Devano Pranata Yoga

Devano Pranata Yoga
Devano & Safira (5)



"Sa, bangunlah. Aku sudah menyiapkan air untukmu," ucap Dev sambil mengelus lembut pipi Safira. Cukup lama, Safira akhirnya membuka matanya dan tersenyum saat mendapati wajah tampan yang tengah menatap ke arahnya.


"Mandi, kau pasti sangat tidak nyaman sekarang," ucap Dev sambil mengangkat tubuh Safira menuju kamar mandi.


"Panggil aku setelah selesai," ucap Dev setelah menurunkan Safira di dalam bak mandi yang sudah ia isi dengan air hangat. Dev melangkah ke luar dari kamar mandi, ia pun membuka sprei, menggantinya dengan yang baru.


30 menit kemudian.


Dev kembali mendekati pintu kamar mandi. Membuka pintu yang memang ia tidak kunci tadi.


"Kenapa tidak memanggilku?" tanya Dev pada Safira yang tengah mematung di dekat bak mandi.


"Aku..." belum sempat Safira menyelesaikan ucapannya, Dev sudah terlebih dahulu menggendong tubuhnya keluar dari kamar mandi.


"Tetaplah di kamar, jangan kemana-mana! Aku akan membuatkan sarapan untukmu," ucap Dev lalu beranjak keluar dari kamar, menuruni tangga, menuju dapur.


"Selamat pagi, Kak Dev," sapa Davin dengan senyum yang begitu ceria, tidak seperti hari-hari sebelumnya.


"Selamat pagi juga, tumben? Mimpi apa semalam?" ucap Dev sambil mengajak rambut Davin.


"Tidak mimpi apa-apa. Emm, Kak Safira mana? Tidak biasanya dia belum...."


"Dia sakit," potong Dev lalu berjalan menuju dapur.


"Sakit apa?! Apa yang Kak Dev lakukan pada Kak Safira?!" tanya Davin sambil membuntuti Dev menuju dapur.


"Tidak melakukan apa-apa. Sekarang diam dan jangan banyak tanya! Sebaiknya bantu aku membuat sarapan untuk Safira!"


"Hiks, untuk Kakak sendiri! Coba orang lain, sudah ku babat habis sampai tidak tersisa sedikit pun!" gumam Davin. Ia pun mendekati Dev, lalu menatap bingung pria itu.


"Kau tau, tidak? Makan favorit Safira?" tanya Dev sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


"Hemmm, pintar, ya!" Dev merangkul Davin lalu menjepit kepala gadis itu di ketiaknya.


☆ ☆ ☆


Akhirnya, dua gelas susu coklat hangat, dan juga beberapa potong roti bakar terhidang di atas nampan. Dev tersenyum samar lalu membawa nampan itu menaiki tangga, menuju kamarnya.


Sementara Davin, gadis itu sibuk menonton aksi lucu kakaknya saat membuat sarapan untuk dirinya. Ya, Dev juga membuatkan satu porsi nasi goreng untuk Davin, walau rasanya tidak seenak dan seindah bentuknya, tapi Davin tetap menyantap dan menghabiskannya dengan senang hati.


Dev membuka pintu kamar dengan perlahan, lalu meletakkan nampan tadi di atas meja kecil, di samping kasur.


"Kak Dev? Siapa yang membuat ini?" tanya Safira sambil menatap nampan yang berisi dua gelas susu hangat dan juga beberapa potong roti bakar.


"Aku." Dev duduk di tepi kasur. "Apa kau sudah lebih baik?" tanyanya sambil menyelipkan rambut Safira ke belakang telinga.


"Sudah, Kak. Kak Dev tidak pergi ke perusahaan?"


"Tidak, aku akan menemani di sini. Kau pasti akan butuh bantuanku nanti," jawab Dev tersenyum.


"Emm, Kak Dev?"


"Kenapa?" tanya Dev lalu menatap Safira yang kini tertunduk.


"Lukisan...."


"Jangan tanyakan tentang itu, aku sudah menyimpannya, dan akan menggantinya dengan yang lain. Dengan objek yang berbeda," potong Dev.


Safira pun tersenyum mendengar itu, entah mengapa, Safira merasa, bahwa Dev sudah mulai membuka hati untuknya sekarang.


"Sarapannya, jangan sampai lupa! Aku akan menemui Jimmy dulu di bawah" ucap Dev lalu keluar dari kamar itu. Sementara Safira, wanita itu kembali tersenyum lalu menyesap susu coklatnya dengan hati yang berbunga-bunga.