
"Safira?"
Safira mengangkat kepalanya, hingga dirinya dan Dev saling menatap sampai beberapa detik.
"Ini sudah larut! Naiklah! Jika kau sudah selesai dengan semua urusanmu!" ucap Dev lalu beranjak keluar dari ruang tengah.
'Apa aku sedang bermimpi? Kak Dev menciumku? Itu benar-benar Kak Dev, kan? Bukan hantu?' Batin Safira, wanita itu masih belum percaya dengan apa yang terjadi padanya tadi.
Safira menepuk pipinya cukup keras. Sakit! Ternyata dia tidak sedang bermimpi sekarang!
"Aku malu....Aku harus apa sekarang? Tidur di atas lagi?" Safira kembali merona, pipinya benar-benar merah, sudah seperti kepiting rebus saat ini.
"Kak Sa? Belum tidur juga?" tanya Davin dari depan pintu ruangan.
"Ah, ini, aku akan naik untuk tidur. Kau juga tidurlah." Safira tersenyum kaku, lalu keluar dari ruang tengah. Dan langsung naik ke lantai atas.
"Hahahaha, lucu sekali. Tapi tidak apa-apa, kan? Jika menonton Kakak sendiri?" gumam Davin yang memang tidak sengaja melihat adegan tadi.
Sementara di lantai atas. Safira membuka pintu kamar dengan hati-hati, ia menatap sekeliling yang sudah gelap. Mungkin Dev sudah tidur, pikirnya.
"Syukurlah, setidaknya aku tidak malu lagi di hadapan Kak Dev," gumam Safira, sambil merebahkan dirinya di samping Dev. Ia memiringkan tubuhnya, lalu menatap wajah Dev yang tetap terlihat tampan. Walau dalam keadaan kamar yang tidak terang.
"Kenapa? Apa kau ingin mengulangi yang tadi?" ucap Dev, masih dengan mata yang terpejam.
Spontan, Safira langsung membalik tubuhnya, membelakangi Dev. Jantungnya kini berdetak sepuluh kali lebih cepat dari sebelumnya.
'Ya, Tuhan. Ada apa ini? Kenapa jadi seperti ini?!' Batin Safira.
Dev meringsut mendekati Safira lalu memeluk tubuh wanita itu dari belakang, sampai hembusan nafasnya begitu terasa di permukaan kulit Safira.
"Tidurlah! Aku tidak akan melakukan apapun!" ucapnya, lalu mempererat pelukannya.
'Jika kontak fisik bisa menimbulkan rasa sayang dan cinta, maka aku akan mulai melakukannya sekarang.' Batin Dev. Pria itu ternyata sedang mencari cara, bagaimana agar hatinya bisa terbuka untuk Safira.
Sementara Dev, pria itu langsung melepaskan tubuh Safira lalu berlari menuju kamar mandi. Karena bagaimana pun, Dev adalah pria normal, dan posisi tadi cukup memancing hasrat yang selama ini terpendam.
☆ ☆ ☆
Pukul 05.40
Dering dari alarm Hpnya membuat Safira terpaksa membuka matanya yang masih terasa berat. Ia pun mencoba menggeliat, karena tubuhnya terasa begitu kaku sekarang.
"Kak Dev," panggil Safira pelan. Safira kembali menatap ke arah tangan kelar Dev yang masih melingkar memeluk tubuhnya.
Safira memegang tangan Dev, lalu memindahkan tangan itu dan langsung melepaskan dirinya. Belum sempat ia melangkah menjauhi kasur, Dev kembali menarik tangannya, hingga ia terjatuh tepat di atas dada bidang pria itu.
"Berikan satu ciuman untukku, Ra..., Safira!" ucap Dev dan hampir saja memanggil Safira dengan panggilan yang seharusnya untuk Aurora.
Safira menatap wajah pria yang masih memejamkan matanya itu, lalu terkejut saat Dev tiba-tiba saja menarik tengkuknya. Dev mengecup bibir dan kening Safira sekilas. Pria itu pun tersenyum lalu membuka matanya, menatap netra milik Safira.
"Katakan, kau mencintaiku!" pintanya dan lebih tepat lagi, ia sedang memerintahkan Safira sekarang.
"Aku?" Safira menunjukkan dirinya sendiri. Dev pun mengangguk.
"Katakan atau aku akan...."
"Aku, aku me-mencintai, Ka-kak Dev," potong Safira walau masih terbata-bata.
"Gadis pintar." Dev kembali mencium kening Safira, walau sebenarnya ia melakukan semua itu, tidak benar-benar tulus dari hatinya. Hanya sebatas usaha untuk meluluhkan hatinya sendiri.
"Aku, aku akan mandi dan menyiapkan sarapan untuk Kak Dev." Safira turun dari kasur, ia langsung berlari dengan kecepatan kilat, memasuki kamar mandi.
"Maaf, Ra. Aku tau, kau pasti menginginkan hal yang sama seperti apa yang diinginkan oleh Ayah dan Ibuku. Tapi sungguh, melupakanmu adalah hal yang paling sulit dan berat bagiku, aku masih belum bisa, Ra!" gumam Dev sambil menatap lukisan yang masih setia terpajang di dinding kamarnya.