Devano Pranata Yoga

Devano Pranata Yoga
Devano & Safira (6)



Safira meraih Hpnya yang sudah berdering sejak tadi. Ia menatap bingung pada layar Hp yang menampilkan nomor baru di sana.


"Hallo, siapa?" tanya Safira.


"Ini aku, Sa. Kamu tidak mengenal suaraku?"


"Maaf, saya benar-benar tidak tau, ini siapa? Dan ada perlu apa?" Safira mengerutkan dahinya, saat Dev tiba-tiba berdiri di depannya, dan langsung meminta Hpnya.


"Ini, aku Bastian, Sayang....Maaf, maksudku Safira, Hehehe."


"Ngomong-ngomong, kamu apa kabar, Sayang? Hahahaha," tanya Bastian, lalu diakhiri oleh tawa kecilnya.


Dev langsung menggepal tangannya, telinganya benar-benar panas mendengar Bastian memanggil Safira dengan panggilan 'Sayang.'


"Hmmm, kau punya keberanian yang cukup tinggi rupanya! Haruskah aku menghancurkanmu terlebih dahulu, agar kau tidak berani lagi mengganggu istriku!" jawab Dev dengan suara dingin, yang bahkan membuat Safira langsung terdiam seribu bahasa.


"Hahaha, Devano? Bukankah kau tidak mencintai Safira-ku? Lalu...."


"Tutup mulutmu! Dia adalah istriku! Dan masalah cinta atau tidaknya aku! Bukan menjadi urusanmu!" potong Dev lalu memutuskan sambungan secara sepihak. Dev membongkar Hp Safira, mencopot kartu Safira, lalu mematahkannya, menjadi beberapa bagian.


"Akan kuganti dengan yang baru," ucap Dev sambil memasukkan potongan kartu Safira ke dalam saku celananya.


Sementara Safira, wanita itu masih menatap tidak percaya pada Dev. Segitu marahnya kah Dev, sampai Dev mematahkan kartunya?


"Tidak ada yang boleh menghubungimu tanpa sepengetahuanku!" tekan Dev. Dev menyempatkan dirinya mengecup kening Safira, sebelum ia keluar dari kamar.


"Jimm!" panggil Dev pada Jimmy yang masih menyelesaikan beberapa tugasnya. Jimmy menoleh lalu meninggalkan pekerjaannya dan menghampiri Dev.


Dev langsung mengatakan keinginannya pada Jimmy. Ia meminta Jimmy untuk mencari tahu informasi pribadi tentang Bastian dan juga memberi peringatan pada pria itu, agar ia tidak lagi mengganggu Safira, istrinya.


☆ ☆ ☆


"Safira? Apa yang kau lakukan di sini?" tanya Dev. Ia kini berdiri di depan pintu dapur, menatap ke arah Safira.


"Aku akan memasak makan malam, Kak," jawab Safira sambil membuka kulkas, mencari bahan-bahan makanan yang ia butuhkan.


"Sepertinya, aku harus belanja besok," gumam Safira, karena persediaan bahan makanan yang semakin menipis.


Dev menghela nafasnya, lalu berjalan mendekati Safira.


"Besok, aku akan bicara pada Ayah, dan meminta Bibi Laras untuk membantumu di sini," ucap Dev tersenyum. Safira tidak menjawab apapun, ia hanya menanggapinnya dengan senyuman.


"Permisi, Tuan," ucap Jimmy. Dev dan Safira menoleh secara bersamaan ke arah pria itu.


Jimmy memberi isyarat pada Dev. Dev pun langsung mengerti dan melangkah ke luar dari dapur.


"Mungkin ada pekerjaan mendadak," gumam Safira sambil menatap kedua pria yang berjalan menjauh darinya.


"Ini, Tuan. Saya sudah mendapatkan semua informasi tentang pria yang Tuan maksud," ucap Jimmy lalu menyerahkan beberapa lembar kertas yang berisi data pribadi Bastian.


"Aditya Bastian Wijaya?" ucap Dev yang membaca nama lengkap Bastian.


"Iya, Tuan. Sebenarnya nama panggilannya bukan Bastian. Nama Bastian itu terkenal saat ia menjabat sebagai ketua osis di sekolahnya, dan jika dikehidupan sehari-hari. Ia lebih dikenal dengan nama Adit," jelas Jimmy. Dev hanya mengangguk tanda mengerti.


"Lalu, Henry?"


"Menurut beberapa orang yang tinggal di dekat rumah Bastian mengatakan, bahwa Henry dan Bastian itu satu ibu, dan beda Ayah. Ayah Henry sampai sekarang tidak diketahui siapa, karena Ibunya menjadi korban permerkosaan. Sementara Bastian, ia juga dilahirkan tanpa diketahui siapa ayahnya," jawab Jimmy sambil menatap layar Hpnya.


"Baiklah, aku akan membaca semuanya nanti." Dev melipat semua kertas-kertas itu, lalu menaruhnya di laci kerja Jimmy. Sementara Jimmy, pria itu kembali mendudukan dirinya di depan laptop, melanjutkan pekerjaannya yang tertunda karena mencari informasi pribadi tentang rival Tuannya.