap Safira lalu melangkah menuju ruang cuci sekaligus ruang setrika baju.
30 menit kemudian, Safira keluar setelah selesai mencuci semua pakaiannya. Ia melangkah menuju taman samping untuk menjemur semua pakaiannya, lalu kembali masuk ke dalam ruangan tadi untuk melipat semua baju-baju yang sudah kering.
"Jimm!"
Terdengar teriakan Dev yang sedang memanggil dan mencari Jimmy. Sepertinya Jimmy belum memberi tahu kalau dirinya akan pergi ke kediaman keluarga Pranata.
Dev menatap semua ruangan. Kosong, tidak ada siapapun di dapur atau di tempat kerja Jimmy. Ia pun menoleh ke arah kamar Safira yang tertutup rapat, lalu berjalan ke arah ruang setrika.
Dev mengintip melalui celah pintu yang sedikit terbuka. Ia tersenyum tipis saat melihat Safira sedang sibuk dengan pakaiannya.
'Apa selama ini aku terlalu kasar padanya?' Batin Dev bertanya.
Hacih...
Safira menoleh ke arah pintu, lalu mengerutkan dahinya bingung.
"Siapa yang bersin? Apa aku salah dengar atau..." Safira bangun lalu melangkah mendekati pintu. Sementara Dev, pria itu sudah berlari tanpa suara menuju dapur, dan pura-pura membuka pintu kulkas di sana.
"Tidak ada orang." Safira menoleh ke arah dapur. "Kak Dev? Apa yang dia lakukan di sana?" gumam Safira lalu melangkah menuju dapur.
"Kak Dev? Apa Kakak ingin sesuatu?" tanya Safira. Wanita itu berdiri di belakang Dev yang masih berjongkok di depan kulkas. Entah apa yang pria itu sedang lakukan di sana.
"Tidak. Aku hanya mencari buah," ucap Dev sok dingin. Ia berdiri setelah mengambil dua buah apel merah, lalu melangkah ke luar dari dapur.
'Bodoh! Kenapa kau jadi bertingkah sebodoh ini Dev!' Batin Dev mengutuki kebodohannya sendiri.
"Aneh," gumam Safira lalu kembali masuk untuk melanjutkan pekerjaannya yang tertunda.
☆ ☆ ☆
Pukul 11 siang.
Safira kini sudah sibuk di dapur karena ia harus menyiapkan makan siang untuk dirinya dan juga untuk Dev. Safira sesekali melirik Dev yang sedang duduk di meja kerja Jimmy, lalu kembali fokus pada masakannya jika Dev juga melirik ke arahnya.
"Kak Dev?" panggil Safira dengan kepala tertunduk.
"Hmmm."
"Emm, besok." Safira diam sejenak. "Besok aku ingin pergi ke kafe..."
"Hmmm. Pergilah! Dan jangan ganggu aku lagi," potong Dev yang masih fokus pada laptop Jimmy.
"Setiap hari, boleh?" tanya Safira dengan nada yang penuh harap.
"Hmmm, pergi saja, jika perlu, jangan kembali lagi."
'Astaga, kenapa seperti ini?' Batin Safira.
"Baiklah, terimakasih atas izinnya." Safira berusaha tersenyum lalu melangkah menuju kamarnya.
"Tunggu dulu, tadi dia bilang apa? Terimakasih atas izinnya? Apa dia akan benar-benar pergi dan tidak akan kembali lagi?" gumam Dev. Pria itu memutar tubuhnya lalu menatap kamar Safira.
Cukup lama, Safira pun keluar dengan baju yang berbeda, terlihat sekali, wanita itu baru saja selesai mandi dan berganti baju.
''Kupikir dia sedang mengemas semua barangnya, dan benar-benar pergi dari rumah ini," gumam Dev.
'Tunggu, apa yang terjadi padamu, Dev? Kenapa kau takut Safira pergi meninggalkanmu?' lanjut Dev dalam hatinya. Pria itu kembali fokus pada laptopnya saat menyadari ada mata yang akan menatap ke arahnya.
"Kak Dev, makan siangnya?" ucap Safira yang kini berjalan menuju dapur.
"Kau duluan saja, dan jangan menungguku!" jawab Dev jual mahal.
"Baiklah."
Safira kembali melirik Dev, memastikan kalau pria itu benar-benar menyuruhnya makan terlebih dahulu.
"Cukup, Sa! Jangan terlalu berharap padanya!" gumam Safira lalu mengambil posisi duduk di meja makan. Dan langsung memulai makan siangnya, tanpa menunggu Dev, sesuai dengan apa yang dikatakan pria itu tadi.
☆ ☆ ☆
Usai makan siang, kini Safira masih sibuk mencuci beberapa piring dan gelas. Sementara Dev, ia baru saja duduk di meja makan dan memulai makan siangnya.
Dev melirik Safira sekilas, wanita itu benar-benar sabar, buktinya, ia tetap tersenyum dan bersenandung ria, walau Dev selalu membentak atau bersikap dingin padanya.
Beberapa saat kemudian, Safira sudah selesai dengan semua urusan dapurnya. Ia menatap Dev, lalu menghembuskan nafasnya pelan.
"Kau mau kemana?" tanya Dev saat mendengar langkah Safira yang berjalan menjauh darinya.
"Ke, ke kamar," jawab Safira. Ia berhenti sejenak lalu kembali melangkah mendekati pintu dapur.
"Temani aku makan." Dev melepas sendoknya, lalu diam dengan rasa kesal pada dirinya sendiri. Dev sedang mengutuki kebodohan mulutnya yang sudah menjatuhkan harga dirinya sebagai pria dingin.
Sedangkan Safira, wanita itu membalik tubuhnya menghadap Dev. 'Ah, mungkin kau salah dengar, Sa. Tidak mungkin Kak Dev mengatakan itu padamu.' Batin Safira ragu.
"Kau tidak mendengarku?!" ucap Dev setelah suasana hening cukup lama.
"Eh, baiklah." Safira melangkah dengan canggung mendekati meja makan, lalu duduk tepat di hadapan Dev.
Dev masih dengan ekspresi wajah datarnya. Pria itu kembali mengambil sendoknya lalu melahap makan siang yang terasa lebih nikmat itu.
'Ini mimpi atau nyata?.' batin Safira bertanya-tanya. Safira mencubit sedikit punggung tangannya cukup keras, sampai dirinya berteriak kesakitan.
'Ah, ini bukan mimpi.' ucapnya dalam hati, lalu menundukkan kepalanya saat mata Dev menatap ke arahnya.
Dev kembali melanjutkan makannya, walau sebenarnya ia ingin bertanya, sebenarnya apa yang terjadi sampai wanita di depannya itu berteriak seperti itu. Namun, rasa gengsi juga membuat Dev semakin mengurungkan niatnya untuk bertanya, sampai makan siang selesai dan mereka kembali masuk ke dalam kamar mereka masing-masing.